Tahun ini Properti Melorot

Property-In.co – Akibat dari rencana kenaikan pajak barang dan jasa (goods and service tax/GST) yang mencapai 6% pada 1 April mendatang, transaksi properti Malaysia diprediksi bakal merosot hingga 10%. Di satu sisi, harga rumah hanya naik tipis sekitar 3-5%. Data tersebut tertuang dari laporan JF Apex Research belum lam ini.

Rencana GST itu merupakan bagian dari langkah “pendinginan” pemerintah Malaysia, selain juga memberikan persetujuan mengenai pengetatan kredit dan pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut tentunya menjadi tantangan berat bagi pasar properti Malaysia di seluruh segmen—terutama di wilayah Lembah Klang, Penang, dan Johor.

Dampaknya, proses transaksi di sejumlah pengembang akan terhambat. Namun, pengembang yang benar-benar fokus pada pasar massal (properti hunian) dapat menghasilkan pertumbuhan berkelanjutan. Ini berlaku terutama untuk pengembang yang membangun hunian di kawasan Iskandar Malaysia. Menurut JF Apex Research, mereka bisa menjual propertinya senilai 300.000-800.000 ringgit. Sebab, permintaan yang berasal dari pembeli properti pertama—end user yang membeli properti dengan tujuan untuk ditinggali—masih cukup besar.

Pasar cenderung bersikap menunggu (wait and see) selama 6-9 bulan sejak GST bergulir.
Saat ini, di kawasan Iskandar Malaysia, para pengembang hanya fokus menggenjot penjualan kepada pembeli pertama saja. Tentunya mereka  menyeleksi secara ketat apakah calon pembeli benar-benar pembeli pertama atau bukan. Pengembang juga membuat skema pembiayaan yang mudah demi merangsang minat pembeli. Skala proyek yang dibangun pun umumnya berskala kecil dengan harga jual rata-rata tinggi.

Kembali ke persoalan turunnya transaksi properti Malaysia, saat ini pasar tengah dalam kondisi waswas jika GST benar-benar diberlakukan. Pasar cenderung bersikap menunggu (wait and see) selama 6-9 bulan sejak GST bergulir. CIMB Research, yang juga turut melakukan penelitian terhadap hal ini, memperkirakan pertumbuhan sektor properti bakal semakin berjalan lambat. “Dampaknya baru akan mulai terasa pada akhir 2015. Para pengembang mengatakan bahwa 2015 adalah tahun yang penuh dengan perjuangan,” tulis CIMB.

CIMB Research menambahkan, penjualan properti pada kuartal pertama tahun ini akan melanjutkan momentum yang terjadi pada paruh kedua 2014. Prediksi itu dibuat berdasarkan keyakinan bahwa harga properti bakal melesat pasca GST.

Sinyal-sinyal melemahnya perekonomian Malaysia sebenarnya sudah diprediksi sejak Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan, pertumbuhan ekonomi global tahun ini hanya naik sekitar 3,8%. Namun, pemerintah Malaysia yakin pertumbuhan bakal melebihi perkiraan IMF tersebut.

Keyakinan itu diungkapkan Menteri Senior Kantor Perdana Menteri Malaysia, Abdul Wahid Omar, seperti dilansir situs Bernama.com. Menurut dia, Malaysia telah meningkatkan investasi dan konsumsi domestik sehingga pada momentum ini perekonomian semestinya bisa tumbuh 5-6% selama beberapa tahun ke depan.

Seperti diberitakan sebelumnya, IMF menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global 2015 dari sebelumnya 4% menjadi 3,8%—akibat terus melemahnya kawasan euro dan sejumlah emerging market utama. IMF secara rinci juga memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi sejumlah negara Asia, termasuk Malaysia.

Omar menyatakan, revisi prospek pertumbuhan Malaysia oleh IMF sebagian disebabkan oleh perlambatan ekonomi di China, yang menjadi pemain utama ekonomi dunia. Namun, kinerja sektor swasta yang merupakan kunci pertumbuhan menunjukkan kecenderungan membaik. “Ini sangat sejalan dengan target kami agar sektor swasta menjadi pendorong investasi di Malaysia,” katanya beberapa waktu lalu di Kuala Lumpur.

Omar menegaskan, Program Transformasi Ekonomi yang dijalankan pemerintah sudah bekerja dan diharapkan mampu memelihara tren pertumbuhan ekonomi. Diakuinya, perlambatan di China dan sejumlah negara Asia lain akan mempengaruhi ekonomi Malaysia. Namun, ia yakin semua bisa dikelola selama fundamental ekonomi dan sistem keuangan Malaysia kuat.  aziz fahmi hidayat, dari berbagai sumber

About The Author

Related posts