Investasi Apartemen Lebih Profit dari Deposito!

Tiga tahun terakhir ini, apartemen berkembang menjadi ‘mesin uang’  yang menggiurkan. Apakah tren ini terus berlanjut?

Property-In.co – “Saya selalu membeli apartemen waktu pre-launching, belum diluncurkan. Harganya pun belum tahu. Tapi kita bisa pesan dengan nomor urut pesanan (NUP),” kata Widarto Wirawan (62), seorang investor properti yang cukup berhasil.

Widarto masih ingat betul peristiwa tiga tahun silam. Saat itu, ia membeli satu unit apartemen di Ciputra World 1 seharga Rp1 miliar. Cukup mahal memang, maklum harga per meternya sudah 20,5 juta. Tapi dia punya feeling harga jualnya nanti bakal terus menanjak.

Benar saja. Harga apartemen itu langsung melesat. “Saya untung besar,” kenang Widarto dengan ceria. Waktu itu, rincinya, down payment unit tersebut masih 20% (berarti modal awal yang dikeluarkan 200 juta). Angsurannya 25 juta per bulan. Pada saat cicilan keempat (ketika total investasinya baru 300 juta), dia bisa menjual apartemen itu seharga 1,5 miliar. Untung bersih yang dia gondol mencapai 400 juta. Fantastis, ROI -nya 100% lebih!

Mantan bos sebuah perusahaan direct selling ini menuturkan, uang tersebut lalu dia tanamkan kembali di apartemen besutan ForzaLand. “Harga awal 1 miliar, lalu menjadi 2 miliar dalam kurun dua tahun. Tapi apartemen itu saya sewakan 15 juta per bulan. Lumayan, buat pensiun,” ujarnya sambil terkekeh.

Pada 2010, Widarto sama sekali tidak punya apartemen. Tahun ini sudah ada empat. Selain yang disebutkan di atas, ia juga memiliki unit apartemen di BSD City dan Ciputra International. Tapi semua itu diakuinya karena kebetulan dia sedang beruntung. “Keberuntungan itu pertemuan antara kesempatan dan kesiapan. Pas ada kesempatan, pas saya punya duit.”

Yang  pasti, Widarto tidaklah sendirian. Tentunya masih banyak investor properti lain yang ikut mengecap nikmatnya lonjakan harga apartemen selama periode 2010-2013. “Teman saya bahkan ada yang sampai ‘beternak apartemen’,“ katanya.

Forzaland
Forzaland – ONE Casablanca

Melebihi Bunga Deposito
Apartemen memang menawarkan segudang kemudahan bagi masyarakat perkotaan. Lokasinya berada dekat dengan beragam fasilitas penunjang seperti area perkantoran dan pusat perbelanjaan.

Tinggal di apartemen kini bahkan sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian kalangan. Itulah sebabnya apartemen diburu oleh keluarga muda, eksekutif, dan investor.

Selain menjadi tempat tinggal, apartemen juga telah menjadi salah satu pilihan investasi yang menjanjikan. Memang, dari sisi investasi, hunian vertikal ini menawarkan tingkat return menggiurkan.

Tengok saja kisah di atas. Bahkan, banyak pengamat mengatakan kenaikan nilai investasi apartemen per tahun bisa melebihi 25%. Angka ini jelas melebihi bunga deposito yang rata-rata 8% per tahun.

Apalagi bila apartemen yang dimiliki investor berada di kawasan perkantoran, mal atau berdekatan dengan kampus. Tingkat okupansi di lokasi-lokasi tersebut sangat tinggi.

Otomatis, yield (pendapatan  sewanya) juga bagus. Harga jualnya juga bisa melonjak tiga kali lipat dalam tempo tiga tahun saja. “Enggak ada bisnis yang bisa naik seperti itu,” ujar Stefanus Ridwan, Vice President Pakuwon Group.

Pasar apartemen memang sedang hot. Menurut data Colliers International, suplai apartemen di Jabodetabek sempat turun 29% tahun lalu, dari 15.068 unit menjadi 10.701 unit. Lantaran Pemilu, banyak pengembang yang mengerem laju proyek-proyeknya. Namun, tahun ini mereka langsung tancap gas 169% sehingga jumlahnya mencapai 28.838 unit.

Data serupa juga disajikan oleh Jones Lang LaSalle. Konsultan riset properti tersebut menyatakan bahwa saat ini tersedia sekitar 90.000 unit apartemen di Jakarta; dan jumlahnya akan bertambah sekitar 58.000 unit lagi hingga 2018. Harganya pun menggiurkan. Sejak 2007 hingga 2014, tren harganya terus naik dan tahun ini menunjukkan kecenderungan meningkat tajam.

“Kenaikan harga apartemen ini tertolong oleh faktor supply dan demand. Pasokan yang tertahan, karena sulitnya mendapatkan tanah dan perizinan di ibukota, membuat harga apartemen melambung”
“Kenaikan harga apartemen ini tertolong oleh faktor supply dan demand. Pasokan yang tertahan, karena sulitnya mendapatkan tanah dan perizinan di ibukota, membuat harga apartemen melambung,” kata Budi Yanto Lusli, President Director PT Synthesis. Namun, Budi juga mempertanyakan apakah kenaikan harga apartemen yang ‘aduhai’ dalam tiga tahun terakhir bakal terus berlanjut?.

Menurut Artadinata Djangkar, Direktur Ciputra Group, pasar apartemen di 2015 akan tetap bagus. Meski begitu, “Kita tidak akan mengalami pertumbuhan setinggi tiga tahun terakhir,”imbuhnya. Memang tidak semua apartemen akan terus naik seperti itu. Pembeli pun semakin pintar. Mereka kini mulai membanding-bandingkan, mencermati apartemen mana yang bisa menguntungkan.

Yang jelas, dari sisi developer. Kompetisinya bakal semakin sengit. Oleh karena itu dibutuhkan kreativitas dan diferensiasi dalam memasarkan produknya. Apartemen yang dekat atau berada di dalam mal, misalnya, akan mempunyai nilai jual tinggi. “Lebih bagus lagi kalau apartemen dan mal itu digabung dengan office tower. Para tamu dan penghuni tidak akan pusing mencari parkir lot,” kata Stefanus.

Masalah lokasi memang vital dalam pendirian apartemen. Apartemen biasanya disewakan untuk mendekatkan penyewa dengan lokasi kegiatannya, misalnya kantor. Tak heran bila hunian ini banyak diminati, terutama yang terletak di kawasan central business district (CBD) seperti Sudirman-Thamrin, Gatot Subroto, dan Rasuna Said. Namun, kawasan perkantoran di Jakarta kini mulai bergeser ke pinggiran.

Kawasan TB Simatupang, misalnya, kini merupakan wilayah perkantoran di luar CBD yang tumbuh pesat. Otomatis, dengan tumbuhnya perkantoran, pembangunan apartemen pun akan segera menyusul. “Kawasan TB Simatupang memang bagus untuk apartemen,” kata Widarto. “Cuma harga apartemen di sana tidak boleh terlalu tinggi—tak boleh lebih dari 20 juta per meter persegi.”

Tren apartemen yang bergeser ke pinggir juga diamini oleh Marcellus Chandra, CEO Prioritas Land Indonesia. “Proyek kami di Serpong, kami termasuk perintis apartemen di sana. Trennya bagus seiring dengan hadirnya kota mandiri di daerah-daerah penyangga,” katanya.

Marcellus mengatakan, tahun ini penjualan apartemen masih tetap bersinar. Namun tren pembelinya tidak lagi end user, melainkan investor. “Mereka merem saja sudah untung.” Investor yang sudah untung ini biasanya menjadi pengikut setia developer. Saat developer mau membangun, mereka sudah pesan dari jauh-jauh hari.

Tingginya permintaan apartemen tentu menjadi peluang meraup untung berlipat. Namun ada sejumlah hal yang harus diperhatikan sebelum kita mengambil keputusan membeli apartemen. Misalnya, kapan timing yang tepat untuk membeli aset properti tersebut (saat pre-launching), lokasi mana yang menjadi primadona, reputasi pengembang, dan  perhitungan return of investment (ROI). David S. Simatupang

About The Author

Related posts