Virtual Office Perlukah Dilarang

Property-In.co – November silam Pemprov DKI mengeluarkan surat edaran mengenai rencana pelarangan virtual office (kantor maya). Sontak para operator seperti kebakaran jenggot. Adakah solusi terbaik?

Pemprov DKI lewat Surat Edaran PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu) No. 41 Tahun 2015, pada 2 November berencana membatasi penggunaan virtual office hingga 31 Desember 2015. Melewati batas itu, pemerintah tidak dapat mengeluarkan SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) dan TDP (Tanda Daftar Perusahaan) bagi perusahaan yang mendaftar menggunakan alamat kantor maya. Kontan peraturan ini langsung berdampak pada kantor-kantor maya di Jakarta.

Dhike Wardhana, marketing executive dari GreenHub mengatakan dirinya saat ini harus membatasi customer yang ingin mendaftar ke virtual office tempat ia berkerja. “Sekarang kalau ada perusahaan yang ingin sign-in, saya pasti menanyakan apakah itu untuk keperluan TDP apa tidak. Kalau iya, saya langsung menjelaskan peraturan terbaru dari pemerintah ini.” GreenHub-Virtual-Office

Suka atau tidak suka, alamat domisili memang memegang peranan penting untuk mengurus perizinan-perizinan di Indonesia. Karena itulah fungsi ‘kantor bersama’ ini sangat dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan baru. Tanpa harus memiliki kantor fisik, mereka sudah dapat memiliki alamat domisili yang jelas guna melegalitaskan keberadaan mereka.

Namun, sayang, gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga. Lantaran ada beberapa kasus penipuan bermodus perusahaan fiktif, pemerintah akhirnya berniat melarang pemakaian kantor maya dan mengharuskan adanya kantor fisik.

Menanggapi hal itu, GreenHub melalui salah satu tim advokatnya menunjukkan keberatan atas peraturan Pemprov DKI tersebut. Menurut Leo Faraytody, peraturan baru ini akan membawa dampak negatif terutama pada Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Startup.

“Virtual office adalah bagian dari ekosistem bisnis dan ini lazim digunakan di negara mana pun. Apalagi bagi yang ingin memulai usaha dengan modal pas-pasan, tentunya mereka belum sanggup menyewa ruko,” katanya kepada Property-In di Plaza Marein, Jakarta Pusat.

Leo juga mengutarakan bahwa usaha-usaha baru seperti UKM atau Startup sebenarnya belum membutuhkan kantor fisik. “Coba Anda bayangkan, perusahaan baru yang hanya memiliki satu atau dua customer, karyawannya juga masih sedikit. Lalu mereka harus menyewa ruko Rp70 juta per tahun. Tentunya ini akan sangat memberatkan dan useless. Coba kalau kita bandingkan dengan kantor virtual yang hanya Rp3 juta hingga Rp9 juta per tahun.”

Toh, lanjut Leo, perusahaan yang berkembang nanti pasti akan mencari gedung atau ruko untuk mereka beroperasi. “Perusahaan baru membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengurus perizinan sehingga operasional kantor belum diperlukan,” jelasnya. GreenHub-Virtual-Office

Untuk itu, Leo mengimbau pemerintah agar mengkaji ulang kebijakan tersebut. Sebab, penipuan seperti itu tidak hanya terjadi pada virtual office, tapi juga terjadi pada gedung-gedung perkantoran dan ruko. “Karena itu, saya berharap pemerintah mengerti keadaan ini dan tidak mematikan virtual office,” ucapnya.

Dia mencoba menawarkan win-win solution kepada pemerintah. “Kalau pemerintah membatasi perusahaan mana saja yang boleh menggunaan virtual office, kami setuju. Misalnya perusahaan konstruksi. Dia memiliki proyek infrastruktur yang jelas sehingga tidak mungkin menggunakan virtual office. Tapi kalau perusahaan baru yang masih meraba-raba, tolong jangan dimatikan.”

Saat ini, Leo bersama tim advokat lainnya sudah mengupayakan agar pemerintah mencabut larangannya tersebut. Ia mengaku sudah bertemu dengan perwakilan Badan Ekonomi Kreatif dari Kementerian Koperasi dan UKM serta DPRD.

“Mereka sudah setuju bahwa tidak ada urgensi untuk melarang virtual office. Saat ini kepala PTSP DKI memang sedang mengkaji karena mereka khawatir bahwa virtual office akan menjadi celah oknum yang tidak bertanggung jawab. Kami juga akan ke Kementerian Perdagangan karena merekalah yang memberi penafsiran tentang virtual office ini,” pungkasnya. – Richardus Setia Gunawan

About The Author

Related posts