Tren Properti 2016

Property-In.co – Sebuah portal global mengeksplor apa saja yang bisa terjadi pada sektor properti selama 12 bulan ke depan di negara-negara berkembang.

Tahun baru telah tiba. Peluang dan tantangan baru terbentang luas. Pertanyaan besar muncul dalam benak para profesional real estate: “Apa yang akan terjadi pada 2016 ini?”.

Migrasi dari kota-kota besar, perbaikan infrastruktur, dan peningkatan minat investor internasional merupakan beberapa prediksi dari para developer properti di negara-negara berkembang. Lengkapnya berikut ini gambaran 5 tren yang bakal terjadi:

1. Fokus pada Aplikasi
Telepon seluler (ponsel) mendorong inovasi di negara-negara berkembang. Mayoritas pengguna internet di sana tidak memakai desktop, tapi menggunakan ponsel. Jika pada 2015 perusahaan di negara berkembang lebih fokus kepada website, pada 2016 kita akan melihat para profesional real estate mengalihkan perhatian mereka ke aplikasi.

Lantaran tingginya biaya internet di negara berkembang, aplikasi kemudian menjadi semakin populer ketika bersangkutan terhadap interaksi dengan perusahaan online. Seiring dengan penetrasi internet yang semakin kuat di daerah-daerah second-tier dan pinggiran kota serta berkurangnya biaya konektivitas mobile, maka kartu SIM menjadi lebih terjangkau dan terjadi evolusi teknologi mobile. Hal itu kemudian meningkatkan penggunaan aplikasi.

2. Pertumbuhan Daerah Second-tier
Industri properti telah mencatat adanya peningkatan minat terhadap kota-kota di second-tier dan third tier di area perkotaan yang berkembang. Pertumbuhan penduduk yang cepat menyebabkan pertumbuhan fisik daerah perkotaan termasuk di Colombo, Jakarta, dan Manila.

Pertumbuhan daerah ibukota melambat, maka developer dan investor sama-sama mengalihkan perhatian mereka ke kota yang lebih kecil. Di kota-kota second dan third tier, harga properti praktis menjadi lebih murah karena ketersediaan lahan yang lebih banyak dan biaya pembangunannya lebih rendah.

Kian-Moini,-Lamudi-Founder
Kian Moini, Managing Director Lamudi Global

Menurut Kian Moini, Managing Director Lamudi Global, sebuah portal properti yang berfokus pada pasar negara berkembang, “Pada 2016 kita akan melihat perkembangan kota-kota kecil di pasar negara berkembang: investasi dana bakal dilakukan untuk meningkatkan pelayanan transportasi, air dan listrik, serta mengembangkan infrastruktur. Hal ini penting jika kota-kota kecil ingin bersaing dengan pasar yang lebih besar, baik lokal maupun internasional.”

Dengan menggeser fokus dari ibukota ke daerah yang lebih kecil, investor mendapatkan keuntungan lebih banyak karena biaya tanah, sumber daya dan bahan bangunan yang lebih murah, sehingga developer memiliki lahan lebih luas untuk pembangunan. “Hal ini membuat kota-kota second tier menjadi pilihan yang sangat menarik bagi para profesional real estate,” tambah Moini.

3. Pertumbuhan Properti Komersial
Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang cepat di Asia, Afrika, Timur Tengah dan Amerika Latin, urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi, permintaan akan properti komersial pun semakin meningkat. Termasuk di dalamnya adalah pembangunan mixed-use, yaitu pusat perbelanjaan, ruang ritel dan unit kantor dalam satu kompleks.

Dalam 12 bulan ke depan, mungkin kita akan melihat peningkatan proyek properti komersial di pasar negara berkembang. Oleh karena itu, kawasan tersebut harus mengakomodasi penduduk dan pertambahan turis, sejalan dengan meningkatnya minat dari perusahaan-perusahaan internasional. Proyek ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, mereka juga memberikan kesempatan kerja dan meningkatkan nilai properti di sekitarnya.

4. Ketersediaan REIT
Apakah 2016 akan menjadi tahun bagi Real Estate Invesment Trust (REIT)? Dalam 12 bulan terakhir, Lamudi melihat sejumlah pembukaan REIT di pasar negara berkembang, mendorong investasi di sektor ini. Pada Oktober silam, Otoritas Pasar Modal telah menyetujui pendapatan REIT pertama Kenya, yang juga dikenal sebagai I-REIT yang akan diterbitkan oleh manajer investasi, Stanlib Kenya.

Ini menandai lisensi yang pertama untuk sebuah perusahaan manajemen aset, untuk masuk ke daftar Nairobi Securities Exchange (NSE). Tiga bulan sebelumnya, REIT pertama milik Pakistan diluncurkan, membuka jalan bagi pertumbuhan yang diharapkan di sektor properti komersial negara itu.

Negara-negara berkembang lain diprediksi bakal mengikuti jejak mereka selama 12 bulan ke depan. Setelah pengumuman anggaran 2016 di Sri Lanka, para ahli di industri ini memperkirakan penciptaan REIT pertama di negara itu akan mendorong investasi properti lokal dan internasional.

5. Peningkatan Investasi Asing
Hukum telah banyak berubah di pasar negara berkembang. Saat ini masih berlaku aturan bahwa memiliki properti di semua negara adalah sesuatu yang tidak sah. Namun, sekarang juga sedang dibuat UU baru yang mendorong investasi real estate.

Tanggal 31 Desember 2015 adalah batas akhir untuk integrasi ASEAN. Integrasi ini akan berfokus pada penciptaan kawasan ekonomi tunggal yang kompetitif, mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi internasional. Diharapkan hal itu dapat secara signifikan meningkatkan investasi langsung dan minat internasional terhadap kawasan ini.

Menurut data Ernst & Young, pemasukan FDI (foreign direct investment) ke sektor properti di Afrika sangat kuat sepanjang 2014. Real estate, perhotelan dan konstruksi menjadi proyek paling menarik bagi FDI di Afrika pada 2014. Hal ini diperkirakan bakal meningkat selama 12 bulan ke depan.

Di Tunisia, reformasi hukum telah mendorong peningkatan arus masuk investasi asing, dan kini mereka sedang merencanakan UU baru yang bertujuan untuk menggandakan investasi asing ke negaranya pada 2020.

Sementara itu, di Meksiko, pemerintah telah mengumumkan strategi baru untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas negara di tahun-tahun mendatang. Proyek-proyek akan difokuskan pada enam sektor, termasuk transportasi, pembangunan perkotaan dan pariwisata, dan untuk mendorong investasi internasional.

About The Author

Related posts