Kapan mengambil untung, kapan bertahan

Property-in.co – Kisah berikut ini diceritakan kembali oleh seorang kawan terkait dengan jual-beli saham di dunia pasar modal. Alkisah, seorang pemburu kalkun pagi-pagi pergi meninggalkan rumahnya, masuk ke hutan untuk menangkap kalkun.

Ia lantas memasang perangkap dan menunggu. Tak lama kemudian ia mendengar perangkapnya berbunyi. Dia pergi memeriksa dan mendapati seekor kalkun telah masuk ke dalam perangkap itu.

“Wah, tapi ini masih pagi. Saya akan menunggu lagi supaya bisa menangkap kalkun lebih banyak,” pikirnya. Tak berapa lama terdengar lagi perangkapnya berbunyi dan sang pemburu melihat ada lagi kalkun yang masuk ke perangkapnya.

Demikian terjadi beberapa kali sampai hari mulai siang. Sang pemburu memeriksa perangkapnya dan mendapati beberapa kalkun yang terperangkap. Lantaran berpikir hari masih panjang, dia  membiarkan perangkapnya menangkap lebih banyak kalkun.House-Sell

Ia lantas tidur beristirahat dengan pulas, berharap nanti sore bisa  pulang membawa hasil yang sangat banyak. Selang beberapa jam, ia terbangun oleh suara ribut dari perangkapnya. Ketika pergi memeriksa, ia sangat terkejut mendapati perangkapnya rusak terbuka karena terisi terlalu banyak kalkun dan kalkun-kalkun itu sudah menghilang berhasil melarikan diri.

Akhirnya, sore itu sang pemburu pulang dengan tangan hampa. Cerita ini selalu menyadarkan kita agar tidak tamak. Patoklah keuntungan yang kita inginkan, dan ketika kita sudah mencapai keuntungan yang diharapkan, maka juallah saham kita, lalu mengucap syukur atas rezeki yang kita dapat—sebelum nanti pasar tiba-tiba berbalik arah dan harga saham melorot lagi.

Kadang-kadang memang kita mudah terlena dengan kenaikan harga saham yang kita miliki, lalu terilusi bahwa semakin lama kita menunggu maka harga akan semakin naik dan untungnya pun semakin besar. Yang tidak jarang terjadi adalah ternyata harga saham lantas merosot dan ‘kalkun-kalkun’ kita pun akhirnya lepas.

Hal serupa juga bisa terjadi di dunia properti. Memang catatan sejarah di Indonesia tidak pernah membukukan penurunan harga properti secara nominal. Namun, seperti yang pernah saya tulis, Sang Waktu kadang-kadang bisa menjadi ‘musuh’ kita, yang sebenarnya membuat harga kita ‘turun’.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan
1. Tentukan harga jual yang wajar.
Jika Anda menetapkan harga jual terlalu rendah (dengan harapan properti Anda cepat laku), maka selain tidak memaksimalkan keuntungan, Anda juga bisa merusak harga pasar.

Sebaliknya, sejatinya tidak ada istilah harga yang terlalu tinggi. Hanya saja, value yang Anda deliver mungkin dianggap tidak sepadan dengan harga yang Anda minta. Pertimbangkan penawaran-penawaran yang masuk, dan lebih realistis-lah terhadap harga permintaan Anda.

2. Peka terhadap situasi pasar.
Jika berkali-kali mendapat tawaran di bawah harga yang Anda tetapkan, sebaiknya Anda melihat-lihat pasar.

Apakah Anda memasang harga terlalu tinggi? Apakah memang pasar sedang lesu? Berapa banyak penjualan yang terjadi bulan lalu? Bagaimana harga kompetitor Anda? Bagaimana kondisi properti Anda dibandingkan kompetitor? Semua pertanyaan ini bisa membantu Anda mengambil keputusan yang lebih baik.

3. Apakah ada peluang yang lebih baik?
Jika properti yang ingin Anda jual belum mencapai harga yang diharapkan, tetapi holding period (jangka waktu Anda memegang properti tersebut) sudah mendekati batas waktu, kajilah apakah ada peluang investasi berikutnya? Jika ada, juallah properti Anda sedikit di bawah nilai yang Anda harapkan lalu investasikan lagi hasilnya. Jika belum ada, mungkin lebih baik Anda menahan dulu properti yang ingin Anda jual itu.

Apa maksudnya? Seseorang yang menjual rumah hari ini seharga 500 juta mungkin lebih baik daripada menjual rumah yang sama senilai 550 juta tahun depan. Sebab, uang yang diterima hari ini nilainya bisa lebih besar ketimbang uang yang diterima beberapa waktu kemudian.

Mengapa? Karena ada inflasi ataupun peluang yang lebih baik untuk berinvestasi sekarang, keuntungan yang diperoleh dari hasil investasi bisa lebih besar daripada harga penjualan rumah tahun depan. Dan, jika Anda melewatkan kesempatan untuk berinvestasi sekarang, sama saja dengan Anda kehilangan ‘kalkun’ Anda.

Sesungguh-sungguhnya, tidak ada yang benar-benar tahu kapan suatu harga mencapai harga puncak (peak price), ataupun kapan harga mencapai harga paling bawah (bottom price).

Yang ada hanyalah pengamat melihat bahwa ada kecenderungan penurunan harga dari harga sebelumnya (sehingga kemudian sadar bahwa harga sebelumnya adalah harga puncak), atau pengamat yang melihat bahwa ada trend kenaikan dari harga sebelumnya (sehingga kemudian sadar bahwa harga sebelumnya adalah harga paling bawah).

Karena itu, dalam berinvestasi properti (atau investasi apa pun), penting sekali menetapkan target harga. Baik itu harga pembelian (nilai investasi awal) maupun harga penjualan (exit strategy).

Target harga pembelian membuat Anda tidak membuang-buang waktu menyia-yiakan kesempatan membeli suatu properti karena takut ada deal yang lebih baik. Target harga penjualan berguna untuk membuat Anda realistis merancang perencanaan selanjutnya.

Tentunya target ini diperoleh dengan hitungan margin keuntungan yang diinginkan di atas harga-harga pokok pembelian. Setelah margin keuntungan ditetapkan dan harga penjualan ditentukan, jangan lupa tetapkan range waktu kapan penjualan pada harga tersebut diharapkan tercapai—dalam rentang waktu itu sebaiknya diberikan ruang yang cukup untuk bernegosiasi.

Ketika Anda berhasil memperoleh kalkun, pulanglah dan bersyukur. Esok masih ada waktu untuk ‘berburu’ kalkun lagi. Jangan membiarkan perangkap Anda terlalu lama dengan harapan bisa menangkap kalkun lebih banyak. Kalau terlalu lama nanti kalkun-kalkun itu malahan kabur. –  Leo Ferdinand