Bangunan-Bangunan Berbahan Kertas

Property-In.co – Beton, kayu, besi, baja adalah bahan-bahan yang umum digunakan untuk struktur bangunan. Tapi bagaimana kalau sebuah rangka bangunan terbuat dari tabung kertas? Arsitek dari Jepang ini dapat melakukannya.

Shigeru Ban, arsitek kelahiran 5 Agustus 1957, sudah lama menjadi buah bibir di kalangan arsitek dunia karena karya-karyanya yang luar biasa. Pelbagai penghargaan kerap ia raih dalam berbagai kesempatan.

Ban, begitu ia kerap dipanggil, berinovasi membuat bangunan dari bahan kertas dan karton yang didaur ulang. Dengan terobosannya, ia bersama timnya yang tergabung dalam Shigeru Ban Architects (SBA) mampu dengan cepat dan efisien membangun rumah untuk korban bencana alam.

Shigeru-Ban
Shigeru-Ban

SBA awalnya memang fokus membangun hunian fungsional dari bahan kertas sebagai material kontruksinya.

Lebih spesifik lagi, mereka menggunakan tabung berbahan kertas dalam berbagai dimensi dan ketebalan sesuai dengan skala proyek yang dikerjakan.

Tentunya hal ini membutuhkan eksperimen panjang dalam mematangkan perencanaan desain.

“Hal yang juga penting adalah pemilihan bahan tabung kertas sebagai bahan yang berkelanjutan,” kata Ban.

Struktur bangunan tabung kertas baru-baru ini mereka terapkan dalam pembangunan Katedral Christchurch di Selandia Baru. Sebelumnya, gempa telah menghancurkan ikon ternama di Selandia Baru itu.

Setelah gempa, pendeta di Christchurch mencoba mengkontak Shigeru Ban untuk menanyakan jasa arsitek untuk membangun rumah sementara di tempat bencana.

Namun, Ban menjawab bahwa dia tidak akan menagih bayaran karena nantinya katedral tersebut juga akan digunakan oleh orang banyak selain acara keagamaan.

Konsep pembangunan katedral ini adalah mereproduksi atap depan yang berbentuk segitiga sama sisi dan juga atap belakang gereja yang berbentuk segi tiga sama kaki. SBA merancang kontruksi dengan biaya murah berkapasitas 700 kursi.

Shigeru-Ban_Christchurch
Shigeru Ban – Christchurch

Mereka juga memprioritaskan penggunaan produk lokal. Tabung kertas diperkuat oleh kayu laminasi yang dibuat di pabrik tabung kertas di sekitar Christchurch. Untuk membangun kembali katedral Christchurch, SBA menggunakan 196 tabung kertas dengan jarak 15 cm satu sama lainnya.

Akhirnya, pembangunan Katedral Christchurch ini rampung pada Juli 2013. Tidak hanya untuk acara keagamaan, katedral tersebut juga digunakan untuk event-event besar dan konser musik.

Shigeru Ban mulai berkecimpung pada proyek-proyek bencana karena ia merasa tidak puas dengan fungsi arsitek yang kebanyakan untuk membangun bangunan kelas sosial tertentu. Ia pun memilih mengembangkan struktur tabung karton untuk bangunan sementara seperti tempat penampungan bencana. “Bahan ini kami pilih karena tahan lama, mudah dirakit, murah dan dapat digunakan untuk bangunan luas sekalipun,” katanya.

Banyak sudah karya Ban dalam proyek penanggulangan bencana. Pada 1994, ia membangun camp untuk pengungsi di Rwanda. Ia juga membangun bangunan kertas di Kobe, L’Aquila Concert Hall di Italia, dan di Hualin—sebuah bangunan sementara untuk sekolah dasar di China.

SBA biasanya menciptakan solusi bangunan sesuai dengan sistem penampungan yang ada. Di Jepang, korban bencana ditempatkan di gymnasium selama 6 bulan sampai perumahan sementera dibangun.

Di antara proyek-proyeknya, beberapa klien juga meminta penggunaan signatured struktur tabung kertas miliknya. Paviliun Hermes Maison di Milan Design Week 2011, misalnya. Paviliun ini dirancang seperti sebuah rumah terbuka dengan kolom tabung kertas guna menunjukkan koleksi furnitur kontemporer yang dirancang untuk Hermes. Ruangannya pun didesain dengan nuansa lokal.

Shigeru-Ban_The-PaperFitur khususnya adalah potongan kertas berukuran besar yang berfungsi sebagai atap dan anyaman horizontal di kolom bangunan sebagai dindingnya.

Alhasil, cahaya yang masuk ke dalam ruangan menciptakan kesan lembut dan siluet yang indah.

Salah satu karya terpenting Ban adalah The Paper Tea House. Karya ini merupakan bagian dari pameran seni dan budaya Jepang yang dihelat di London pada 2008. Seluruh bagian rumah terbuat dari tabung karton persegi panjang yang didaur ulang.

The Paper Tea House diisi oleh sebuah furnitur meja, 4 kursi dan bangku tunggu di depannya. Tak ayal, hal ini mengundang pertanyaan apakah di masa depan seluruh rumah akan terbuat dari kertas? Namun, Shigeru Ban menjawab, “tidak”. Mereka sangat paham bahwa bahan dari kertas memiliki banyak kekurangan bila dibandingkan dengan kayu dan baja.

Sejatinya, tabung kertas ini memang hanya ditujukan untuk struktur bangunan sementara. Daya tahan tabung pun tergantung pada fungsinya—apakah nantinya tabung diletakkan di dalam ataupun di luar ruangan.

Menurut Ban, kalau orang mencintai bangunan kertas tersebut maka bangunan tersebut akan bertahan lama. Bahkan, bangunan sementara itu bisa menjadi permanen. Ban memberi contoh gereja berbahan kertas di Kobe mampu bertahan selama 10 tahun sebelum akhirnya harus direlokasi.

SBA sebenarnya tidak bekerja secara eksklusif hanya pada proyek bencana. Mereka juga memiliki portfolio bagus berupa beragam proyek perumahan dan komersial.

Hingga kini, mereka juga terus menerima proyek baru. “Bertemu dengan klien, tempat, dan material bangunan yang berbeda akan mengembangkan kecerdasan seorang arsitek,” kata Ban. Bahkan, lanjutnya, seorang arsitek harus memeproleh pengalaman di bidang umum sebelum dia menghasilkan karya arsitektur di lokasi bencana. – Richardus Setia Gunawan, berbagai sumber

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *