Investasi Membidik Komunitas Pekerja

Property-In.co – Pelbagai keuntungan ditawarkan oleh hunian ini. Mulai dari kemudahan cara bayar hingga fasilitas penunjang komunitas pekerja. Wajar bila hal itu menggoda end user dan investor.

Pada 27 Oktober lalu, Badan Penyelanggara Jaminan Sosial (BPJS) menjalin kerja sama dengan PT Tabungan Bank Negara Tbk (BTN) dalam rangka penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bagi para pekerja yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Tingkat bunga yang dijanjikan dalam pembiayaan perumahan pekerja sebesar 10,5% dengan masa kredit sampai 20 tahun.

Penandatangan kesepakatan ini pun langsung direspons oleh pengembang-pengembang yang membidik segmen para pekerja. Salah satunya PT Kopel Lahan Andalan (Kopelland), anak perusahaan Koperasi Pegawai Bulog Seluruh Indonesia (Kopelindo), yang memang memiliki misi untuk mengembangkan perumahan rakyat.

“Dengan adanya kerja sama itu, kami mendorong para pekerja yang memiliki take home pay Rp7 juta agar dapat memiliki hunian apartemen,” kata Michael, General Manager Marketing Kopelland seusai agent gathering di Hotel Amaroossa, Bekasi Barat.

Kopelland sendiri sebenarnya bukan pemain baru di industri properti. Sejumlah portofolio telah mereka cetak antara lain H Residence Kemayoran dan CBD Ciledug. Namun, beberapa tahun belakangan, pengembang yang induknya memiliki saham terbesar kedua di Bank Bukopin ini mengubah haluan untuk lebih fokus ke perumahan rakyat atau komunitas pekerja.

Demi mewujudkan misi tersebut, Kopelland mengembangkan kawasan terpadu bernama Kota Swarnabumi Cikunir di daerah Jati Asih, Bekasi. Tidak tanggung-tanggung, mereka akan membangun 6 tower apartemen, area retail dan area komersial di lahan seluas 2,9 hektar. Sebagai debut pertamanya, segera diluncurkan apartemen tower B setinggi 38 lantai yang terdiri dari 1.062 unit. Kota-Swarnabumi

Harga unit-unit apartemen ini dibanderol antara Rp270 juta hingga Rp450 juta. Dengan angka itu, Kopelland menargetkan revenue sebesar Rp2 triliun untuk semua tower.

Pemilihan wilayah Jati Asih sebagai bidikan investasi Kopelland pun bukan tanpa perhitungan. Michael menuturkan bahwa Jati Asih sebenarnya memiliki potensi berkembang, namun sayangnya belum ada pengembang besar yang mengakses daerah ini.

“Kami pengembang besar kedua yang masuk di daerah Jati Asih. Sebelumnya sudah ada CT Corp yang akan membangun Trans Studio seluas 100 hektar tepat di seberang lokasi kami.”

Jati Asih, lanjut Michael, memiliki lokasi yang sangat strategis. Letaknya, yang berada dekat dengan kawasan industri Karawang dan Cikarang, membuat peluang untuk membidik kalangan pekerja menjadi terbuka lebar.

”Kebanyakan orang yang bekerja di sana tidak ingin anak-anaknya tumbuh di daerah Industri. Mereka ingin mencari hunian yang lebih layak dan tidak dekat dengan pabrik.”

Bukan cuma lokasi, akses juga menjadi daya tarik Cikunir-Jati Asih. Michael kemudian menceritakan pengalaman pribadinya. “Lokasi kami berada 500 meter dari exit toll dan berada di Jalan Raya Cikunir.

Saya sudah cek pada pada jam 7 pagi, saya hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk menuju KBN Cakung. Kalau ingin ke kawasan industri Tanjung Priok tinggal ditambah 15 menit lagi,” papar Michael.

Beragam Fasilitas dan Kemudahan
Sesuai dengan pangsa pasarnya, komunitas pekerja, pengembang berencana menciptakan beberapa fasilitas guna mendukung aktivitas para pekerja. Pertama, bakal ada co-working space, yakni sebuah area khusus yang terkoneksi dengan internet.

“Sekarang waktu kerja orang sudah melebihi 8 jam. Dengan adanya area untuk bekerja, penghuni dapat mengirim e-mail di pagi hari sebelum ke kantor atau di malam hari setelah bekerja,” jelas Michael antusias.

Kedua, akan disediakan children day care sehingga para orangtua dapat menitipkan anaknya bila memang keadaan memaksa. Yang ketiga dan sedang dikejar pengembang adalah shuttle bus menuju titik transportasi massal di Bekasi. Ketiga fasilitas ini akan menjadi pelengkap fasilitas lainnya, yakni swimming pool dan jogging track.

Tak hanya fasilitas, kemudahan cara bayar juga ditawarkan oleh pengembang. “KPA selama 20 tahun dengan BI rate 7,5% ditambah 3% akan memudahkan konsumen. Ini adalah solusi untuk mengatasi kelesuan ekonomi, di mana sebenarnya orang masih membutuhkan residential tapi mereka lebih memilih untuk menyimpan uang mereka,” ujar Michael kepada Property-InKota-Swarnabumi_brosur

Lalu ia menjelaskan kemudahan cara bayar yang akan diberikan pengembang. Menurutnya, saat ini banyak biaya tak terduga yang dikeluarkan seseorang untuk pembayaran KPA. “Kami memiliki cara pembayaran khusus.

Jadi bulan pertama kasih uang Rp5 juta, bulan berikutnya Rp2,5 juta, lalu cicilan selama setahun Rp4 juta.

Setelah itu pembeli dapat memindahkannya ke bank dengan cicilan Rp3 juta. Jadi seperti yang saya bilang, gaji Rp7 juta tentu akan cukup asal pembeli mau menabung.”

Satu hal yang menjadi pertanyaan: apakah hunian ini cocok untuk investasi? Dengan yakin Michael menjawab bahwa apartemen ini juga sangat menarik bagi para investor. Argumennya, perolehan sewa apartemen yang sudah menutupi nilai cicilan tentunya menjadi suatu keuntungan.

“Kalau harga naik itu sudah biasa. Kita juga tidak usah mengawang-awang mendapatkan sewa Rp5 juta per bulan. Bayangkan saja sewanya Rp3 juta per bulan dan ini sudah menutupi cicilan. Jadi Anda bakal mendapatkan apartemen yang cicilannya sudah dibayar orang lain,” tutur Michael.

Michael menambahkan, nantinya 3-4 tahun mendatang, biaya sewa akan naik dan ini menambah keuntungan bagi investor. “Dalam 3 hingga 4 tahun ke depan sewa apartemen tentunya akan lebih dari Rp3 juta,” pungkasnya. – Richardus Setia Gunawan

About The Author

Related posts