It’s Gonna be Super Wow! – Iwan Sunito

Crown Group, developer asal Australia, tampak semakin serius menggarap pasar Indonesia. Bila sebelumnya hanya sekadar ‘mengekspor’ properti-properti mereka dari Negeri Kanguru, mereka kini berancang-ancang mengembangkan proyeknya sendiri di Tanah Air.

Property-In.co – Rencananya, Crown akan membangun sebuah superblok (mixed use) spektakuler senilai 15 triliun rupiah. Proyek yang lokasinya masih dirahasiakan itu mencakup perkantoran, retail, sekolah, mal, dan hunian. “Pokoknya, it’s gonna be super wow!“ kata Iwan Sunito, CEO Crown International Holdings Group, saat ditemui di Hotel Grand Hyatt Jakarta, 15 Agustus lalu.

Iwan mengungkapkan dia kini sedang mengumpulkan beberapa development pipeline untuk proyek selanjutnya. Setelah itu baru mendaftarkan perusahaan di lantai bursa. “Itu big picture Crown di Indonesia,” kata Iwan. Berikut ini petikan lengkap perbincangannya dengan wartawan Property-In, David S. Simatupang dan Fajar Yusuf Rasdianto:

Selain populasi dan pertumbuhan middle class, apa yang mendorong Crown ekspansi ke Indonesia?
Ada beberapa hal. Pertama, Indonesia punya potensi yang luar biasa. Terutama dengan adanya perubahan cara hidup. Ini global trend, termasuk di Indonesia.

Sekarang banyak orang memilih tinggal di tengah kota karena mau mencari akses, convenience, kerjaan, dan lifestyle. Dulu 50 tahun lalu hanya 20% orang yang tinggal di tengah kota, saat ini angkanya sudah mencapai 55%. Ini tren global di dunia.

Di Australia, 20 tahun lalu orang tinggal di apartemen karena murah. Namun, sekarang anak-anak muda yang mengutamakan gaya hidup lebih memilih tinggal di apartemen. Apalagi kalau ada fasilitas mewah seperti kolam renang besar, club house, piano room, gym dan sebagainya—yang tak bisa didapatkan di rumah.

Tentunya ini tawaran menarik buat mereka. Apalagi apartemen yang kami desain kualitasnya really good. Nah, kami melihat ada kebutuhan terhadap hal ini di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia.

Kedua, Indonesia is one trillion economy dan diprediksi akan menjadi ekonomi terbesar ke-7 pada 2030 dalam hal daya beli.

Iwan Sunito, CEO Crown International Holdings Group
Iwan Sunito, CEO Crown International Holdings Group

Kami juga melihat banyak orang Indonesia menjadi investor global dengan melakukan ekspansi ke luar negeri seperti ke Singapura, Amerika, termasuk juga Sydney.

Banyak sekali orang superkaya di Indonesia yang tidak terekspos majalah ternyata asetnya di mana-mana.

Ketiga, saya ingin kembalikan sesuatu kepada Indonesia. Investasi pulang kampunglah. Seperti pada 2013 di depan Diaspora Congress, saya bilang bahwa dengan program diaspora, slogan pulang kampung bukan hanya slogan tapi sebuah kenyataan.

Program diaspora yang berkelanjutan akan membawa orang-orang di luar negeri melihat kembali Tanah Air-nya, mengenalkan mereka kepada para pembuat keputusan, dan lama-kelamaan mereka pun akan kembali pulang. Persistence break resistance.

Itu yang menjadi kerinduan saya untuk kembali ke Indonesia. Memang kami juga ingin hadir di banyak negara—Australia, Asia (Indonesia dan Singapura), Amerika, dan China—supaya menjadi global company.

Di Indonesia kami mulai merintis dengan membuka kantor dua tahun lalu, dipimpin oleh Michael Ginarto. So, we wanna give back karena memang potensi Indonesia luar biasa.

Apa proyek pertama Crown di Indonesia?
Superblok. Ada retail, office, education, mall, dan residential. Kira-kira 500.000 meter persegi, cukup luas. Tapi saya belum bisa umumkan detail karena masih ada pengurusan yang masih harus diselesaikan.

Lokasinya?
Belum bisa kami sebutkan. Pokoknya, it’s gonna be super wow. Intinya, kami bukan hanya membangun gedung, tapi juga legacy (warisan). Saya ingin di mana pun gedung Crown berada, orang-orang akan bilang wow. Kalau kami belum sampai ke innovative design, kami akan terus eksplor.

Itu juga menjadi diferensiasi Crown?
Crown Group fokus menciptakan arsitektur yang iconic. Kami mencurahkan banyak waktu untuk desain supaya menimbulkan efek ‘wow’. Kami tak hanya membangun gedung, tapi juga membangun experience of space. Jika seseorang melihat gedung kami dan masuk ke dalam ruangannya, dia akan melihat semuanya itu menarik.

Kami betul-betul memikirkan bagaimana sebuah ruangan itu ditemukan. Jadi ada journey of discovery. Contohnya,Green Square di Sydney.

Ketika mereka masuk nanti ada piazza dengan tembok melengkung; setelah itu mereka bisa naik ke atas, ada club house bagi private residence; atau ke kolam renang yang berada di bawah kanopi 23 tingkat. Ada piano room, ada gym.

Crown banyak dapat award karena gedung kami memang indah dalam banyak hal. Luar dan dalam. Itu karena kami benar-benar memikirkan desainnya dan benar-benar inovatif.

Proyek di Indonesia juga bakal seperti itu?
Ini yang kami konsepkan dan tawarkan ke international company yang akan bersinergi dengan kami. Mereka kaget sekali ketika melihat konsep desainnya. Setelah enam bulan kami eksplor, akhirnya kami menemukan sebuah konsep yang akan jadi pertama di Asia dan di Indonesia. Kami akan mulai leveling tanah pada 2016, tahun berikutnya ground breaking.

Apa entry barrier yang dihadapi saat masuk ke Indonesia?
Setiap masuk ke suatu negara, kita harus paham tentang negara itu. Misalnya tentang kekuatan pasarnya, kompetitor, termasuk perizinannya. Yang tersulit di Indonesia adalah kepemilikan tanah yang sangat tak jelas sehingga gerakan kami jadi lambat sekali.

Ini juga menyulitkan bagi developer-developer Australia yang mau masuk ke Indonesia. Hal ini tidak membantu untuk supply, padahal dibutuhkan supply yang banyak supaya harga properti tidak naik terus.

Saya pikir negara-negara di Asia seperti Singapura dan Thailand itu lebih mudah mengurus kepemilikan tanah. Anjuran saya, kenapa tidak ditentukan dengan KPI saja? Tahun ini misalnya masih 5%, sisanya masih milik adat.

Lalu dibereskan jadi 20%, selanjutnya 30%. Bisa dimulai dari kota Jakarta dulu. Itu harus jadi inisiatif pemerintah karena mereka yang bisa menentukan KPI yang harus dicapai.

Investasi orang superkaya Indonesia di Australia saja sudah 1 triliun dolar. Kalau itu dibawa ke Indonesia ‘kan sudah besar banget dan menjadi lapangan kerja yang bagus. It’s time, Indonesia have to be hub of the world.

Kita bisa belajar dari negara-negara lain yang menjadi hub of education. Begitu orang datang sekolah, dia perlu rumah sakit, perlu kerjaan, perlu bisnis, dan setelah balik ke negaranya mereka sudah jadi trading partner.

Nah, negara-negara maju berani mengeluarkan uang untuk mengirim orang sekolah ke luar negeri. Setelah itu 99% bisnisnya pasti dengan negara itu. Menurut saya, Indonesia harus mampu menjadi hub of Asia. Kalau Singapura bisa, Indonesia pasti bisa. Saya yakin pemerintah juga sudah memikirkan hal ini.

Apa pula perbedaan iklim properti Indonesia dan Australia?
Di sana konsumen dilindungi sekali sehingga mereka hanya membayar 10% saja, sisanya dibayar setelah properti itu rampung. Tidak seperti di sini, developernya belum membangun pun pembelinya harus tetap bayar—dan banyak developer spekulator.

Harusnya seperti di Australia funding-nya tidak dari pembeli, tapi dari bank. Tapi bank menyeleksi dulu sebelum memberikan dana itu kepada developer. Bagusnya di sana konsumen digaransi, dan developer bisa funding melalui bank. Bunga KPR di sana juga lebih murah, hanya 3-4%.

Rencana Crown di Indonesia dalam 3-4 tahun ke depan?Sydney-Infinity-by-Crown
Kami sedang mengumpulkan beberapa development pipeline.

Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang punya tanah tapi tak punya skill, namun melihat Crown Group itu punya skill dan integritas.

Jadi saya sedang mengumpulkan beberapa deal cukup besar, setelah itu baru me-listing-kan perusahaan (go public). Itu big picture Crown di Indonesia.

Proyek pertama kami nilainya Aus$1,5 billion (sekitar 15 triliun rupiah). Saya sedang negosiasi lagi untuk proyek kedua, nilainya juga hampir sama.

Tidak khawatir melihat perekonomian Indonesia sedang lesu?
Saya malah lebih suka masuk pas lagi resesi. Kalau lagi booming, harga tanahnya terlalu mahal.

Lagipula, proyek kami juga rencananya 2017 baru siap dipasarkan.

Terakhir, apa yang harus dipersiapkan developer asing bila masuk ke Indonesia?
Pertama, pemahaman terhadap pasar lokal, termasuk soal pengurusan izin, dan juga tim yang kuat untuk membangun proyeknya.

Dalam hal ini saya sudah punya partner lokal yang very good. Menurut saya, asing harus tetap merangkul developer-developer lokal karena kami tidak mungkin tahu detail kondisi negara itu seperti mereka. – David S. Simatupang, Fajar Yusuf Rasdianto

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *