Akses Juara, Investasi Terasa

Property-In.co – Berjarak 500 meter dari pintu masuk Bandara Soekarno-Hatta, kawasan terpadu ini menyimpan investasi menguntungkan berkat lokasi dan akses mumpuni.

Hari itu merupakan hari pertama Didik Riyanto masuk kantor setelah menghabiskan libur lebarannya. Menemui pria yang menjabat sebagai Direktur Proyek Aeropolis ini di kantornya di Cengkareng, Tangerang. Dengan tersenyum ramah, ia mulai bercerita tentang proyek PT Intiland Development Tbk yang saat ini terus berjalan di Aeropolis.

“Kami mulai bergerak dengan melakukan studi di beberapa negara,” katanya membuka percakapan. Didik bertutur bahwa mereka melakukan studi di bandara terdekat, Changi di Singapura. ”Di sekitar Changi tumbuh bisnis yang sangat pesat. Tidak hanya pergudangan dan perhotelan, apartemen dan hunian residential juga tumbuh sangat pesat. Ini karena bandara melibatkan begitu banyak orang dan kepentingan bisnis.”

Didik pun sempat menyambangi Angkasa Pura di Bandara Soekarno-Hatta. Di sana mereka mengetahui bahwa pada 2012, bandara memiliki pertumbuhan pengunjung tertinggi di dunia (19,6%). Di saat yang sama, bandara juga menargetkan 64 juta traffic penerbangan setiap tahunnya.

“Penerbangan pun saat ini menjadi sangat padat. Belum lagi ditambah terminal III tambahan sehingga akan semakin banyak orang yang bekerja di bandara. Karena kebutuhan akan tempat tinggal itulah, maka kami membangun superblok yang bersinergi dengan Bandara Soekarno-Hatta,” ungkapnya.

Bermodalkan hampir 60 hektar tanah dan lokasi strategis, Intiland akhirnya menancapkan ladang bisnis di Aeropolis terhitung sejak akhir 2011. Mereka pun sukses meluncurkan beberapa produk yang kini sudah sold out.

Sebut saja Aeropolis Residence dengan total 3.658 unit yang sudah laris manis. Belum lagi Aeropolis Chrystal Residence yang juga ludes terjual sebanyak 393 unit sejak 2014. “Saat ini kami sudah menjual lebih dari 4.000 unit hunian apartemen. Yang terbaru, tahun ini kami meluncurkan Onyx Residence,” kata Didik.

Akses Tol Plus Kereta Api Aeropolis_Onyx-Residence_Intiland
Sulit dibantah, akses bisa menjadi sangat penting ketimbang lokasi. Karena itulah kalau ada akses yang mendukung, walaupun letaknya jauh, pengunjung pun bakal tetap ramai. Kondisi ini tampaknya menjadi modal utama Intiland di proyek Aeropolis.

Nantinya, sekitar 400 meter dari Aeropolis akan ada pintu tol masuk keluar tol JORR II. Tol ini bakal menghubungkan Cimanggis, Cinere, Serpong, Kunciran, Batu Ceper, dan Cengkareng. Saat ini pembangunannya sudah sampai Cinere.

Tidak hanya akses tol, Didik mengungkapkan bahwa Aeropolis juga bakal didukung oleh jalur kereta api. Tak jauh dari proyek tersebut akan dibangun stasiun kereta yang menghubungkan bandara dengan Dukuh Atas ataupun Manggarai.

Rencananya pembangunan stasiun di bandara selesai pada 2017, sedangkan untuk penghubungnya sekitar 2018. “Kalau tol sudah biasa, ini akses tol plus kereta api,” tegasnya.

Dengan demikian, pasar untuk Aeropolis pun otomatis semakin bertambah. “Kami sekarang bukan hanya membidik para pekerja di bandara,“ terangnya. Berkat adanya akses kereta dan tol, mereka bisa memasarkan hunian hingga ke daerah Jakarta.

Onyx Residence
Saat ini, baru dua tipe yang ditawarkan Onyx Residence, yakni apartemen Amethist dan Beryl. Amethyst hanya terdiri dari tipe studio yang dipasarkan mulai dari harga Rp185 juta. Sedangkan tower kedua, Beryl, menyediakan unit lebih luas: tipe 1 kamar tidur (21 m2) dan 2 kamar tidur (40,6 m2).

Perseroan memasarkan unit-unit apartemen ini masing-masing dimulai dari harga Rp300,9 juta untuk tipe 1 kamar tidur; dan Rp624 juta untuk tipe 2 kamar tidur.
Intiland menargetkan revenue sebanyak Rp88 miliar untuk satu tower Onyx Residence. Sekarang, tower Amethyst masih tersisa 360 unit, sedangkan Beryl masih tersisa 187 unit.

Selain di sektor hunian, Intiland juga merambah pembangunan ke sektor area komersial, hotel, dan pergudangan. Untuk area komersial yang bernama Aeropolis Commercial Park, mereka telah sukses menjual 91 unit dari 99 unit perkantoran yang dipasarkan. Serah terimanya telah dilaksanakan pada September 2013.

Sementara itu, untuk apartemen Butik Hotel yang nantinya digunakan pemilik sebagai hotel (strata title), Aeropolis telah menjual habis dua Tower A yang berjumlah 150 unit. Sedangan untuk Tower B, saat ini sedang dipasarkan 150 unit lagi. Total revenue dari Apartemen Butik Hotel ini mencapai Rp30 miliar per tower.

Di segmen pergudangan, Aeropolis juga sedang menjual warehouse dengan tipe 9m x 30m, 12m x 30m, 15m x 30m, dan 15m x 36m. Harganya dipatok di atas Rp3 miliar. Saat ini untuk tipe 9m x 30m dan 15m x 36m sudah terjual sebanyak 11 unit. Sedangkan small warehouse yang nantinya akan dijual tersedia tipe 6m x 16m dan 8m x 16m sebanyak 36 unit.

Harganya dibanderol mulai dari Rp1,3 miliar. “Baik potential yield maupun capital gain untuk gudang bisa mencapai 10% per tahun,”ujar Didik. Dengan ditunjang akses yang baik, investasi di Aeropolis memang terbilang menjanjikan. Ini bisa dilihat dari contoh kasus yang telah terjadi di sana.

“Pada 2011 kami menjual apartemen Aeropolis Residence tipe studio seharga Rp92 juta. Sekarang harga apartemen sudah Rp190 jutaan. Bayangkan, sudah dua kali lipat nilainya,” ungkap Didik.

Ia juga menjelaskan, hanya dalam tempo beberapa tahun pemilik aset sudah bisa break event point. Kalau kita lihat, di kawasan tersebut sewa apartemen berkisar antara Rp1,7 juta-2,5juta per bulan. “Kalau disewakan Rp2 juta per bulan, maka dalam waktu empat tahun, pemilik aset sudah balik modal,” pungkasnya. – Richardus Setia Gunawan

About The Author

Related posts