Landed House, Rumah Masih Jadi Jagoan

Meski hunian vertikal kian menjamur, investasi rumahbaru maupun bekasselalu menjadi pilihan paling tepat dan aman. Untuk tahun depan pun, rumah diyakini masih menjadi investasi terbaik.

Oleh: Aziz Fahmi Hidayat

Laporan: Fajar Yusuf Rasdianto dan Richardus Gunawan

landed house rumah

Lalu lalang kendaraan kini hampir tidak pernah berhenti melintasi jalan-jalan di kawasan hunian seluas 240 hektar milik Summarecon Bekasi. Di sejumlah titik tampak, seperti di pintu masuk mal, kawasan komersial Sinpasa dan area pusat kuliner La Terazza, tampak terjadi kepadatan. Township yang mulai dikembangkan sejak 2010 ini sekarang telah hidup dan ramai berkat keberadaan sejumlah fasilitas penunjang. Terlebih dengan keberadaan Fly Over KH Noer Ali yang menghubungkan kawasan Bekasi Utara dengan Kota Bekasi, kawasan ini seakan tidak pernah mati.

Setelah resmi merilis klaster pertamanya pada 2012, yakni klaster Palm yang terdiri dari  unit rumah 2 lantai dan dilepas dengan harga Rp500-920 juta, pengembang spesialis kota mandiri ini berturut-turut mengeluarkan klaster-klaster lainnya. Pada 2015, kenaikan harga unit rumah dengan jumlah lantai yang sama telah mencapai angka Rp4,4 miliar, yakni untuk klaster Vernonia.

Kenaikan signifikan tersebut terjadi karena kawasan ini dikembangkan dengan konsep yang terbilang lengkap, baik dari segi infrastruktur maupun keragaman fasilitas yang ada. Selain itu, Summarecon Bekasi juga memberikan fasilitas lingkungan yang asri, sejuk, dan mengedepankan tata ruang yang terpadu serta terintegrasi. Jadi, wajar saja jika kenaikan gainnya tergolong bombastis.

Padahal, sedikit menengok ke belakang, sebelum ‘dipermak’ oleh Summarecon, area ini hanyalah lahan tidak produktif dan terkesan kumuh karena sempat menjadi tempat penampungan drum-drum bekas minyak atau sehingga tak banyak orang membeli atau membangun properti disana. Kalau saat ini kenaikan harga properti di sana begitu menggiurkan, itu tak lepas dari keberadaan aneka fasilitas yang dikembangkan oleh Summarecon dan sejalan dengan visi-misi pemerintah Kota Bekasi.

Begitu pun yang terjadi dengan kota mandiri Citra Maja Raya besutan developer raksasa Indonesia, Ciputra Residence. Proyek kota terpadu terbesar kedua Ciputra Group ini dibangun dengan mengedepankan konsep Transit Oriented Development (TOD) sehingga memberikan peluang investasi yang menggembirakan.

Pada awalnya, Citra Maja Raya hadir sebagai salah satu alternatif mendapatkan rumah tapak yang dekat Jakarta namun dengan fasilitas memadai. Namun, kini kawasan tersebut juga menyimpan potensi investasi yang tak kalah legitnya dengan produk-produk landed Ciputra lainnya. Itu pula yang ditegaskan Yance Onggo, Marketing Manager Citra Maja Raya. Dia menyebutkan bahwa produk-produk yang berada di Citra Maja mengandung value cukup tinggi bila dimiliki oleh investor sebagai ladang investasi jangka panjangnya.

“Citra Maja memberikan kesempatan investasi yang berkelanjutan karena masih dalam tahap pengembangan yang terus-menerus dan sesuai dengan ekspektasi pasar,” ujar Yance ketika ditemui di JW Marriot pertengahan bulan lalu.

Tentunya banyak dari kita yang tidak tahu seperti apa dulu kawasan Maja yang terletak di antara jalur Banten dan Tangerang ini. Pagar-pagar alami berupa hutan di sepanjang sisi jalan, kondisi jalan rusak, lampu penerangan seadanya hingga minimnya kesediaan transportasi membuat daerah ini hampir tidak memiliki nilai investasi.

Namun, kini kondisinya berubah 100%. Skema TOD yang berbasis di Stasiun Maja yang merupakan simpul transportasi (hub) melewati wilayah Serpong hingga ke Stasiun Tanah Abang, membuat produk perumahan ini menjadi primadona baru di Banten.

Pages: 1 2