December 01, 2021

KPR, LTV dan Rumah Inden: Properti Bisa Kembali Booming

Segambreng stimulus sudah diberikan. Akankah properti keluar dari kelesuan? 

Oleh: Fajar Yusuf Rasdianto

Dunia properti boleh bergembira. Sejumlah kebijakan baru digulirkan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk menggairahkan industri properti. Mulai dari penurunan BI Rate, pelonggaran LTV (loan to value), tax amnesty, peringanan PPh, perubahan suku bunga acuan, hingga diperbolehkannya lagi KPR untuk rumah indeen kedua, ketiga dan seterusnya. Hal ini diyakini banyak pihak bakal mengangkat kembali bisnis properti di Indonesia. Semua kebijakan tersebut dianggap sebagai ‘bom waktu’ yang akan ‘meledakkan’ properti seperti periode 2012-2013 silam.

property-04“Kebijakannya sudah bagus. Namun yang jadi problem itu, implementasinya sudah benar atau belum?” kata Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch, menanggapi beragam stimulus yang diberikan pemerintah untuk industri properti.

Komentar Ali bukan tanpa alasan. Selama ini, pemerintah memang gencar membuat kebijakan, tapi penerapannya tidak pernah maksimal. Implementasi dari kebijakan-kebijakan itu sering mentah di lapangan.

Seperti contoh terbaru, yakni penggantian suku bunga acuan BI Rate menjadi BI 7-day Repo Rate. Dalam keterangan tertulis BI di situs www.bi.go.id, pergantian suku bunga acuan ini semestinya sudah berlaku pada 19 Agustus 2016. Namun,  kenyataannya, banyak bank konvensional yang masih menggunakan BI Rate sebagai suku bunga acuan.

“Belum (menggunakan BI 7-day Repo Rate). Mungkin baru tahun depan. Itu ‘kan tidak mudah,” ujar Dewi Damajanti Widjaja, Senior Vice President, Head Mortgage PT Bank Permata Tbk.

Menurut Dewi, perubahan suku bunga acuan ini tidak bisa serta merta langsung diaplikasikan. Perlu kajian khusus dan mendalam dari pihak bank, baik swasta dan pelat merah, untuk menerapkan perubahan itu.

Memang, sebagai sebuah institusi yang memiliki struktur mendalam, perbankan tidak bisa dengan begitu saja mengubah pola bunga kreditnya. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Terlebih, hal ini berkaitan erat dengan margin keuntungan yang bakal diperoleh. Wajar jika hingga dua bulan kebijakan ini berjalan, tidak terdengar satu pun kabar bahwa sudah ada bank yang menerapkan BI 7-day Repo Rate sebagai suku bunga acuannya.

BI tampaknya masih perlu bekerja keras agar BI 7-day Repo Rate agar segera dijalankan. Sebab, jika hal ini tidak dilakukan, konsumenlah yang dirugikan. Padahal, acuan ini cukup baik dan pasti cukup berpengaruh pada meningkatnya pertumbuhan nilai kredit perbankan, karena suku bunga yang lebih rendah ketimbang BI Rate.

Pages: 1 2 3

About The Author

Related posts