Harga Rumah Tidak Terkontrol

Property-In.co – Ada fenomena menarik di negeri yang harga propertinya termasuk paling mahal ini. Pada November 2014, harga rumah di Hong Kong telah menembus rekor tinggi selama tujuh bulan berturut-turut. Indeks harga rumah pribadi bulan itu naik 3,7 poin. Namun, jika ditotal dari bulan-bulan sebelumnya, akumulasi lonjakannya menjadi 274 poin. Ini merupakan indeks keuntungan tertinggi bagi para pengembang selama kurun waktu tersebut.

Harga rumah di Hong Kong naik 12% dalam 11 bulan sepanjang 2014. Menurut data pemerintah, Sun Hung Kai Properties—salah satu pengembang terbesar di sana—mampu menjual 300 unit rumah kecil dan menengah hanya dalam kurun sembilan jam saat peluncuran. Namun, pengembang tersebut mengakui unit yang terjual waktu itu sudah diberikan potongan harga hingga 10,5%.

Saat ini para pengembang di Hong Kong gencar menawarkan diskon untuk memikat pembeli, tapi pemerintah juga menjalankan sejumlah langkah antisipasi untuk menghindari ancaman bubble properti. Dengan cara-cara seperti itu, para analis memperkirakan permintaan unit-unit hunian bakal terus meningkat . Strategi itu akan tetap dipakai developer guna mendongkrak penjualan selama 2015.

Joanne-Lee,-Manager-Research-Colliers-International-Hong-Kong
Joanne Lee, Manager Research Colliers International Hong Kong

“Para pengembang bakal terus memberikan diskon dan insentif serta melanjutkan cara itu  untuk menggaet konsumen end-user,” kata Joanne Lee, Manager Research Colliers International Hong Kong. Ia meramalkan, harga rumah akan naik 3-5% pada 2015.

Langkah Pendingin
Secara keseluruhan harga penjualan properti di Hong Kong sebelumnya sempat menurun pada 2013. Itu terjadi lantaran pemerintah mengambil sejumlah kebijakan untuk mengendalikan harga properti yang semakin tidak terkendali.

Pada akhir 2009, bekas koloni Inggris tersebut meluncurkan langkah pertama dari serangkaian antisipasi: mereka menaikkan dua kali lipat harga materai dalam transaksi perumahan—menjadi 8,5% dari nilai penjualan.

Centaline Property mengatakan, total nilai transaksi pada 2014 untuk rumah baru di Hong Kong merupakan yang tertinggi sejak 1996 (saat lembaga tersebut mulai melakukan pencatatan).

Salah satu sebab yang paling menonjol adalah diskon gila-gilaan yang mampu menarik minat konsumen. Cara tersebut diakui berdampak positif bagi penjualan properti. Namun, di sisi lain, juga membuat harga semakin tidak terkontrol dan jika terlalu lama didiamkan bakal menimbulkan gejolak bubble.

Fenomena bubble memang sangat mungkin terjadi di Hong Kong. Faktor utamanya: harga-harga properti yang tidak terawasi dengan baik oleh pemerintah. Harga rumah di sana telah melonjak 120% sejak 2008 akibat suku bunga rendah, kekurangan pasokan, dan flush likuiditas. Maka, wajarlah bila pemerintah mengantisipasinya dengan menaikkan pajak penjualan. aziz fahmi hidayat

About The Author

Related posts