Geliat Hotel di Pulau Dewata

Property-In.co – Pertumbuhan bisnis hotel di Bali tidak kalah banyak dengan jumlah wisatawannya. Pasar pun kini semakin cerdas dengan memilih hunian berkonsep hotel resort karena bernuansa rekreatif, lebih nyaman, dan memiliki pemandangan alam eksotik.

Panas yang menyengat sama sekali tidak mengurangi antusiasme Andy (19), turis asal Australia, berjemur di bibir pantai Kuta, Bali. Padahal, siang itu matahari terasa seperti sejengkal dengan kepala sehingga tubuh lajang kelahiran Brisbane tersebut basah dengan keringat.

Setelah asyik bermandikan sinar matahari, Andy membenahi pakaiannya dan berencana kembali ke penginapan.

Sembari berjalan pulang, saya bertanya di mana ia tinggal selama di Bali. Andy menyebutkan salah satu hotel resort yang cukup nyaman baginya. Kenapa tidak memilih hotel? “Hotel di Bali terlalu banyak dan padat, saya tidak nyaman,” jawabnya terbata-bata dalam Bahasa Indonesia.

Mandapa-Ritz-Carlton_Bali
Mandapa Ritz Carlton

Andy dan ribuan wisatawan asing lainnya datang ke Pulau Dewata memang bukan untuk mencari hunian saja. Kebanyakan dari mereka adalah para penikmat pantai, kuliner, dan belanja hingga kerap tidak terlalu mementingkan bagaimana dan seperti apa tempat bermalam mereka.

Namun tren yang terjadi kini, para pelancong tersebut sudah mulai aware dengan hunian yang akan ditinggali. Mereka tidak lagi sekadar mencari hotel dengan kualitas standar yang hanya memberikan layanan menginap.

Lebih dari itu, wisatawan menginginkan hunian dengan fasilitas, nuansa, sarana terbaik serta dekat dengan tempat shopping.

Satu jenis residensial yang tengah hit dan naik daun di Bali adalah resort. Resort sebenarnya tidak jauh berbeda dengan hotel karena sama-sama merupakan tempat tinggal yang disewakan untuk jangka waktu tertentu.

Namun resort cenderung lebih bernuansa rekreatif, menyajikan hiburan, sarana olahraga ataupun tempat berbelanja.

Berangkat dari situ, saat ini banyak pemain industri properti di Bali mengusung konsep penggabungan antara hotel dan resort untuk menyiasati keinginan pasar akan hunian berkelas.

Istimewanya lagi, hotel resort ini berdiri di lokasi yang bisa dinikmati pemandangan alamnya. Banyak resort yang berlokasi di tempat yang memiliki potensi alam bagus dan indah. Dengan fitur seperti itu, akhirnya resort menjadi incaran paling ideal para wisatawan selama berada di Bali.

Tumbuh Subur 

Sebagai salah satu tujuan paling favorit turis mancanegara, Bali dirancang dengan infrastruktur berupa hunian-hunian menarik berkomposisi lengkap mulai dari hotel, villa, resort, apartemen sampai guest house.

Khusus untuk hotel, berbagai kelas pun tersedia: bintang lima, empat dan tiga. Tahun ini adat beberapa hotel baru yang siap beroperasi dan dibarengi dengan sejumlah hotel lawas yang melakukan re-branding untuk meningkatkan daya saing serta brand mereka.

Keberadaan hotel-hotel baru tersebut tentunya membawa perubahan dari sisi konsep, fasilitas dan desain. Hal ini diyakini bakal menambah semarak potensi hunian sekaligus meminimalisir anggapan over supply hotel di Bali karena banyak penginapan asal jadi di sana.

The-New-Four-Points-Sheraton-Bali
The New Four Points Sheraton Bali

Soal itu, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pemukiman di Bali memang kerap dijadikan sebagai tempat tinggal bagi wisatawan sekalipun berkonsep guest house.

Akibatnya, standar kelayakan kurang diperhatikan dan kerap diabaikan, terutama dari segi kenyamanan tempat tinggal. Padahal, faktor kenyamanan merupakan prioritas utama yang paling dicari oleh wisatawan asing maupun lokal dalam mendapatkan tempat hunian ideal.

Dalam hal ini Sulkifly, Operation Manager Terminix, mengingatkan bahwa hotel atau penginapan mutlak menyediakan layanan kebersihan serta kenyamanan terbaik bagi konsumen.

Sebab, tidak jarang terjadi kasus di lapangan, ditemukan hewan-hewan pengganggu seperti tikus, semut, kecoa dan rayap. Tentunya keberadaan hewan-hewan tersebut sangat tidak diharapkan dan membuat nilai jual properti menurun.

“Kami selaku operator hotel di Bali sepakat untuk memberikan hunian yang nyaman bagi konsumen. Tidak hanya menyediakan fasilitas, tapi juga berpikir bagaimana menjaga kepercayaan konsumen,” timpal Agus Wibowo dari Harris Hotel Seminyak Bali.

Progresivitas pertumbuhan hotel di Bali memang masih terjaga hingga kuartal ketiga ini. Data Colliers International menyebutkan Ritz-Carlton merilis Mandapa—hotel keduanya di Bali—serta menyediakan 60 suite room dan villa. Kehadiran Mandapa turut meningkatkan persaingan hotel bintang lima di sana.

Seakan tak mau kalah dengan Ritz-Carlton, operator hotel lokal seperti Padma pun menghadirkan Padma Resort Ubud dengan ketersediaan 149 kamar.

Innaya Putri Bali, yang sebelumnya bernama Grand Inna Putri Bali, juga menambah pasokan unitnya sebanyak 460 kamar. Sekurangnya terdapat 16.965 kamar hotel bintang lima yang beroperasi di Bali hingga kuartal ketiga 2015.

Geliat yang sama juga terjadi pada hotel bintang 4 di Bali. Sepanjang 2015, tercatat 20.661 kamar di kategori bintang 4, untuk semester ketiga ini sumbangsih antara lain berasal dari Sadara Boutique Beach Resort di Tanjung Benoa sebanyak 80 kamar, kemudian The New Four Points dari Sheraton yang merupakan bagian dari Starwood Group (185 kamar) serta Rumah Luwih yang berlokasi di Gianyar (75 kamar).

Aldi Garibaldi, Senior Associate Director (Investment Service) Colliers International menyebutkan Bali masih memiliki daya pikat yang sangat menarik bagi pelaku industri properti untuk mengembangkan hunian—terutama bertipe hotel dan resort.

Bahkan beberapa di antaranya ada yang menggabungkan kedua konsep tersebut, kendati pada dasarnya sama-sama hotel juga. “Hotel di Bali masih bisa terus bertumbuh meski untuk tahun ini diakui tidak seperti tahun lalu di kuartal yang sama,” ujarnya.

Daerah HubHarris-Hotel-Seminyak-Bali
Pun begitu untuk urusan okupansi wisatawan. Dalam penjelasannya, Aldi mengatakan okupansi tahun ini belum mencapai level tertinggi jika dibandingkan tahun lalu.

Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama dari kondisi global, seperti terjadinya kenaikan nilai dolar terhadap rupiah sehingga imbasnya juga menyeret ke persoalan daya huni. Padahal sebagai destinasi wisata favorit, Bali mestinya tidak mengalami penurunan okupansi.

Selain menyoroti masalah perekonomian yang menjadi penghalang, Aldi juga melihat kurangnya perhatian pemerintah untuk memaksimalkan kekuatan Bali melalui pendayagunaan potensi wisatanya dengan menciptakan Bali sebagai daerah hub.

Yang ia maksud dengan daerah hub ialah adanya regulasi yang menjadikan Bali tujuan transit para turis yang hendak menuju Singapura, misalnya.

“Selama ini ketika ada pesawat ke Singapura, itu tidak transit di Bali. Padahal jika bisa transit di Bali, otomatis akan mempengaruhi okupansi hunian Bali,” katanya lagi.

Satu hal lagi yang menurut Aldi bisa menambah semarak tingkat hunian di Bali adalah dengan mendesain Bali sebagai tujuan MICE lokal dan internasional.

Event-event berskala internasional bisa menjadi strategi dalam merangkul pasar dalam kapasitas cukup besar. Terlebih, saat ini kondisi di Bali semakin nyaman selepas keberhasilan konferensi APEC beberapa waktu silam.

Geliat pertumbuhan hotel di Bali memang akan terus terjadi selama supply dan demand diperhatikan dengan cermat. Faktor supply diharamkan jika berangkat dari mengejar komersialisasi semata, hanya sekadar membangun tanpa memperhatikan faktor kenyamanan dan keragaman fasilitas. Harus diingat bahwa tipe konsumen di Bali terdiri dari pasar asing dan lokal.

Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi para pengembang menyediakan hunian yang memenuhi standar terbaik untuk setiap produk. Misalnya dari pemilihan lokasi, fasilitas, desain arsitektur dan target pasar.

Lokasi mesti berada di tempat yang memiliki pemandangan indah atau alam seperti pegunungan, tepi pantai dan perbukitan; fasilitasnya lengkap, desainnya menarik dan unik. Jika semua itu sudah terpenuhi, maka pasar akan datang dengan sendirinya. – Aziz Fahmi Hidayat

About The Author

Related posts