Strategi Meretas Bunga Tinggi

Nasabah KPR dan KPA mesti bersiap-siap menghadapi impitan beban bunga kredit lebih tinggi. Adakah jalan keluarnya?

Property-in.co – Setahun terakhir ini, suku bunga kredit pembiayaan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA) tampaknya sedang dijangkiti “penyakit pikun”. Trennya terus meningkat, sama sekali lupa untuk turun. Wajarlah bila nasabah KPR dan KPA dilanda kekhawatiran, beban cicilan mereka akan semakin melonjak karena suku bunga naik.

Kekhawatiran terus berlanjut. Pasalnya, sejumlah bank diprediksi akan terus menaikkan bunga cicilan KPR-nya hingga akhir 2015 akibat tekanan biaya dana yang dialami perbankan. Dalam survei terbaru Bank Indonesia (BI) yang dirilis pertengahan Januari, para bankir diperkirakan bakal mengerek bunga kredit—baik untuk debitur korporasi maupun ritel—pada kuartal pertama tahun ini. Itu artinya, mau tidak mau nasabah akan dihadapkan pada beban bunga tinggi.

Ambil contoh, rata-rata bunga kredit modal kerja diramalkan bakal naik 11 basis points (bps) menjadi 13,60% pada kuartal I 2015—dari posisi 13,49% pada kuartal IV 2014. Bunga kredit investasi malah naik lebih tinggi atau sebesar 16 bps menjadi 13,46%. Bagi debitur individu yang gemar berutang untuk kebutuhan barang konsumsi, kenaikan bunga kredit akan naik lebih rendah yakni sebesar 7 bps menjadi 15,61% di sepanjang kuartal I 2015. Itu perkiraan BI selama tiga bulan pertama tahun ini.

Survei BI ini juga menyebutkan hingga akhir 2015, bunga kredit konsumsi akan melesat jauh lebih cepat ketimbang kredit modal kerja dan kredit investasi. Rata-rata bunga kredit konsumsi bakal melonjak naik sebesar 87 bps sepanjang 2015 di kisaran 15,66%. Padahal, selama 2014 rata-rata bunga kredit konsumsi masih sekitar 13,49%.

Pemicu lonjakan bunga kredit konsumsi adalah kredit tanpa agunan (KTA). Selama 2015, bunga KTA diperkirakan naik 85 bps menjadi sekitar 21,19% dari tahun lalu yang sebesar 20,34%. Anda yang berniat mencicil rumah (KPR) atau apartemen (KPA) juga bakal menanggung beban lebih berat.

Pada kuartal I 2015, bunga KPR dan KPA akan naik 10 bps menjadi 12,85%. Hingga akhir tahun ini, bunga KPR dan KTA diperkirakan naik 6 bps. Alasan bankir mengerek bunga kredit adalah lantaran biaya dana (cost of fund) atau bunga simpanan naik. Survei BI menyebutkan, pada kuartal I 2015, biaya dana diperkirakan naik 6 bps. Alasan lainnya, mengikuti tren suku bunga dunia.
Wan Razly Abdullah, Direktur Keuangan Bank CIMB Niaga, menuturkan bahwa pihaknya menanti keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang berniat menaikkan suku bunga acuan. “Jika The Fed mengerek suku bunga dan BI juga menaikkan suku bunga, kami akan adjust di bunga kredit dollar,” kata Wan seperti dilansir Kontan awal bulan lalu. KPR

Sementara itu, Bank Permata memiliki sikap lebih pasti. Bank patungan Astra Internasional dan Standard Chartered Bank ini sudah memantapkan hati untuk mengerek suku bunga kredit. Meski begitu, Roy A. Arfandy, Direktur Utama Permata Bank, mengungkapkan mereka masih mengkaji besaran kenaikan suku bunga kredit yang bakal diterapkan. “Memang ada rencana, tapi kami belum putuskan naik berapa dan sektor mana saja yang akan naik. Kami menunggu laporan keuangan akhir tahun 2014 untuk analis internal,” kata Roy.

Lain halnya dengan Syariah Imam T. Saptono. Direktur Bisnis Bank BNI ini mengatakan, tidak akan ada perubahan pada besaran imbal hasil yang dibayarkan nasabah kepada bank syariah di sepanjang masa cicilan. Dalam akad pembiayaan rumah di bank syariah, kesepakatan mengenai harga rumah berikut imbal hasilnya telah disepakati pada awal perjanjian.

Jika, misalnya, satu unit rumah berharga Rp100 juta, kemudian bank dan nasabah menyepakati nilai imbal hasil adalah sebesar 100% dari harga rumah ataupun apartemen dalam jangka waktu tertentu untuk masa cicilan, maka kesepakatan itu tidak akan berubah. “Pembiayaan syariah itu harus pasti. Semua ditentukan di depan, harganya sudah pas. Jadi jawaban atas strategi para investor keluar dari bayang-bayang bunga KPR dan KPA yang tinggi itu adalah dengan beralih ke pembiayaan syariah,” katanya.

Imam mengatakan nasabah bahkan dapat meminta diskon atau rabat jika ternyata mereka berkesempatan melunasi utang lebih awal dari masa cicilan yang ditetapkan sebelumnya. Akan tetapi, besaran cicilan KPR di bank syariah juga tidak akan berubah ketika suku bunga di industri perbankan mulai menurun.

Jadi, meski data survei Bank Indonesia tidak menghembuskan angin segar bagi para investor properti, masih ada cara lain bagi investor yang ingin berinvestasi tanpa harus dipusingkan oleh melambungnya bunga KPR/KPA.

MENGHADAPI KENAIKAN BUNGA KPR/ KPA
Sebelum mengambil keputusan, ada baiknya investor melakukan beberapa langkah menghadapi naiknya bunga. Di antaranya:

1. Melakukan financial check-up
Langkah ini perlu untuk mengetahui kondisi keuangan setelah kenaikan bunga KPR/KPA. Caranya, dengan menghitung apakah naiknya pembayaran cicilan KPR dapat diserap oleh kondisi keuangan sekarang. Jika tidak dapat diserap, berarti kondisi keuangan menjadi minus dengan beban cicilan yang lebih tinggi. Anda harus segera menyusun strategi mengatur pengeluaran mana dalam anggaran rumah tangga yang harus dipangkas untuk mengakomodasi kenaikan cicilan ini.

2. Melakukan over credit
Dengan over credit, pinjaman berubah statusnya menjadi pinjaman baru di bank lain. Nah, pinjaman baru mendapatkan bunga tetap yang lebih rendah dari bunga mengambang. Cara ini disarankan hanya untuk Anda yang cicilan KPR-nya sudah memakai bunga mengambang. Untuk yang masih dalam masa bunga tetap, sebaiknya tidak pindah ke bank lain karena saat ini tingkat bunga tetap yang baru lebih tinggi dibanding bunga tetap sebelumnya. Kalau dipindahkan, bunga tetap yang Anda bayar akan menjadi lebih tinggi, bukannya lebih rendah dari bunga tetap yang dinikmati saat ini.

3. Melihat KPR/KPA syariah yang menawarkan cicilan tetap sepanjang tenor
Gonjang-ganjing bunga ini membuat KPR/KPA syariah menjadi tawaran yang menarik. KPR/KPA syariah memiliki skema cicilan tetap sepanjang tenor. Ya, dengan KPR/KPA jenis ini, Anda bisa tenang, karena jumlah cicilan sudah fixed sampai masa kredit selesai. Berbeda dengan KPR/KPA konvensional di mana cicilan yang sama hanya dinikmati selama masa bunga tetap masih berlaku.
DAFTAR SUKU BUNGA KPR 10 BANK (Januari 2015)
Berikut daftar suku bunga KPR Bank pelat merah dan swasta per Januari 2015.
Suku Bunga Dasar Kredit KPR
No Nama Bank (%)
1 PT Bank Central Asia, Tbk 10,50
2 PT Bank CIMB Niaga, Tbk 10,80
3 PT Bank Internasional Indonesia, Tbk 10,02
4 PT Bank Mandiri (Persero), Tbk 10,75
5 PT Bank Mega, Tbk 12,50
6 PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk 10,65
7 PT Bank Permata, Tbk 12,50
8 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk 10,25
9 PT Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk 10,45
10 PT Bank UOB Indonesia 9,66

About The Author

Related posts