Berlomba Menawarkan Kemudahan

Property-In.co – Memiliki properti idaman bagi setiap keluarga Indonesia  semakin mudah terwujud dengan adanya beragam fasilitas pembiayaan yang ringan dan menarik. It’s time to buy!

Banyak jalan menuju Roma. Peribahasa klasik ini rasanya tepat menggambarkan perlunya kreativitas dalam menyiasati kondisi properti Indonesia yang dirundung masalah kebutuhan akan hunian yang terjangkau. Beragam persoalan lain pun terus bertambah sehingga pertumbuhan penjualan properti Indonesia selama kuartal pertama 2015 sedikit terpuruk dan membuat tren investasi properti agak terhambat.

Namun, optimisme tidak boleh padam sedikit pun. Mereka yang kreatif tentunya selalu mencari jalan keluar. Tak ayal, beraneka ragam strategi pun dicetuskan oleh para pengembang guna menyiasati persoalan tersebut. Umumnya, strategi mereka mengedepankan faktor kemudahan dan keterjangkauan bagi konsumen agar memiliki tempat tinggal yang layak bukan sekadar impian belaka.

Eddy-Ganefo_Apersi
Eddy Gaefo Ketua APERSI

Fakta itu juga yang diungkapkan oleh Eddy Ganefo, Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi). “Saat ini banyak developer memberikan fasilitas pembiayaan yang memudahkan konsumen,” katanya kepada Property-In.

Konsep yang sedang tren adalah skema cicilan down payment (DP/uang muka) dengan tenor yang panjang serta tanpa bunga. Cara demikian terbilang ampuh dan mampu menumbuhkan kembali gairah investasi masyarakat untuk mendapatkan hunian masa depan. “DP yang ringan dan terjangkau oleh konsumen menjadi solusi atas persoalan kebutuhan tempat tinggal masyarakat,” ujarnya.

Sebelumnya Eddy mengatakan bahwa properti di Indonesia mengalami penurunan yang disebabkan beberapa faktor, antara lain: pertumbuhan ekonomi yang melambat, kemampuan daya beli masyarakat yang menurun, dan dolar yang semakin kuat. Akibatnya, investor dan spekulan properti  cenderung wait and see.

“Kalau yang sekarang ini saya lihat bukan siklus rutin, tapi memang murni pengaruh situasi ekonomi. Saya melihat belum ada perubahan yang signifikan pada kuartal kedua,” imbuhnya. Dampak dari situasi ekonomi yang cenderung tidak stabil ini bisa terlihat jelas dari anjloknya penjualan sejumlah properti, yang bahkan mencapai angka mencengangkan, yakni 50%.

Namun, beberapa langkah antisipasi juga sudah digelar pemerintah agar terjadi perubahan untuk periode berikutnya. Salah satunya, pemerintah berencana melonggarkan besaran nilai loan to value (LTV) untuk rumah pertama dan selanjutnya. Dari situ, Eddy menyarankan kepada pengembang agar memberikan diskon menarik dan cara pembayaran uang muka yang lunak.

Pelonggaran LTV jelas akan berpengaruh signifikan. Eddy memprediksi, pengaruh skema baru LTV akan terasa setelah Lebaran—sekitar Agustus dan September tahun ini. Karena bulan Juni dan Juli masuk bulan puasa—periode di mana biasanya terjadi penurunan penjualan properti. “Berbanding terbaliklah dengan pembelian baju dan makanan,” ucapnya.

Adu Kemudahan
Memasuki kuartal kedua, banyak pengembang yang giat menawarkan beragam kemudahan bagi konsumen dalam mendapatkan properti idaman. Bahkan, di beberapa daerah, banyak produk yang berani jorjoran dengan  tawaran menggiurkan seperti program ‘DP suka-suka’. Ini dilakukan semata-mata untuk membuka kesempatan bagi masyarakat yang belum memiliki hunian atau pembeli yang ingin menambah koleksi propertinya.

Namun, Eddy juga mengingatkan agar pengembang tidak serampangan mengajukan tawaran hanya demi unitnya cepat terjual. “Tugas pengembang bukan cuma menjual saja tapi juga perlu memperhatikan kewajiban selanjutnya, yaitu memberikan properti yang layak serta berkesinambungan.” Artinya, pengembang yang baik juga harus melihat persoalan akses, fasilitas umum, keamanan dan kenyamanan hunian.

Salah satu contoh program kemudahan mendapatkan hunian yang menarik diberikan oleh perumahan Green Serpong Residence. Proyek yang digarap oleh developer Tombak Intan ini mengajukan skema pembelian ringan bagi konsumennya. Jimmy AW, sang empunya proyek, menceritakan bahwa di properti tersebut ia memfasilitasi pembayaran uang muka yang bisa dicicil hingga 20 tahun dan tanpa bunga.

Program ini ia luncurkan karena melihat banyak pengembang tidak melakukan hal itu. “Saya melihat belum ada pengembang yang berani melempar konsep seperti itu. Padahal, yang dibutuhkan masyarakat adalah kemudahan. Terlebih dengan adanya backlog perumahan yang kian bertambah,” kata Jimmy.  Perumahan_Ilustrasi1

Skema yang Jimmy tawarkan sebenarnya diluncurkan guna menyiasati masalah LTV yang membuat pembelian dan penjualan rumah cukup tersendat. Ia mengakui pada 2013, demand akan produknya begitu tinggi. Namun, tahun lalu penjualan sempat terhambat—meski tetap ada kegairahan dari masyarakat. Tahun ini, meskipun program kemudahan cicilan uang mukanya masih berlaku, kenaikan penjualan yang terjadi hanya sekitar 5-10%.

“Memang tidak sama dengan kuartal pertama pada tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini penjualan tetap ada, meski tidak seramai tahun lalu,” imbuhnya kemudian.

Harga rumah yang ada di Green Serpong Residence sendiri cukup  bervariatif. Unit termahalnya saja cuma dibanderol sehargai Rp1 miliar. Dengan harga segitu, kata Jimmy, produknya terbilang aman dari aturan PPnBM (pajak barang mewah) yang tengah menjadi momok bagi konsumen.

Hampir mirip dengan Green Serpong Residence, Kota Harapan Indah saat ini juga memberikan kemudahan fasilitas cicilan yang ringan untuk cluster terbarunya, Samata. PT Damai Putra Group  yang merilis Samata pertengahan tahun ini mengajukan konsep cicilan DP sebanyak 36 kali dan tanpa bunga. Dalam promonya yang terpampang di sejumlah billboard, properti baru ini menawarkan cara mendapatkan rumah yang tergolong gampang bagi konsumen.

Masih banyak lagi contoh lain dari proyek-proyek properti yang menawarkan kemudahan untuk konsumen. Apalagi dengan adanya kelonggaran LTV dari pemerintah yang menurunkan uang muka dari 30% menjadi 20%. Hal Ini dinilai bisa kembali menumbuhkan optimisme masyarakat untuk mendapatkan tempat tinggal melalui sistem pembayaran yang terjangkau dan simpel. It’s really time to buy! – Aziz Fahmi Hidayat

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *