Kota-Kota Masa Depan

Laporan “The Wealth Report 2015” dari Knight Frank menetapkan kota-kota yang potensi masa depannya cerah.

Property-In.co – Kota-kota yang ditampilkan di sini bukanlah yang masuk daftar 10 besar atau 20 besar kota terpenting. Tidak ada satu pun yang menjadi idaman para miliuner. Tetapi populasi UHNWI/ultra high net worth individuals (kaum superkaya beraset investasi lebih dari US$30 juta) di dunia sedang meningkat, lokasi-lokasinya juga bertumbuh pesat di tingkat regional.

Meski belum menjadi pilihan “rumah kedua” para UHNWI, semua kota tersebut terpilih karena menawarkan peluang besar untuk menciptakan kekayaan.

Property-Belgrade_SerbiaBelgrade, Serbia
Belgrade memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan penduduknya. Meski jumlah penduduk kaya di sana hanya naik 12% sepanjang 2007-2014, pertumbuhannya bakal meelonjak 72% pada 2024.

Sebanyak 40% aktivitas ekonomi Serbia berasal dari kota ini. Belgrade juga berperan sebagai pusat bisnis dan keuangan di Eropa dan menjadi saksi meningkatnya investasi asing secara langsung.

Perkembangan gaya hidup selama beberapa dekade terakhir juga didorong oleh meningkatnya reputasi kota ini sebagai pusat turis dan pariwisata.

Lonely Planet telah menyebut Belgrade sebagai salah satu kota paling “ngetren” di Eropa, yang bisa memikat pengunjung kaum muda tinggal di sana. Mereka tertarik pada biaya perkantoran yang murah (tapi berkualitas tinggi) untuk mengembangkan bisnis internet dan startup.

Panama-CityPanama City
Kondisi geografis unik Panama—yang dilengkapi kanal—bisa membantu pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kekayaan ibukotanya, Panama City, dengan menghubungkan dua daerah terpisah: Latin dengan Amerika Utara.

Populasi orang kaya di sana naik dua kali lipat sejak 2007 menjadi sebanyak 4.700 pada 2014, dan diprediksi akan menjadi 7.000 pada 2024. Ramalan The Economist yang menjuluki kota ini sebagai “Singapura-nya Amerika” tampaknya bisa terwujud di masa depan.

Dalam konteks Amerika, Panama mampu menawarkan stabilitas hukum dan ekonomi. Para investor tertarik pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi, plus iklim perpajakan yang sangat kompetitif. Semua itu turut berkontribusi meningkatkan investasi asing 9% dari PDB beberapa tahun terakhir.

Program pariwisata turut menambah daya tarik kota tersebut. Transportasi, pelayanan kesehatan berkualitas tinggi, dan meningkatnya jumlah hotel-hotel bermerek global mampu menarik investasi dari para pengusaha yang ingin mengembangkan bisnisnya—terutama di bidang kuliner dan gaya hidup.

Addis-Ababa,-EthiopiaAddis Ababa, Ethiopia

Ethiopia—negara di Afrika yang ekonominya tumbuh paling pesat—tidak hanya diuntungkan oleh kondisi politik di Addis Ababa, tapi juga dari 3,8% pertumbuhan populasi tahunan di kota tersebut. Jumlahnya akan meningkat hingga 8,1 juta jiwa pada 2040.

Populasi orang kaya juga telah meningkat dua kali lipat sejak 2007, mencapai 1.300 orang. Angka ini diperkirakan terus meningkat, mencapai 2.600 pada 2024.

Bisa dipahami jika sebagian populasi kota tersebut juga mengalami kesulitan seiring dengan pertumbuhan yang terjadi, seperti investasi publik untuk transportasi.

Dengan keberadaan kantor pusat serikat pekerja Afrika, kantor pusat Komisi Ekonomi PBB untuk Afrika, dan sejumlah organisasi internasional, kota tersebut dianggap sebagai ibukota politik benua Afrika yang memberikan kekuatan diplomatik dan politik untuk pertumbuhan ekonomi.

Property-Yangon-MyanmarYangon, Myanmar
Dengan jumlah orang kaya yang bertambah lebih dari dua kali lipat—diprediksi ada 3.500 miliarder pada 2024—Yangon sebagai kota terbesar di Myanmar bisa menjadi contoh klasik munculnya kota potensial baru.

Peningkatan ekonomi yang diikuti reformasi demokrasi di negeri itu berperan mendorong pertumbuhan investasi dan PDB Myanmar, yang diperkirakan bisa melebihi India dan China pada 2015-2016.

Yangon ditetapkan menjadi kota unggulan karena nilai properti non-residential di sana meningkat. Jumlah restoran, hotel, dan toko terus bertambah selama lima tahun terakhir.

Banyak pemain baru yang masuk. Kunjungan turis pun diramalkan naik dari 3 juta (2015) menjadi lebih dari 7 juta (2020). Asal tahu saja, tour ke Myanmar kini sudah masuk dalam daftar wisata turis-turis kaya. – Ivan Mulyadi (sumber: “The Wealth Report 2015”, Knight Frank)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *