Potensi Besar “Little Singapore”

Pulau Batam memikat hati banyak investor properti. Seberapa besar daya tariknya?

Property-In.co – Beberapa tahun belakangan, kita disuguhi tontonan menarik dalam industri properti. Tidak hanya di Jabodetabek, kota-kota lain pun memperlihatkan pertumbuhan yang kinclong. Kota-kota itu pun terus bersolek untuk menarik minat investor.

Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Bali, Pekanbaru, Batam, Balikpapan dan Manado kini menjadi incaran investasi nan gurih. Potensi besar yang dimiliki kota-kota tersebut membuat pengembang papan atas seperti Agung Podomoro Land (APL), Lippo Group, dan Ciputra Group kian mantap menancapkan tiang properti mereka di sana.

Memang karakter dan konsep pengembangan yang mereka usung berbeda-beda. Ciputra Group, misalnya, tampak nyaman dengan proyek landed houses di Semarang, Yogyakarta, Solo, Jambi, Gowa, Banjarmasin, dan Kendari. Sedang APL lebih pede dengan konsep one stop living (superblok) di Medan, Bali, Balikpapan, dan Batam.

Menurut Ferry Salanto, Associate Director Research Colliers International Indonesia, kota-kota di luar Jabodetabek itu tak ubahnya sebuah oase yang menjadi pertumbuhan baru properti di Indonesia. Perkembangannya terus melaju, meski perekonomian nasional tidak kunjung menunjukkan kestabilan. Banyak kota baru yang menjadi destinasi yang “seksi” di mata para investor, salah satunya Provinsi Batam.

Dengan suguhan view Singapura yang menjadi “halaman”-nya, provinsi ini dinilai punya daya tarik sendiri. “Batam, letaknya paling strategis dibandingkan dengan wilayah kota-kota lainnya. Infrastrukturnya cukup bagus, juga menjadi pintu utama dari seluruh penjuru dunia karena ada bandara yang memadai,” ungkap Ferry kepada Property-In bulan lalu.

Proyek Akuisisi
Indra W. Antono, Marketing Director Agung Podomoro Land (APL), mengatakan bahwa sebenarnya pegembangan sebuah proyek properti berprinsip pada kebutuhan masyarakat. Karena strategis dan istimewa itulah Batam patut menjadi ikon baru di bisnis properti. Kota Batam bisa dijadikan sebagai basis baru pertumbuhan properti di Indonesia. Apa pun yang diluncurkan pengembang, properti-properti di sana laris manis diterima pasar. “Kami mengembangkan disesuaikan juga dengan karakter masyarakatnya,” ungkap Indra di Jakarta awal bulan lalu.

Selain  itu, pertumbuhan ekonomi Batam 7%—lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang 6%. Pulau yang dikenal dengan sebutan “Little Singapore” ini memiliki lima kawasan industri dengan ratusan perusahaan modal asing dan ribuan pekerja asing. Lokasinya yang berdekatan dengan Singapura (30-40 menit perjalanan melalui jalur laut) juga semakin memberikan nilai tambah bagi provinsi ini.

Setelah mengakuisisi 80% saham PT Dimas Pratama Indah senilai Rp98 miliar pada Februari 2013, APL bersiap ekspansi ke Batam. Inilah perjalanan awal APL menembus pasar properti di Batam. Perusahaan tersebut kini sedang mempersiapkan lahan seluas 42 hektar untuk mengembangkan proyek terbarunya, Orchard Park Batam.

Orchard-Park-Batam
Orchard-Park-Batam

Rencananya proyek dengan investasi sekitar Rp1-1,5 triliun (berlokasi di jalan Engku Putri, di Batam Center) ini akan dibangun menjadi kawasan terpadu yang terdiri 1.100 unit rumah, 70 unit ruko, dan 100 unit apartemen.

Dari 42 hektar lahan yang ada, sekitar 32 hektar dipakai sebagai kawasan hunian, sisanya (10 hektar) untuk fasilitas dan area komersial. Orchard Park Batam juga bakal dilengkapi berbagai fasilitas seperti area kuliner (Orchard Kitchen), taman bermain anak-anak, kolam renang ukuran olimpiade, fitness center, private garden, sistem kabel bawah tanah, dan pencahayaan dengan panel surya.

Seperti dilansir laman resminya, Marketing Manager Orchard Park Batam Tedi Guswana, menjelaskan bahwa mereka berencana membangun lima klaster untuk hunian atau rumah tapak, rencananya akan dibangun di mana masing-masing terdiri dari 250 unit.

Klaster pertama yang  dipasarkan bakal didominasi tipe 6 (luas bangunan 55 meter persegi) dan tipe 7 (luas bangunan sekitar 70 meter persegi), harganya mulai dari Rp700 juta per unit. Sedangkan tipe paling besar di klaster lainnya bakal ditawarkan dengan harga Rp2,5 miliar per unit.

Apartemen di Orchard Park Batam akan dijual sekitar Rp250–300 juta per unit, sedangkan rukonya dijual dengan harga Rp3 miliar per unit. Mereka berharap nantinya pembeli kawasan ini adalah end user (85%) dan investor (15%). Apalagi sekitar 60% perusahaan asing yang beroperasi di sana adalah perusahaan Singapura yang banyak memakai pekerja asing. Dengan demikian, membidik segmen B-to-B juga sangat cocok diterapkan untuk mempercepat penjualan proyek ini.

Cocok untuk Liburan
Dihubungi terpisah, Nino Suprayitno dari Orchard Park Batam Subsidiary of APL menyebutkan, mereka telah berhasil menjual sekitar 90% atau 700 unit dari tiga klaster proyek yang sedang digarap Orchard Park Batam di kawasan Batam Center. Proyek perumahan ini dibangun di atas lahan seluas 42 hektar. Sekitar 40% dari lahan tersebut dialokasikan untuk penghijauan. “Rencananya akan ada enam klaster di kawasan tersebut. Ada 1.200 unit rumah, 140 unit ruko, dan 100 unit apartemen,” ungkap Nino.

Dia menerangkan, saat ini pihaknya tengah menggenjot penjualan dua klaster dan sudah laku terjual sekitar 30%. Satu klaster lagi, baru dipasarkan tahun depan. Lebih lanjut, Nino mengatakan bahwa sebagian besar konsumennya warga Batam dan Kepulauan Riau (jumlahnya mencapai 60%), sedangkan sisanya berasal dari luar kedua daerah tersebut terutama Jakarta. “Investor kami bukan hanya dari Batam dan sekitarnya saja. Bandung dan Jakarta kami bidik karena prospek proyek ini sangat menjanjikan,” tutur Nino. Hunian di Orchard Park ini sangat cocok untuk liburan. Apalagi letaknya dekat dengan terminal ferry yang mau menyeberang ke Singapura.

Menurut Nino, sekitar 85% konsumen yang membeli unit di kawasan terpadu memakainya untuk hunian pribadi. Sisanya, 15% ditujukan untuk investasi. Satu unit rumah di Orchard Park Batam dibanderol mulai Rp1,1 miliar, sedangkan ruko mulai Rp2,3 miliar per unit. “Struktur bangunan sudah selesai tinggal tahap akhir. Serah terima kunci pertama akan dilakukan pada Desember 2015,” jelasnya. “Selama pameran 29 Desember 2014 hingga 4 Januari 2015, kami masih menjual dengan harga lama. Setelah itu baru naik sekitar 4%, disesuaikan dengan kenaikan harga BBM bersubsidi.”

Disinggung mengenai prediksi perlambatan bisnis properti pada 2015, menurut Nino, Batam merupakan pengecualian. Hal ini lantaran Batam dipandang sebagai gerbang bagi negara-negara Asia Tenggara untuk masuk ke Indonesia di era ASEAN Economic Community (AEC) 2015. “Batam prioritas utama pembangunan Indonesia. Lihat saja pengembangan industri maritim yang dicanangkan pemerintahan sekarang. Ada 110 galangan kapal di Batam, tentu ini potential market yang sangat menjanjikan. Buktinya, kami bisa menjual sekitar 700 unit di tahun ini saja,” tandasnya. Caca Casriwan

About The Author

Related posts