Oh Singapura, Riwayatmu Kini!

Sesudah tax amnesty, Trump, Brexit dan referendum Italia, nasib Singapura semakin tak karuan. Ekonominya melemah, propertinya terkulai hingga ke titik nadir.

 singapura

Bahwa ekonomi dunia sedang melempem memang benar. Karena tak hanya Indonesia saja yang merasakan, saudara dekat kita dari keturunan bangsa Mongol pun mendapati hal serupa, bahkan lebih parah. Jika Indonesia konsisten dengan pertumbuhan ekonomi di angka 5,1% sejak kuartal satu 2016; Singapura hanya mampu menyentuh angka 3% hingga kuartal tiga tahun ini.

Meskipun sudah lebih baik dibandingkan pencapaian ekonomi di kuartal yang sama tahun sebelumnya, namun angka tersebut masih jauh di bawah estimasi. Otoritas keuangan Singapura sebelumnya pernah memprediksi bahwa ekonomi negaranya bisa terkontraksi sampai 4,1% pada kuartal tiga 2016. Tetapi, hingga tiba pada waktunya mereka hanya mampu menyentuh angka 1,1%.

Kenyataan ini menimbulkan polemik besar bagi investasi negara yang terletak di selatan Semenanjung Malaya tersebut. Apalagi kelihatannya tren ini akan terus berlanjut hingga tahun depan.

Perusahaan finansial Nomura Holding mengungkapkan, tahun depan kemungkinan akan menjadi masa terberat bagi ekonomi Singapura. Banyaknya peristiwa yang terjadi di pengujung tahun—mulai dari terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, naiknya suku bunga The Fed, referendum Italia, tax amnesty di Indonesia, hingga tragedi penembakan Dubes Rusia di Turki—ditengarai bakal meluluhlantahkan kondisi perekonomian negara yang terdiri dari 63 pulau tersebut.

Nomura memprediksi dengan kondisi global seperti sekarang, ekonomi Singapura bisa jadi hanya bertumbuh 0,7% tahun depan. Hal ini pun sejalan horisontal dengan proyeksi investasi propertinya.

singapura2

Pertama kali dalam sejarah, survei Urban Land Institute—dengan masukan dari Price waterhouse Coopers (PwC) LLP—menyatakan bahwa, posisi Singapura pada jajaran pasar properti paling menarik di Asia merosot tajam ke peringkat  21. Turun 10 tingkat dibandingkan proyeksi tahun sebelumnya yang berada di posisi ke-11.

Kombinasi pelemahan ekonomi, kelebihan pasokan, penurunan permintaan, dan kejatuhan harga perumahan selama 12 kuartal berturut-turut telah menjadi badai besar bagi investasi di Negeri Singa. Bahkan saat ini, Singapura merupakan satu-satunya pasar properti Asia Pasifik yang menderita penurunan siklus.

Jika dibandingkan secara historis, Singapura belum pernah berada di bawah peringkat 20. Pada 2007-2013, posisi mereka selalu di peringkat lima besar. Bahkan sempat menempati posisi nomor wahid pada 2011-2012. Akan tetapi, sejak 2014, angka itu berangsur-angsur menurun, mulai dari peringkat ke-7, 9, 11, hingga ke posisi saat ini (21). 

Sudah Jatuh, Tertimpa Malaysia Pula

Subjudul di atas ini rasanya cukup tepat menggambarkan bagaimana getirnya nasib properti Singapura sekarang. Setelah mendapatkan penurunan yang sangat drastis selama beberapa tahun terakhir, nasib mereka pun semakin terancam dengan hadirnya pasokan-pasokan properti baru dengan harga yang lebih murah di perbatasan Malaysia-Singapura. 

Dalam sebuah catatan di Bloomberg Businessweeek tertulis, baru-baru ini pengembang besar, Country Garden Holdings Co, dikabarkan sedang mengembangkan proyek senilai $100 miliar di Johor Bahru. Lokasinya persis di depan perbatasan antara Malaysia dan Singapura.

Skalanya empat kali lebih besar dibandingkan New York Central Park. Dan akan terdiri dari gedung perkantoran, taman, hotel, pusat perbelanjaan, serta sekolah internasional yang terbungkus dengan tanaman-tanaman hijau. Country Garden bertaruh bahwa Johor Bahru akan menjadi ‘The Next Shenzen’.

Keadaan seperti ini jelas sangat mengkhawatirkan bagi pemain-pemain properti Singapura. Kenapa? Harga yang ditawarkan pada setiap unit, baik perkantoran, retail ataupun residensial di sini jauh lebih murah dibandingkan yang ada di CBD (central business district) Singapura.

Karena itu, kemungkinan besar para investor di tanah yang pernah diinjak Thomas Stamford Raffles pada 1819 ini pun akan bergeser ke Johor Bahru. Nasib malang bagi investor Negeri Singa.

Duh Singapura… sudah jatuh, tertimpa Malaysia pula!

 

Fajar Yusuf Rasdianto (dari berbagai sumber)

About The Author

Related posts

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *