Metodologi Top Property Award

Property-In.co – Top Property Award  memakai metode pemilihan yang berbeda dibanding penghargaan properti lainnya. Menggunakan survei, pemenangnya murni merupakan pilihan dari konsumen yang terdiri dari pemilik properti, investor, dan juga para profesional di bidang properti.

Bagaimana cara Anda memilih sebuah properti yang baik untuk diinvestasikan atau dijadikan tempat tinggal? Ada banyak pertimbangan yang harus diperhatikan seperti lokasi yang pas, disain properti yang menarik sampai lingkungan sekitar yang sehat dan hijau. Selain itu, ada juga faktor-faktor lain seperti nilai jual di masa depan, kebanggaan, dan properti itu terkenal.

Majalah Property-In bekerja sama dengan SurveyOne melakukan riset yang disebut sebagai Top Property Index. Pengukuran yang menghasilkan indeks merek-merek properti teratas ini menjadi dasar untuk memberikan penghargaan Top Property Award yang diluncurkan pada 2016 ini.

Top Property Award (TPA) berbeda dengan penghargaan properti lainnya. TPA adalah penghargaan yang diberikan bukan berdasarkan pilihan juri, melainkan atas pilihan konsumen yang dilakukan melalui survei.

Tidak tanggung-tanggung, survei dilakukan terhadap 2.100 responden di 9 kota besar di Indonesia, yaitu: Jakarta, Bekasi, Bogor & Depok, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan dan Makassar. Kota-kota ini dipilih karena memiliki tingkat pertumbuhan properti yang tinggi.Logo-Top-Property-Award

Jenis properti yang disurvei pun bermacam-macam, mulai dari perumahan, apartemen, kota mandiri, superblok, kawasan industri, mal, dan hotel. Penilaian konsumen bukanlah terhadap developer dari properti tersebut tetapi terhadap merek atau proyek properti tersebut.

Selain properti, survei juga dilakukan terhadap berbagai jenis layanan dan produk yang terkait dengan properti.

Untuk layanan survei dilakukan terhadap bank dan broker properti, sementara untuk produk dilakukan terhadap beragam jenis produk properti mulai dari cat, keran air, pipa paralon sampai merek produk seperti conblock, atap baja, dan lain-lain.

Dengan berbagai jenis proyek, jasa dan produk properti yang disurvei tentunya akan menimbulkan kompleksitas dalam hal survei.

Namun, SurveyOne memiliki pengalaman survei yang panjang dan metodologi yang tepat dalam mengatasi kompleksitas ini. Untuk panel responden, misalnya, survei membagi dua jenis responden sebagai berikut:

Untuk survei proyek properti, yang dijadikan responden adalah pemilik perumahan atau properti yang tinggal di area yang disurvei dan terdiri dari:
1.    Publik: Social Economic Status (SES) A dan A+, usia minimal 25 tahun serta tinggal di kota yang disurvei.

2.    Investor: Memiliki minimal 1 properti selain yang ditinggali dengan dengan nilai properti minimal 1 miliar rupiah

Sedangkan untuk jasa dan produk properti, responden terdiri dari:
1.    Publik: Social Economic Status (SES) A dan A+, usia minimal 25 tahun serta tinggal di kota yang disurvei.
2.    Kontraktor, arsitek, dan pelaksana proyek properti.

Pemilihan responden dalam survei ini penting mengingat responden harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang proyek properti di area sekitarnya dan juga jasa dan produk properti yang ada di pasar.

Oleh karenanya, responden yang terpilih dalam survei ini pun memiliki kategori yang spesial. Sementara cara pengambilan sampel mengikuti kaidah survei, yakni dengan menggunakan metode Multistage Random Sampling.

Ada lima variabel yang dipergunakan dalam survei Top Property Award. Framework ini sebenarnya terinspirasi oleh konsep brand equity dari Kevin Keller. Namun, untuk keperluan TPA, framework tersebut diselaraskan dengan industri properti. Berdasarkan framework yang dibangun ini, sebuah properti akan menjadi properti yang top di mata konsumen karena didorong oleh beberapa variabel: Metodologi-Top-Property-Award

1.    Popularity Driven: Properti atau produk/jasa tersebut dikenal oleh konsumen maupun investor properti.

Sebagai contoh, ketika hendak memilih rumah atau apartemen, Anda pasti mempertimbangkan perumahan atau apartemen yang sudah dikenal masyarakat luas.

Paling tidak, developer dari properti tersebut sudah Anda kenal baik sehingga proyek properti yang dibangun pun ikut terdongkrak oleh merek developer.

2.    Investment Driven: Properti tersebut memiliki ‘value’ yang tinggi di masa depan. Sementara untuk produk/jasa properti, nilai investasi dilihat dari sisi ‘value for money‘ produk/jasa tersebut.

Ketika membeli rumah atau apartemen maka nilai sewa atau nilai jual kembali dari rumah tersebut akan menjadi bahan pertimbangan. Anda tentu tidak mau membeli properti yang nilai jual kembalinya rendah.

3.    Quality Driven: Properti tersebut berkualitas dari sisi lokasi, desain, dan berorientasi kepada lingkungan hijau. Sementara kualitas produk properti tercermin, misalnya, dari kekuatan dan keawetan produk tersebut.

Lokasi menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih sebuah properti. Lokasi yang dipilih tentunya harus dekat dengan mobilitas si pemilik properti. Experience yang tercermin dari desain properti juga menjadi pertimbangan, selain juga lahan hijau yang ada.

4.    Emotional Driven: Properti atau produk tersebut menciptakan ‘emotional benefit’ yang tinggi seperti rasa bangga.

Anda mungkin tinggal di pinggir kota seperti Bekasi dan Tangerang, Tetapi ketika Anda tinggal di perumahan yang bergengsi seperti BSD atau Bintaro, mungkin Anda akan merasa bangga.

5.    Recommendation Driven: Properti atau produk/jasa tersebut direkomendasikan oleh pihak lain.

Ketika memilih properti, maka properti yang banyak diperbincangkan orang menjadi pertimbangan Anda juga. Apalagi jika direkomendasikan oleh banyak pihak.

Kelima variabel ini menjadi pembentuk indeks Top Property Award, yang menggabungkan kelima variabel tersebut dengan menggunakan weighted propotional analysis. toppropertyaward.com

About The Author

Related posts