Lima Benua dan Negeri Sakura

Property-In.co – Lokasi ini dulu hanya dipandang sebelah mata. Namun, berkat kerja sama tiga pengembang dan Pemprov Tangerang, kawasan tersebut kini sangat diperhitungkan. Perekonomian Indonesia yang lesu darah setahun belakangan ini berdampak besar terhadap perkembangan sektor bisnis properti.

Terkulainya kurs rupiah—hingga nilainya di atas Rp14.000 per 1 dolar AS —membuat penjualan properti kian merosot. Namun, agaknya hal itu tidak terlalu berimbas pada proyek-proyek Agung Sedayu Group.

Sebagai salah satu pengembang besar di Indonesia, Agung Sedayu telah membuktikan kepiawaiannya dalam menghadapi masa krisis. Tolok ukurnya, krisis moneter 1998. Carut marut ekonomi yang mendera Tanah Air saat itu hampir sama sekali tidak berpengaruh terhadap penjualan proyek Pantai Indah Kapuk besutan mereka.

“Tidak ada istilah lesu ekonomi buat kami,” ujar Deddy Sugianto, Sales Manager Agung Sedayu Group kepada Property-In di kantornya di kawasan Cipondoh, Tangerang, bulan lalu.

Dalam kaca matanya, kelesuan ekonomi tidaklah serta-merta mencerminkan bahwa masyarakat tidak memiliki uang untuk membeli properti. Mereka hanya menunggu. “Kalau ada pengembang yang menawarkan prospek serta konsep yang memang bagus, mereka pasti beli,” tutur Deddy.

Hal ini dibuktikan Agung Sedayu lewat proyek anyarnya, Green Lake City, yang terletak di kawasan Cipondoh, Tangerang. Alih-alih sales-nya turun, Agung Sedayu malah berhasil menorehkan penjualan gemilang di proyek tersebut.

Total 6.000 unit di Green Lake City ludes terjual dalam tempo dua tahun. Sementara itu Green Village, proyek perluasan Green Lake City yang launching pada Oktober 2014, saat ini sudah membukukan penjualan sebanyak 50% dari total 700 unit.

Merangkul End User

Green-lake-city-CBD
CBD Green lake city

Tidak ada asap jika tak ada api. Seperti itulah gambarannya. Konsep serta pemilihan lokasi yang jitu menjadi musabab kenapa proyek-proyek mereka selalu laris manis di pasaran, tak terkecuali Green Lake City.

Cipondoh yang dipilih menjadi lokasi memang masih cukup asing bagi para pemain properti di Indonesia.

Jika dilihat dari arah Kosambi, wilayah ini tampak kurang menarik. Namun, hal itu bakal berbeda jika dilihat dari arah Karang Tengah.

Dibukanya pintu Tol Jakarta-Karang Tengah pada awal September membuat aroma investasi di Green Lake City kian harum semerbak.

Proyek tol konsorsium antara Pemprov Tangerang dengan tiga pengembang besar—Agung Sedayu, Metland dan Metro—itu sengaja dibangun sebagai akses masuk langsung ke wilayah ini.“Sebentar lagi malah akan dibuka yang dari Tangerang-Karang Tengah,” kata Deddy.

Menurutnya, pembukaan pintu tol ini akan membuat peluang investor memperoleh gain jadi lebih besar. “Jika dulu peningkatannya sudah 20%, mungkin saat ini bisa mencapai 30%.”

Deddy lalu menjelaskan simulasi peningkatan gain untuk wilayah Green Lake City. Waktu launching (2010), harga rumah ukuran 4 x 12 m hanya 55o juta. Sekarang harganya sudah melonjak dua kali lipat.

Sedangkan rumah paling kecil di Green Village, saat diluncurkan pada 2014 harganya 1 miliar, tapi Agustus lalu sudah 1,2 miliar. Nah, sekarang dengan dibukanya tol Jakarta-Karang Tengah, harganya diprediksi telah menyundul 1,3 milliar.

Artinya, dalam kurun 3-5 tahun, gain di wilayah ini sudah mencapai 100%. “Inilah yang menjadi brand image kami. Beli Agung Sedayu, pasti cuan,” klaim Deddy. Ia menambahkan, mereka yang dulu melihat wilayah ini sebelah mata sekarang menyesal kenapa tidak beli rumah di sini.

Meski begitu, Agung Sedayu tak berharap hanya para investor saja yang membeli unit-unit mereka. Pasalnya, tanpa end user suatu kawasan nanti hanya akan menjadi kota mati: ada bangunan, tapi tak berpenghuni. “Ini malah bisa membuat para investor enggan berinvestasi,” tutur Deddy.

Untuk mencegah hal itu, mereka menawarkan skema pembelian dengan down payment yang bisa dicicil selama 23, 36 atau 48 kali. Strategi tersebut digunakan untuk merangkul pasar end user—dan ini terbukti berhasil. Menurut Deddy, jumlah investor di sana hanya 20%, sisanya semua end user.

Dengan begitu, katanya, Green Lake City akan jadi magnet kuat bagi para investor untuk berinvestasi. Porsi yang sudah dibagi antara investor dan end user menjadi strategi ampuh yang membuat penjualan proyek mereka tetap laris manis.

Konsep dan Fasilitas

Green-lake-city
Magnolia Green lake city

Kekuatan lokasi serta akses yang mumpuni memang merupakan salah satu daya tarik utama bagi investor berinvestasi di Green Lake City.

Namun, di sini Agung Sedayu bukan cuma berpatokan pada hal itu. “Kami tidak hanya menjual lokasi, tapi juga konsep dan fasilitas,” tutur Deddy.

Dia menuturkan, lahan seluas 150 hektar—yang ditambah 15 hektar di Green Village—ini bakal disulap menjadi sebuah kota mandiri.

Rencananya tepat di jantung Green Lake akan dibangun central bussines district (CBD) yang terdiri dari mal, apartemen, perkantoran, rumah sakit dan universitas.

Selain itu, tema lima benua pun dihadirkan untuk mempercantik tampilan perumahan.

Nama-nama klaster di sana dibuat sesuai nama benua, antara lain klaster Europe, West Europe, Amerika Latin, Amerika dan Asia—gaya rumah maupun rukan di setiap klaster pun disesuaikan dengan nama benua yang disematkan. Misalnya, di klaster Europe ada bangunan mirip Menara Pisa.

Mereka juga menghidangkan fasilitas khusus di setiap klaster. Masing-masing klaster punya club house, swimming pool, dan jogging track. “Ini super fasilitas namanya. Jadi, pemilik rumah tidak perlu berjalan jauh untuk menikmatinya,” Deddy menerangkan. Ia berujar, total investasi untuk fasilitas di setiap klaster berkisar 15-20 milliar.

Sementara itu, konsep yang diusung oleh Green Village adalah nuansa sakura. Lahan seluas 15 hektar ini rencananya akan dibuat seindah bunga sakura di Jepang. “Jadi ada taman sakuranya, dan rumah-rumah ala Jepang nanti,” imbuh Deddy.

Dalam perencanaan jangka panjang, Green Lake City nanti akan disokong oleh perumahan Agung Sedayu lain. Mereka akan membangun dua proyek yang berdampingan dengan Green Lake, yakni Green Puri 2 dan Green Puri 3.“Pengembangannya masih panjang, sekitar 5-10 tahun lagi,” imbuh Deddy.

Tampaknya konsep, akses, serta fasilitas super yang disuguhkan Agung Sedayu menegaskan bahwa lokasi bukanlah satu-satunya fundamental. Strategi jitu serta konsep yang menarik tentu dibutuhkan jika ingin sukses memasarkan suatu proyek properti. – Fajar Yusuf Rasdianto

About The Author

Related posts