September 22, 2021

Sihir Properti Negeri Kanguru

Story Highlights

Bagaikan magnet, properti asal Australia itu berhasil menyedot perhatian konsumen di Tanah Air. Bagaimana peluang investasinya?

Property-In.co – Tiga bulan terakhir ini Michael Ginarto, Crown Head of Asia, makin sering bolak-balik Jakarta-Australia. Dia bersama timnya sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan penjualan Sydney by Crown, properti terbaru Crown International Holdings Group yang terletak di Sydney, Australia.

Tanggal 26-27 November ini Pak Iwan Sunito [CEO Crown Group] akan datang ke Jakarta, kata Michael saat ditemui di Hotel Alila pada 11 November 2014. Kedatangan Iwan, selain untuk berpromosi, juga untuk mengumumkan proyek pertama Crown di Indonesia.

Ternyata kerja keras Michael tidak sia-sia. Dalam acara launching di Jakarta, properti mereka terjual habis hanya dalam tempo satu jam. Total penjualannya lebih dari Rp300 miliar. Kami telah menjual 25 apartemen Sydney by Crown untuk pangsa pasar Jakarta, kata Michael yang sangat puas karena hasil penjualan tersebut juga membukukan rekor baru bagi mereka.

Sydney by Crown, proyek yang ditawarkan untuk pasar Indonesia tadi, merupakan bangunan apartemen 25 lantai dengan nilai pembangunan sebesar Rp2,5 triliun. Apartemen ini dirancang oleh arsitek kaliber internasional Koichi Takada, kata Michael. Unit yang mereka jual ditawarkan dengan harga Rp900 juta sampai Rp20 miliar.

Pasar yang Seksi
Crown International Holdings Group (Crown Group) didirikan di Australia oleh trio Iwan Sunito, Paul Sathio, dan Anthony Sun. Iwan seorang arsitek, Paul insinyur teknik sipil yang berpengalaman, dan Anthony agen properti asal Hong Kong. Kombinasinya lengkap: yang satu mendesain, satunya menggodok, dan satunya lagi memasarkan. Crown Office 01

Setelah membuat serangkaian proyek hunian yang sukses di Sydney, Crown Group menuai reputasi bagus di dunia sebagai pengembang hunian dengan fasilitas bergaya resor dan layanan purnajual prima. Sayang, Anthony kemudian mengundurkan diri sehingga tinggal Iwan dan Paul saja.

Pada 2014, Crown telah mengembangkan beragam proyek dengan nilai pasar AU$3,5 miliar (sekitar Rp37,3 triliun). Seiring dengan bertumbuhnya proyek-proyek itu, mereka merasa sudah waktunya ekspansi keluar negeri.
Crown mulai memasuk pasar Indonesia pada 2013. Potensi Indonesia besar sekali. Mulai dari tingkat penghasilan, konsumennya, PDB-nya naik hingga hadirnya Presiden Jokowi yang membawa harapan baru, kata Michael. Selain pasarnya memang seksi, Indonesia juga punya kedekatan khusus dengan Iwan dan Paul. Pasalnya, Iwan lahir di Surabaya, besar di Pangkalan Bun; sedang Paul lahir dan besar di Bali, lalu pindah ke Australia.

Michael mengatakan, Crown menawarkan layanan one stop shopping-dari a sampai z, dari urusan legal hingga pendanaan kepada investor yang membeli properti mereka di Australia. Nanti kalau disetujui, pinjam uangnya bagaimana; after sales service-nya, dan kalau gedung sudah jadi bagaimana menyewakannya. Itu semua kami bantu.

Hanya 1,6%
Australia merupakan salah satu negara tujuan pelajar Indonesia. Dari sekitar 50.000-an mahasiswa di luar negeri, yang terbanyak berada di Australia, lalu Singapura, Amerika, dan seterusnya. Australia juga merupakan negara yang stabil politiknya, kuat secara ekonomi, dan kaya akan sumber daya alam.
sydney crowngroupSementara Sydney merupakan kota dengan populasi terbanyak (4,7 juta jiwa) dan tujuan pariwisata global. Vacancy rate apartemen di sana rendah, hanya 1,6%. Jadi 99,4% selalu terisi penuh, kata Michael. Ia menambahkan, pertumbuhan properti di Sydney paling tinggi di seantero Negeri Kanguru: 17% setahun.

Selain itu skema pembiayaan properti di sana mudah dan menarik. Uang mukanya cuma 10%. Sisanya dibayar nanti saat gedung sudah jadi: 20% dari pembeli, 70% lagi dibayar melalui pinjaman bank. Pembiayaan properti di Negeri Kanguru memang lebih murah karena suku bunganya lebih rendah dibanding Indonesia.
Hal ini diakui oleh pengamat properti Panangian Simanungkalit. Lebih mudah akses membeli properti di sana. Itu juga mungkin yang menjadi daya tarik orang-orang tertentu, katanya. Uang mukanya 10%, terus sisanya dibayar setelah selesai. Ya, itu memang menjadi daya tarik.

Namun dia menilai konsumen Indonesia membeli properti di sana lebih karena alasan prestise bukan sebagai primary investment. Jadi sambil jalan-jalan ke sana bisa membangun sebuah pengalaman sebagai investor. Saya kira tidak ada salahnya.

Namun, yang juga bisa menjadi bahan pertimbangan investor adalah masa depan Sydney bagus. Pemerintahnya siap mengucurkan dana sebesar AU$60 miliar untuk merevitalisasi seluruh kota: transportasi umum diperbaharui, taman diperbanyak, perpustakaan dan electric street car juga dibangun. Nah, mengingat properti merupakan salah satu kendaraan investasi terbaik di dunia, Michael berpesan, Don’t wait to buy property. Buy property, and wait.

About The Author

Related posts