Menghidupkan Kembali Kejayaan Pasundan

Property-In.co – Mengadopsi Sejarah Padjajaran ke dalam konsepnya, Kota Baru Parahyangan berhasil menjadi kota mandiri paling top di Bandung. Di tengah maraknya istilah-istilah asing untuk nama proyek properti di Indonesia, Kota Baru Parahyangan justru tetap bersandar pada konten lokal.

Kota mandiri yang berlokasi di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat ini terus eksis dengan mempertahankan tiga unsur utama dalam pengembangannya: pendidikan, sejarah, dan budaya.

Albertus Pratomo, Director PT Belaputera Intiland menceritakan, pengembangan Kota Baru Parahyangan dimulai sejak 1995. Namun pembangunannya sempat terhenti karena krisis moneter. Baru pada 2003, ketika ekonomi mulai membaik, pengembangannya dilanjutkan kembali.

“Semenjak itulah Kota Baru Parahyangan mulai dikenal oleh warga Bandung,” katanya kepada Property-In ketika ditemui di Jakarta pertengahan Desember silam.

Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk dan kepadatan lalu lintas di Kota Bandung menjadi pertimbangan pembangunan proyek tersebut. Ketika itu, masyarakat Bandung seakan dipaksa untuk mencari tempat berteduh yang lebih nyaman di daerah sub-urban.

Alhasil, Kota Baru Parahyangan yang menawarkan konsep cemerlang pun menjadi pilihan yang menggiurkan. “Sekarang kurang lebih 70% unit dibeli oleh orang Bandung asli,” ujar pria yang acap disapa Tommy ini. Kota-Baru-Parahyangan

Kota mandiri yang berdiri di atas lahan seluas 1.250 hektar itu pun telah mampu ‘menghidupkan kembali’ riwayat kejayaan tanah Pasundan. Nama-nama klaster yang diambil dari legenda tanah Pasundan—seperti Tatar Pitaloka, Tatar Wangsakarta, dan Tatar Mayang Sunda—berhasil menarik perhatian investor dan masyarakat Bandung untuk beralih pandang dari kota ke kabupaten.

Selain itu, sarana pendidikan yang berlimpah juga menjadi value added bagi penghuni kawasan ini. Sekarang, sekitar delapan sarana pendidikan sudah berdiri mapan di sana. Beberapa di antaranya adalah Al Irsyad Satya Islamic School, Cahaya Bangsa Classical School, dan Bandung Alliance Intercultural School.

“Kami memang ingin menciptakan sebuah kota mandiri yang berwawasan. Makanya, kami fokus terhadap pembangunan sarana pendidikan terlebih dulu,” imbuhnya.

Fasilitas-fasilitas lain seperti rumah sakit dan ruang perbelanjaan ritel seperti Giant pun kini sudah tersedia di sana. Hanya dua yang belum ada, kata Tommy, yakni mal dan apartemen. Namun, agaknya hal itu tinggal menunggu waktu saja.

“Tahun depan kami akan bangun apartemen. Baru setelah populasi di sini meningkat, kami akan bangun mal,” tuturnya kemudian.

Dalam hal investasi, peningkatan capital gain di kawasan itu juga tidak perlu diragukan. Rata-rata gain-nya tumbuh 15% per tahun. Kota Baru Parahyangan sekarang menjelma menjadi kota mandir termahsyur di tanah Pasundan. Kelengkapan fasilitas serta kematangan konsep pendidikan, sejarah, dan budayanya berhasil menjadi magnet ampuh yang memikat konsumen untuk tinggal atau berinvestasi di sana. – toppropertyaward.com

About The Author

Related posts