Hotel Dafam – Si Kancil yang Agresif

Story Highlights

Dalam empat tahun Dafam Group mampu membangun belasan hotel dan menargetkan 38 hotel tahun ini. Apa rahasianya?

Jakarta, Property-In.co – Meski tergolong late entrant di bisnis perhotelan dan resor, Dafam Hotels rupanya tidak minder menghadapi pemain-pemain lain yang telah lebih dulu eksis. Buktinya, pada 2014 ketika usianya belum genap lima tahun mereka sudah memiliki 14 hotel dan tampak bakal semakin menggurita.

Bagaikan seekor kancil, Dafam berlari dengan lincah dan kian agresif dengan rencananya merambah pasar luar negeri.

Langkah awal mereka bermula pada 2009, ketika Billy Dahlan sekarang President Director Dafam Groups bertemu dengan Andhy Irawan, Managing Director Dafam Groups saat ini. Mereka berdua sepakat berkongsi lantaran punya visi dan misi yang sama dalam manajemen perhotelan.

Tidak butuh waktu lama, pada 2010, Dafam langsung menorehkan namanya di dunia perhotelan dengan mengakuisisi (dan merenovasi) sebuah gedung di Semarang menjadi Dafam Hotels pertama.

Andhy Irawan, Managing Director Dafam Groups
Andhy Irawan, Managing Director Dafam Groups

Dari sini kiprah Dafam semakin menggelora, terutama di daerah-daerah. Bermain di secondary cities dan third cities memang merupakan salah satu strategi mereka untuk merebut pasar. Strategi yang cerdik. Pasalnya, jumlah pemain bisnis perhotelan di daerah-daerah belumlah sebanyak di Jakarta yang selama ini memang menjadi lahan basah para investor dan pengembang.

Selain itu, bermain di daerah juga menguntungkan karena lebih mudah memprediksi tren yang bakal berkembang di suatu kota. Semua kota di Indonesia umumnya berkiblat ke Jakarta, apa yang sedang hype di Jakarta biasanya akan ditiru di daerah. Di Jakarta, tren selalu berubah cepat. Kesulitan itulah yang ditemui di Ibu Kota. Tapi di daerah perubahan tren tidak terlalu cepat, jadi [kami] bisa membuat target plan yang baik, tutur Ninik Haryati, Corporate PR Manager Dafam Hotels.
Kendati mengikuti tren, konsep layanan di setiap hotel mereka tetap memiliki ciri khas serupa, yaitu mengedepankan budaya lokal. Dafam Hotels Semarang, misalnya. Meski berarsitektur modern, hotel itu menawarkan sajian jamu gendong. Sedangkan Dafam Hotels Yogyakarta menyediakan menu gudeg yang menjadi ciri khas kota tersebut.

Kecepatan Dafam menguasai pasar di daerah secara langsung juga menobatkan mereka sebagai pionir dunia perhotelan di daerah. Menjadi pionir merupakan suatu keuntungan besar, terutama jika dikaitkan dengan brand image dan trust yang sedang dibangun. Perlu diketahui, Dafam Hotels baru berumur empat tahun, jadi brand image dan trust tetap menjadi prioritas utama mereka.

Yang menarik, dalam bisnis hotel ini Dafam tidak hanya membangun hotel semata. Ada fleksibilitas dan kelenturan bisnis dari sekadar sebuah bangunan hotel yang besar dan kaku. Mereka kini juga memperluas bisnisnya dengan menjadi operator hotel. Bisnis operator hotel Dafam mencapai 85% dari total hotel yang dijalankan sendiri oleh mereka.

Perluasan bisnis dengan menjadi operator hotel ini bisa terjadi karena mereka mendapatkan banyak permintaan dari klien untuk mengoperasionalkan hotel klien.

Peran Dafam sebagai operator hotel di sini adalah membantu klien dalam berbagai hal: dari tahap perencanaan, perekrutan, training, hingga manajemennya. Profitnya diperoleh dari biaya operasional yang dibayarkan klien.

Dafam Hotel Semarang
Dafam Hotel Semarang

Di samping menjadi operator hotel, Dafam juga memberikan beberapa opsi kerja sama. Misalnya opsi built operate transfer (BOT) dengan investor. Dalam konsep BOT ini, investor akan menyiapkan tanahnya dan Dafam Group membangun hotel di atas tanah tersebut. Bentuk investasi klien kami adalah tanahnya dan untuk pembagian keuntungan bisa dihitung dari persentase, papar Ninik.

Kesuksesan Dafam Hotels juga dipengaruhi dari service yang diberikan kepada klien mereka. Menurut Ninik, apa yang mereka berikan bukan sekadar service tapi lebih kepada caring. Kami benar-benar menunjukkan kepedulian untuk membantu klien, ujarnya. Bantuan itu antara lain berupa tambahan dana, melayani konsultasi selama masa konstruksi, menawarkan bantuan perizinan, perencanaan harga, proses tender hingga ke pemasaran hotel.

Strategi inilah yang menjadi kunci melejitnya perkembangan bisnis Dafam Hotels dalam tempo kurang dari lima tahun. Pembangunan jaringan hotel dan pengelolaan yang baik juga membuat mereka mendapatkan pengakuan berupa sejumlah penghargaan bergengsi.
Antara lain Indonesia Leading Local Hotel Chain 2011/2012 di ITTA Award, The Best Innovation Marketing 2011 di Marketing Award, Leader in New Chain Hotel di Indonesia Travel Business Leader Awards 2012, dan International Arch of Europe Awards 2013 di Jerman.

Penghargaan yang telah diraih membuat langkah Dafam Hotels semakin mantap untuk melebarkan sayap di dunia perhotelan Indonesia. Optimisme ini terlihat dari manuver yang bakal mereka lakukan pada 2015.

Tidak tanggung-tanggung, targetnya membangun 38 hotel.
Ninik mengatakan, sekarang Dafam Hotels sudah menyelesaikan pembangunan 23 hotel, sedangkan 15 hotel sisanya masih dalam tahap penjajakan kerja sama. Investasi tiap-tiap hotel berbeda. Rata-rata investasi untuk hotel bintang tiga sekitar Rp70-80 miliar, sedangkan bintang empat di atas 100 miliar. Jadi total investasi dalam pembangunan 38 hotel ditaksir mencapai Rp1 triliun, imbuhnya.

Dafam juga tengah bersiap untuk terbang lebih tinggi lagi dengan rencana merambah pasar luar negeri. Mereka kini sedang melakukan penjajakan untuk membuka Dafam Hotels di Malaysia dan Singapura. Jika ini terealisasikan, maka Dafam tentunya akan semakin menancapkan kukunya  di dunia perhotelan, tidak hanya Indonesia tapi juga di Asia Tenggara. Wicaksono

 

 

About The Author

Related posts