Distressed Property

Story Highlights

Property-In.co, Propertisiana – Banyak yang mengatakan, paling enak membeli properti dari sesorang yang BU (butuh uang). Harga belinya di bawah harga pasar sehingga kita bisa mendapatkan untung yang banyak. Apalagi jika pemilik lama dikejar-kejar hutang yang sudah jatuh tempo, maka harga properti tersebut bisa makin melorot ke bawah.

Orang properti menyebut kondisi semacam ini sebagai distressed property, yakni properti yang mengalami problem sehingga harus dijual secara cepat (short sales). Bisa jadi karena pemilik properti sudah tidak mampu membayar cicilan. Bisa juga karena properti tersebut dalam tahap sengketa sehingga harus dijual.

Alasan seseorang membeli distressed property terutama adalah harga. Properti jenis ini memiliki harga di bawah harga pasar. Dengan demikian, pada saat dijual kita bisa mendapatkan gain yang lebih banyak. Atau jika disewakan, nilai ROI (Return on Investment) juga bisa tinggi.

Anggaplah rumah baru harganya 2 miliar, sedangkan distressed property sebuah rumah dengan tipe dan lokasi yang sama bisa dibeli cuma 1,5 miliar. Jika di lokasi tersebut harga sewa rumah sebesar 100 juta rupiah, maka ROI rumah baru sebesar 5%, sementara distressed property memiliki ROI lebih dari 6%.

Kekurangan dari membeli distressed property adalah proses pembeliannya yang membutuhkan kejelian. Karena distressed property umumnya adalah aset bermasalah, sering kali ada hidden problem yang tidak terlihat atau ditutup-tutupi. Bisa jadi ada klaim dari pihak lain setelah Anda memperoleh properti tersebut. Atau, yang lebih berbahaya jika ternyata rumah tersebut berhantu. Sebuah rumah pernah dijual seharga 1 euro di e-Bay karena rumah tersebut dihuni roh jahat.
Distressed property sering kali ada di lokasi yang kurang strategis. Bisa jadi distressed property adalah sebuah toko yang dibeli di tempat yang tidak strategis. Si pemilik toko harus menjual karena usahanya rugi dan dia terbeban dengan hutang bank.

Distressed property sering kali juga menyimpan masalah dalam hal perawatan. Terkadang biaya perawatan dan perbaikan rumah yang tinggi membuat pemilik akhirnya melegonya dengan harga murah. Di Detroid, pernah ada rumah dengan tiga kamar tidur dijual seharga 1 dolar.

Memang terlihat murah, namun perbaikan rumah yang didirikan pada 1915 itu sangat tinggi. Belum lagi pajak rumah di daerah tersebut tergolong tinggi. Akibatnya, biaya rumah tersebut justru ada di atas harga pasar rumah.
Timing juga perlu diperhatikan. Pada masa krisis ekonomi, distressed property akan semakin meningkat. Pada 2008 tingkat distressed homes di Amerika mencapai lebih dari 50%. Problemnya, sekalipun harga rumah turun sampai 50% lebih, banyak orang yang tidak punya uang sehingga mereka juga tidak sanggup membeli.

Jika Anda punya uang lebih, membeli distressed property pada saat itu bisa menjadi sesuatu yang menarik. Namun jika uang terbatas dan kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang berakhirnya krisis, kita perlu mengkalkulasi dulu, apakah uang kita lebih baik diinvestasikan untuk distress property atau memegang uang cash. Pj Rahmat Susanta

About The Author

Related posts