Memilih Nama Produk Properti

HANDI IRAWAN D Chairman Frontier Consulting Group Twitter: @handiirawanD
HANDI IRAWAN D
Chairman Frontier Consulting Group
Twitter: @handiirawanD

Nama-nama produk properti di Indonesia, selama 15 tahun terakhir ini, tiba-tiba bertambah semakin keren. Maklum, sebagian besar menggunakan nama-nama kota di Eropa, Amerika atau Jepang. Kalau bukan nama kota, digunakanlah nama-nama dalam bahasa Inggris.

Tren ini terjadi karena tidak bisa dimungkiri bahwa rumah atau apartemen di negara maju merupakan impian dan inspirasi bagi orang Indonesia. Rumah seperti di Amerika atau apartemen bergaya Eropa‎ atau model minimalis Jepang menjadi sebuah kebanggaan bagi sebagian besar kelas menengah-atas masyarakat Indonesia.

Apakah nama-nama keren ini selalu baik? Tentunya sangat tergantung dari target pasar yang akan dibidik. Kelas menengah-bawah mungkin tidak memerlukan nama-nama yang berbau asing.

Mereka lebih memilih nama yang sesuai dengan keaslian Indonesia. Atau, mereka dari golongan yang superkaya justru lebih senang dengan nama otentik Indonesia yang berbau budaya atau sejarah.

Namun, yang lebih problem lagi adalah kalau pemilihan namanya tidak sesuai. Banyak perusahaan properti memiliki nama keren, tetapi kemudian, produknya tidak sesuai dengan namanya. Inginnya bergaya mediterania, misalnya, ternyata arsitektur dan lingkungan kawasan tidak menunjang sama sekali.

Kriteria Memilih Nama

Adakah panduan sistematis untuk memilih nama perusahaan properti dan nama produk properti? Atau, adakah kriteria yang harus diperhatikan untuk memunculkan berbagai alternatif nama dan kemudian memilih yang terbaik?

Maklum, salah satu pekerjaan bagi marketer di industri properti yang penting adalah memilih nama untuk produk properti. Ini bisa mencakup nama tower apartemen atau perkantoran, nama cluster atau nama zona tertentu. Harapannya, nama yang baik akan menciptakan image yang baik di mata prospek dan mendorong prospek untuk memiliki preferensi terhadap produk properti.

Terlebih, banyak properti dijual saat masih berupa tanah kosong. Mereka hanya menjual dengan menggunakan gambar peta, maket, miniatur atau (yang sudah lumayan) ada rumah atau unit contohnya. Jadi, peran nama sudah pasti sangat penting.

Prospek akan membayangkan bahwa dia tinggal di apartemen dengan nama yang baik dan kelak terasa enak disebutkan bila ada yang bertanya di mana mereka tinggal.

Ada 5 kriteria pokok dalam memilih nama dan ini juga bisa diaplikasikan untuk bisnis properti:

Pertama, sebuah nama yang baik adalah nama yang mudah diingat dan mudah diucapkan. Untuk kriteria pertama ini, rasanya tidak sulit bagi pemain properti untuk memilih. Nama yang baik, biasanya terdiri dari 2-4 kata. Kenyataannya, 90% merek-merek top di seluruh dunia adalah nama yang terdiri dari 2-4 kata.

Kedua, nama haruslah unik. Ini kriteria yang semakin tidak mudah. Mencari nama yang mudah diingat dan diucapkan, tetapi relatif unik, sudah semakin tidak mudah.

Misalnya, apartemen atau cluster yang menggunakan nama-nama bunga dalam bahasa Inggris atau nama-nama negara atau kota di luar negeri, banyak yang sudah tidak unik. Perlu survei kecil untuk memastikan: apakah nama-nama yang akan dipakai tidak banyak digunakan oleh pengembang lain.

Ketiga, nama yang baik haruslah relevan. Barangkali, inilah kriteria yang paling penting. Oleh karena itu, perusahaan pengembang‎ harus menentukan strategi positioning. Jangan sampai, antara desain dan tema properti ternyata tidak relevan atau tidak berkorelasi dengan namanya.

Kalau nama cluster kita adalah Kobe, Tokyo, Osaka, atau nama sejenis, prospek pasti berpikir bahwa desainnya ada hubungan dengan budaya Jepang. Bila nama yang dipilih New Castle, Anfield, Scotch, dan sejenisnya, prospek akan berpikir bahwa tema properti berhubungan dengan budaya Eropa.

Tidak mengherankan kalau nama pusat perbelanjaan atau rumah sakit sering kali juga menggunakan nama area, terutama bila areanya memiliki citra yang baik. Menteng dan Pondok Indah, misalnya, bila digunakan sebagai nama sudah pasti menjadi pilihan nama yang baik. Mudah diingat, unik, dan relevan. Sekaligus, tiga kriteria sudah dilalui.

Keempat, nama untuk properti yang baik harus transferable antar-geografis. Perlu sedikit upaya untuk mengecek apakah nama tersebut memiliki arti yang berbeda di daerah-daerah Indonesia.

Kelima, apakah nama tersebut bisa didaftarkan sebagai merek. Kalau itu adalah nama untuk pengembang, nama pusat perbelanjaan atau nama untuk agen properti, maka nama tersebut akan menjadi merek dan perlu didaftarkan untuk mendapat perlindungan. Nama yang sudah menjadi merek akan menjadi intellectual property yang berharga.

Kalau nama itu sekadar nama dan tidak akan menjadi merek, atau memang nama yang tidak bisa didaftarkan sebagai merek karena nama negara atau nama kota, tentunya kriteria kelima ini tidak relevan lagi. Selamat memilih nama untuk proyek properti Anda berikutnya. Property-In.co

About The Author

Related posts