Kawasan Kelapa Gading Antara Mitos, Hoki, dan Investasi

Kawasan bisnis di Jakarta Utara ini kerap dikaitkan dengan mitos “kepala naga”. Tidak heran, sekalipun kerap dilanda banjir, kawasan ini dipercaya dapat memberikan hoki bagi siapa saja yang tinggal dan memiliki bisnis.

Property-In.co – Dalam buku Mitos dan Legenda China (2008) karya E.T.C Werner, disebutkan bahwa naga adalah roh air. Di China, naga bukanlah kekuatan yang jahat melainkan kekuatan untuk memberikan berkah karena menghasilkan hujan. “Naga mengendalikan hujan sehingga kekuasaannya mencakup kemakmuran dan kedamaian,” tulis Werner. Tafsiran mitos ini seakan-akan membenarkan bahwa daerah Kelapa Gading yang dulunya rawa (air) dan kini sering banjir selalu dimaknai keberkahan bukanlah kesengsaraan.

Meski begitu, Direktur PT Agung Podomoro Land Tbk Matius Yusuf kurang sependapat dengan mitos “kepala naga” itu. Menurut dia, Kelapa Gading memberi hoki bukan lantaran mitos, tapi letaknya yang strategis sehingga dianggap sebagai pusat bisnis yang menguntungkan.

Matius mengatakan, hampir di seluruh negara di dunia, kawasan yang berada di bagian utara dijadikan pusat bisnis oleh pemerintah karena berdekatan dengan pelabuhan atau bandara. “Di seluruh dunia, bagian utara pasti jadi areal bisnis yang bagus,” kata Matius kepada Property-In akhir bulan lalu.

Posisi Kelapa Gading juga berada di utara Jakarta, tepatnya timur laut. Pada 1970-an, sebelum pengembang properti Summarecon Agung menyulap daerah itu, Kelapa Gading dulunya rawa dan persawahan. Kini daerah itu menjadi kawasan hunian dan bisnis. Sejumlah pengembang, termasuk PT Agung Podomoro PT Bangun Cipta Sarana, PT Graha Rekayasa Abadi, PT Pangestu Luhur, PT Nusa Kirana, Agung Sedayu berlomba memasuki kawasan ini.

Tak ayal, kini Kelapa gading tumbuh menjadi kota mandiri yang disesaki dengan sejumlah pusat bisnis dan hunian bergengsi dengan segala macam pendukungnya, seperti Mal Kelapa Gading, Mal Artha Gading, dan Mall of Indonesia (MOI). Ratusan ruko berjajar di sepanjang jalan utama. Sekitar 65% penduduknya adalah warga keturunan Tionghoa.

Direktur Utama Summarecon, Johanes Mardjuki mengatakan Sumarecon sendiri berani mengklaim, kawasan ini memiliki nilai investasi yang tinggi dari sisi hunian dan bisnisnya. Maka, tak heran bila kawasan ini seakan tidak akan pernah mati dalam investasi. Lihat saja dari sisi hunian, Kelapa Gading merupakan hunian yang mampu memberikan pengalaman yang utuh bagi keluarga dengan penuh keseimbangan. Perkembangan kawasan perumahan yang menerapkan konsep kota di dalam kota (city within a city).

“Hal ini jelas dilatarbelakangi oleh tuntutan masyarakat akan kenyamanan yang semakin besar. Itulah faktor utama pertimbangan masyarakat dalam memilih lokasi tempat tinggal di samping memiliki fasilitas umum yang lengkap,” kata Johanes.

Perkembangan Summarecon Kelapa Gading (dulu disebut Kelapa Gading Permai) yang pesat serta pertumbuhannya menjadi sebuah kota satelit tak pelak menjadikan kawasan ini sangat diminati orang untuk menetap dan membuka usaha. Orang cenderung tinggal di kota atau daerah yang memberikan fasilitas lengkap. Intinya mereka tidak mau jauh-jauh dari kegiatan hidup sehari-hari seperti bekerja, berbelanja, kegiatan sosial, beribadah, dan sekolah.
The-Kensington Kelapa Gading
Jika menengok 30 tahun silam, jangankan menarik orang untuk datang dan tinggal, keadaan Kelapa Gading yang masih berawa-rawa justru membuat orang memalingkan muka. Tapi, lihatlah Kelapa Gading sekarang. Orang bukan lagi sekadar ingin tinggal, bahkan sudah berebut untuk membuka usaha di sana.

Lebih dari itu, fasilitas yang serba ada dan pengalaman-pengalaman para penghuni berhasil menahan warga Kelapa Gading untuk tidak berpaling ke daerah lain. “Ya, itulah Kelapa Gading, bekas rawa-rawa yang terus berkembang menjadi kota yang benar-benar hidup.

Kelapa Gading saat ini sudah tumbuh menjadi suatu kawasan yang maju, dihuni oleh sekitar 25.000 keluarga dengan perputaran uang sebesar Rp25 triliun per tahun,” kata Johanes.

Inovasi
Seperti yang dilansir dalm laman Summarecon.com, inovasi adalah jiwa yang memungkinkan suatu bisnis dapat sustainable—seberat apapun kompetisi yang dihadapi. Bagi perusahaan sebesar Summarecon, inovasi yang terus-menerus dengan memperhatikan perkembangan pasar selalu menjadi nilai lebih setiap produk properti yang dikeluarkan.

Inovasilah yang memungkinkan Summarecon Kelapa Gading, kawasan 500-an hektar, bermetamorfosis dari sebuah daerah tradisional menjadi sebuah kawasan modern seperti sekarang dan memiliki potensi yang tak tertandingi. Inovasi ini terlihat dari adanya “something new” dan “something different” dari setiap proyek baru yang diluncurkannya.

Contoh produk perumahan masterpiece yang memperkokoh Summarecon Kelapa Gading sebagai kawasan yang memberikan family experience bagi setiap penghuninya adalah Bukit Gading Villa. Perumahan mewah seluas 70 hektar ini ditandai dengan pengaturan lansekap yang indah, tata ruang bagus, dan diperkenalkannya konsep village committee.

“Kesemuanya ini menjadikan kompleks perumahan yang didirikan pada 1988 ini sangat diminati dan meraih harga tertinggi di antara kawasan realestat di Jakarta pada 2002,” kata Johanes.

Gading Park View, sebuah perumahan hasil garapan Summarecon lainnya juga memiliki konsep rumah taman bersama. Konsep perumahan ini memiliki taman¬taman besar bersama yang dikelilingi oleh beberapa rumah. Dengan demikian, para penghuni bisa menikmati langsung taman bersama tersebut.

Sesuai dengan konsep yang diusungnya, 60% dari lahan Gading Park View digunakan sebagai taman yang luas dan modern. Perumahan yang dipasarkan sejak bulan Mei 2003 ini hanya terdiri dari 138 unit rumah ditambah dengan 38 unit rukan. Jadi, benar-benar terbatas dan eksklusif.  “Eksklusivitas adalah kuncinya” jelasnya.

Masterpiece persembahan Summarecon Kelapa Gading adalah Grand Orchard, kawasan yang memadukan gaya arsitektur modern dengan konsep green living yang unik. Dikatakan unik karena kawasan baru seluas 40 hektar ini menghadirkan sebuah konsep kawasan ’hijau’ yang sangat berbeda dengan yang sudah ada. Melalui sistem drainase dengan folder system memungkinkan kawasan ini mengelola sistem tata airnya secara mandiri, termasuk penyerapannya, tanpa tergantung pada lingkungan sekitar (zero sum concept).

Efek Banjir
Tidak disangsikan, setiap tahun, Jakarta selalu terancam banjir. Kalau sudah banjir, hampir semua wilayah Jakarta tanpa terkecuali tergenang oleh air, seperti waktu banjir besar yang melanda Jakarta pada 2002. Dengan adanya banjir, harga tanah di Kelapa Gading memang sempat turun. Namun, hal ini tidak berlangsung lama karena kemudian harga pulih kembali, bahkan merambat naik.

“Tahun 1997, misalnya, seseorang yang membeli tanah seluas 200 m2 seharga Rp425 juta, kini harga tanah tersebut sudah melonjak menjadi Rp 1,2 miliar,” kata Johanes dalam laman resminya.

Komitmen Summarecon untuk menata kembali lingkungan Kelapa Gading tidak perlu diragukan lagi. Pengelolaan waduk sendiri berada di bawah divisi Estate Management dan Summarecon memiliki 10 operator yang bekerja 24 jam secara bergiliran (shift). Semuanya itu untuk kepentingan seluruh warga kawasan Kelapa Gading, bukan sekadar kepentingan Summarecon saja.

Grand-Whiz--Kelapa-Gading
Grand Whiz Kelapa Gading

Tak heran jika harga tanah pun terus melonjak dari tahun ke tahun. Harga tanah di Bukit Gading Villa misalnya, pernah mencapai Rp8 juta/m2 pada 2002. Sekarang harganya tentu akan semakin menggila.

Saat ini misalnya, broker properti baik waralaba maupun lokal sudah mencapai 40 perusahaan di Kelapa Gading. Nilai transaksinya jangan ditanya, tidak kurang dari Rp2-3 triliun setahun.

Jumlah ini terbilang fantastis karena setara dengan seperempat dari total transaksi properti oleh seluruh agen properti nasional yang jumlahnya diperkirakan mencapai Rp11,5 triliun.

Inilah berkah kepala naga. Kepala naga? Lepas dari benar-tidaknya mitos dan kepercayaan di atas, sejak lama kawasan Kelapa Gading sudah diyakini sebagai daerah bagus dan selalu membawa hoki—baik sebagai tempat tinggal maupun tempat berusaha. Daerah ini diyakini oleh  warganya memiliki feng shui yang bagus dan menguntungkan.

Naik 300%
Belum lama ini Johanes Mardjuki mengungkapkan, harga properti di Kelapa Gading telah meningkat drastis dalam dua tahun terakhir. Rata-rata kenaikan harga properti komersial dan residensial bisa mencapai 300% terutama untuk yang berlokasi di pusat kota.

“Dibandingkan kawasan lainnya, wilayah Kelapa Gading masih memiliki pamor yang tinggi sebagai tempat tinggal dan berinvestasi. Harganya naik pesat hingga tiga kali lipat dalam dua tahun terakhir,” katanya.

Menurut Johanes, perkembangan properti di Kelapa Gading meningkat signifikan dibandingkan Serpong dan Bekasi. “Meskipun tampaknya sudah padat, namun harga properti kawasan Summarecon Kelapa Gading selalu meningkat tajam. Berbeda dengan Summarecon Serpong atau Bekasi yang relatif tumbuh di kisaran 20-30% per tahun,” jelas dia.

Principal Ray White Kelapa Gading, David Tjandra, mengatakan kawasan Kelapa Gading masih menjadi pilihan banyak pengusaha untuk berinvestasi dan berbisnis.

Faktor fengshui dan kepala naga masih menjadi motivasi bagi warga untuk mencari keberuntungan di wilayah ini. “Bahkan, untuk menopang pesatnya pertumbuhan properti komersial di Kelapa Gading, sejumlah wilayah terdekat seperti Pulo Mas, Cempaka Putih, dan lainnya, mulai banyak proyek perkantoran,” jelas David.

Dia menjelaskan, permintaan perkantoran di kawasan Kelapa Gading diprediksikan tumbuh pesat sehingga mendorong kenaikan di atas 20% tahun ini. Tingginya permintaan didorong berkurangnya pasokan ruko dan menara perkantoran terutama di lokasi strategis.

Stok ruko dan ruang perkantoran di sepanjang jalan raya Boulevard dan Grand Orchard sudah mulai habis. Sebaliknya, permintaan pebisnis untuk membuka usaha di Kelapa Gading cukup tinggi. Alhasil, properti komersial seperti ruko dan perkantoran bakal naik sebesar 20% dari harga pasaran Rp25 juta per meter persegi. Caca Casriwan/dari berbagai sumber

()

About The Author

Related posts