Bersandar pada Konten Lokal

Kota Baru Parahyangan
Property-In.co – Persembahan terbaik disajikan Kota Baru Parahyangan lewat hunian yang menggabungkan tiga elemen penting: sejarah, budaya, dan pendidikan. Hebatnya lagi, semua itu asli merujuk pada kearifan lokal bumi Pasundan.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin global, tak banyak pengembang yang berani tampil berbeda dengan mengusung konsep lokal. Lucu memang. Konten lokal sekarang justru dianggap tak memiliki daya tarik sebagai bagian dari unique selling proposition sebuah brand atau produk.

Yang terjadi kini, pengembang properti banyak menggunakan istilah-istilah asing karena dianggap lebih keren dan terkesan modern. Hal tersebut juga sempat disampaikan Handi Irawan D, CEO Frontier Consulting Group, dalam artikelnya di majalah Property-In edisi lalu yang membahas tentang ketepatan dalam memilih nama produk properti. Saat ini banyak perusahaan properti memiliki nama keren, urainya, tetapi kemudian produknya tidak sesuai dengan namanya.

Setidaknya, menurut Handi, ada lima poin penting dalam memilih nama dan bisa diaplikasikan untuk bisnis properti. Pertama, sebuah nama yang baik adalah nama yang mudah diucapkan. Kedua nama haruslah unik. Ketiga, nama yang baik haruslah relevan.

Keempat, nama untuk properti yang baik harus transferable antar-geografis. Yang terakhir adalah nama tersebut bisa didaftarkan sebagai merek.

kota-Baru-Parahiyangan-Nagatirta-Wanoja
*Unit Nagatirta Wanoja

Berkaca dari persoalan tersebut, Kota Baru Parahyangan boleh dibilang satu-satunya proyek besar yang berani menyuguhkan konsep lokal dalam setiap jengkal lahan yang dikembangkannya. Berangkat dari pengembangan pada tahun 2000, proyek ini langsung menancapkan tiga unsur utama yang dijadikan sebagai fondasi dasar pembangunan.

Hal tersebut bisa dilihat dari nama-nama klaster, kawasan komersial, dan area tematik yang diterapkan di Kota Baru Parahyangan—semuanya merujuk pada istilah zaman dahulu seperti nama raja, panglima, dan patih.

Ryan Brasali, General Manager PT Belaputera Intiland (pengembang Kota Baru Parahyangan), menceritakan bahwa Kota Baru Parahyangan yang berada di daerah Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, awalnya adalah lokasi yang tidak memiliki spesifikasi khusus jika ingin dikembangkan menjadi hunian.

Sebab, daerah Padalarang terasa agak jauh dari Kota Bandung dan ada persepsi orang Bandung jika sudah pergi melewati jalan tol, maka daerah tersebut dianggap luar kota. “Butuh kerja keras mengembangkan kawasan ini,” ujarnya kepada Property-In.

Namun, sisi baik yang dilihat pengembang dari kawasan ini adalah fakta bahwa Bandung pada awal abad 20-an dikonsepkan sebagai kota perkebunan. Beranjak dari itulah Kota Baru Parahyangan secara detail dan komprehensif digarap oleh pengembangnya dengan pendekatan sejarah, budaya, dan pendidikan.

Penggarapannya dilakukan Belaputera melalui berbagai perwujudan model hunian, area komersial serta sejumlah fasilitas lainnya yang berorientasi pada ketiga faktor tersebut.

Bisnis, Sosial, dan Lingkungan 

Kota-Baru-Parahiyangan-Purbawulan
*Unit Purbawulan

Usia Kota Baru Parahyangan kini menginjak 15 tahun. Usia yang diibaratkan seperti seorang remaja yang beranjak dewasa dan mulai menatap optimisme masa depan. Begitulah pulalah yang terjadi pada Kota Baru Parahyangan.

Dengan mengusung konsep yang terbilang matang dan akurat, proyek ini tidak sekadar menawarkan hunian yang nyaman bagi penghuni dan kemilau nilai investasi bagi investor. “Lebih dari itu, pengembangan yang terjadi turut berimbas pada munculnya arah ideologi Kota Baru Parahyangan sebagai kota mandiri,” kata Ryan.

Ketiga prinsip yang kemudian ditelurkan oleh pengembang sebagai tindak lanjut dari elemen budaya, sejarah dan pendidikan antara lain adalah bisnis, sosial dan lingkungan. Prinsip-prinsip tersebut menjadi roda utama pergerakan eksistensi Kota Baru Parahyangan yang akhirnya menimbulkan tagline “Kota Mandiri Berwawasan Pendidikan”.

Dijelaskan lebih rinci oleh Ryan, demi mengejar faktor sustainable yang tinggi dan mapan, Kota Baru Parahyangan mencanangkan hunian berkualitas nomor wahid sebagai bagian dari road map bisnis perusahaan yang berbasis profit dan digabung dengan pendekatan sosial serta lingkungan.

“Ketiga hal itulah yang akhirnya menjadi konsep dari pengembangan Kota Baru Parahyangan. Jadi, jika ditanyakan apa konsepnya? Jawabannya: bisnis, sosial dan lingkungan.”

Lengkapnya konsep bisnis diwujudkan melalui keberadaan hunian-hunian bertaraf modern yang dijadikan buruan para penghuni maupun investor. Hunian serta area komersial merupakan bagian dari bisnis Kota Baru Parahyangan yang tentunya memang menjadi tugas wajib sang pengembang. “Tugas utama kami adalah memberikan hunian terbaik kemudian menjualnya,” kata Ryan.

Kota-Baru-Parahiyangan-Purbakomala
*Unit Purbakomala

Namun, tidak ingin terjebak sebagai pengembang yang mengutamakan komersialisasi semata, Kota Baru Parahyangan—yang memiliki blue print jelas dalam brand development-nya—juga melakukan penguatan image “Kota Mandiri Berwawasan Pendidikan” dengan meng-endorse faktor sosial serta lingkungan.

Dalam hal ini, mereka melibatkan banyak pihak yang terdapat di sana, mulai dari penghuni komplek, penghuni sekitar, dan komunitas.

Mengapa mesti melibatkan penghuni sekitar dan komunitas? Ryan menyebutkan bahwa ada hubungan yang sangat erat di antara pengembang, penghuni (komplek dan sekitar) serta komunitas.

Kehadiran penghuni sekitar kawasan bukan sekadar menjadi tetangga saja, tapi juga merupakan satu bagian yang terintegrasi dengan pengembang dan penghuni komplek melalui kegiatan-kegiatan bertemakan sosial seperti corporate social responsibility (CSR).

Banyak sudah kegiatan yang mereka lakukan bersama. Misalnya, baru-baru ini ada kegiatan agriculture di mana penghuni sekitar diajari cara bercocok tanam dengan teknik-teknik pertanian mumpuni.

“Awalnya kami yang menyediakan pelatihan, bahan-bahan pertanian, dan masyarakat diajari tata caranya dari awal. Akhirnya, kini justru masyarakat sendiri bisa mendapatkan hasil lebih setelah mengetahui dengan baik skema bertani,” papar Ryan.

Lain lagi cerita yang dibangun dengan komunitas sebagai bagian dari pengembangan sosial Kota Baru Parahyangan. Selain menjadi hunian, kawasan bernuansa hijau ini ternyata juga kerap berfungsi sebagai ajang kumpul komunitas-komunitas yang ada di Bandung dan sekitarnya.

Melihat potensi alam serta kekuatan fasilitas yang diberikan pengembang, Kota Baru Parahyangan sering difungsikan sebagai penghelatan kegiatan-kegiatan sosial sejumlah komunitas.

Dari dua konsep awal yang disampaikan tadi (bisnis dan sosial) akhirnya mengerucut pada konsep lingkungan. Nah, konsep lingkungan ini bisa dibilang konsep yang paling diunggulkan oleh pengembang. Paling tidak, hal itu tercermin dari tata letak landscape yang tepat—bagaimana pengembang mendesain segala sesuatunya dengan sangat concern serta tepat sasaran dan penggunaannya.

“Dari lahan yang ada di sini, baru 300 hektar yang dikembangkan. Itu pun kami lebih banyak men-develope dari sisi lingkungannya. Kami juga memiliki tepian danau yang panjangnyai 5 kilometer,” tutur pria berkacamata ini.

Antara bisnis, sosial, dan lingkungan semuanya diterapkan dengan baik oleh Kota Baru Parahyangan. Ketiganya terbukti merupakan skema mumpuni sehingga dapat membuktikan bagaimana kota mandiri ini bisa terus eksis dan memberikan fasilitas-fasilitas yang lengkap.

Terus Berkembang
Kota Baru Parahyangan tidak pernah berhenti membangun kehidupan di setiap lini lahan yang dimilikinya. Saat ini dari lahan yang sudah terpakai tercatat sudah terdapat 3.100 hunian dengan 2.700 KK. Angka tersebut takkan berhenti di situ saja. Ryan mengatakan, mereka senantiasa berkomitmen penuh atas pengadaan hunian yang layak dan berkualitas.

Hunian yang dibangun di sana selalu mengutamakan kenyamanan dan keamanan. Di setiap klaster yang dibangun terdapat sistem tatar satu pintu dengan dukungan keamanan 24 jam. Ada divisi khusus yang mengelolanya, yaitu Town Management, yang bertujuan menciptakan lingkungan aman dan nyaman bagi para penghuninya.

“Istilah cluster di Kota Baru Parahyangan disebut dengan ‘tatar’, yang berarti tanah atau wilayah. Nama setiap tatar diambil dari nama-nama tokoh dari legenda rakyat Pasundan yang merupakan implementasi dari pilar budaya,” Ryan menjelaskan panjang lebar. “Setiap tatar juga dilengkapi dengan taman tematik yang indah, menyenangkan, dan bertema pendidikan.”

Madu-Madu Investasi Properti

Rasanya cukup bijak jika konsumen memilih Kota Baru Parahyangan sebagai media investasi properti. Ryan menyebutkan bahwa nilai yield dari hunian yang ada di sana bisa mencapai angka Rp130-150 juta per tahun (untuk luas bangunan 300 meter).

Nilai fantastis ini tentunya menggiurkan bagi investor. Apalagi, imbuh Ryan, pasar di Kota Baru Parahyangan tergolong cukup besar dan beragam—termasuk keberadaan kaum ekspatriat yang bercokol di kawasan itu. “Pasar ekspatriat kami cukup tinggi, mengingat di sini ada sejumlah perusahaan dan sekolah asing,” ujarnya.

Hal lain yang menjadi pesona investasi di sana adalah kemudahan akses yang terbilang sangat memanjakan penghuni. Posisi Kota Baru Parahyangan menjadi begitu eksklusif karena disediakannya akses pintu tol yang berhadapan langsung dengan hunian. Ini juga menjadi salah satu pendorong yang kuat.

Belum lagi dengan data yang menunjukkan bahwa jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bandung mencapai 7 juta per tahun—ini tentunya berimbas pada kebutuhan hunian elit di kawasan Bandung dan sekitarnya.

Memang market terbesar di Kota Baru Parahyangan masih dikuasai oleh masyarakat Bandung sendiri. Namun, ungkap Ryan, kini tren tersebut makin meluas ditambah dengan ragam pasar yang tertarik dengan investasi di kota mandiri tersebut.

Saat ini pengembang sedang ‘menggoda’ kembali para calon penghuni dan investor dengan hunian berkonsep Bandung tempo doeloe yang didasari oleh keindahan alam di sana. Dalam laman Kota Baru Parahyangan disebutkan bahwa pada masa kolonial Belanda, Kota Bandung dikenal dengan sebutan ‘Parijs Van Java’. Zaman pendudukan Belanda ini justru membawa Bandung pada masa keemasannya.

Bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur Eropa berdiri menghiasi kota. Bandung pun menjadi pusat bisnis, hiburan, dan gaya hidup pada saat itu.

Untuk mengadopsi suasana Bandung tahun 1930-an, maka di koridor ini dibuat dengan dua konsep. Pertama, konsep Cipaganti (hunian) di mana arsitektur hunian ini mengacu pada rumah-rumah jadul yang dapat ditemui di Jalan Cipaganti, Cilaki dan Riau—yang memiliki serambi depan dan belakang—dengan suasana hijau dan asri, yang tentunya sudah disesuaikan dengan kondisi saat ini.

Kedua, untuk memenuhi hasrat pebisnis, Kota Baru Parahyangan juga menyediakan pusat niaganya yang berkonsep seperti Jalan Braga. “Konsepnya seperti untuk area komersial/ruko, yang mengadopsi suasana Jalan Braga dulu yang menjadi pusat gaya hidup dan bisnis,” ujar Ryan.

Selain koridor Bandung tempo doeloe, pengembang juga memberikan pilihan niaga bagi investor melalui ruko-ruko tematik seperti Healthy, Beauty and Bridal Centre, Automotive Centre,  dan sport club.

Ryan memaparkan bahwa Kota Baru Parahyangan merupakan kawasan hunian yang menyediakan segala kebutuhan penghuni. Dengan kata lain, apa yang menjadi kebutuhan bagi penghuni semuanya telah mampu dipenuhi dengan matang oleh pengembang. Bahkan, dalam waktu dekat ini mereka akan membangun Ocean Park seluas 5 hektar, yang diyakini bakal menjadi added value dominan.

Kota Baru Parahyangan terbilang amat lengkap sebagai kota mandiri di Bandung. Termasuk dalam urusan penyediaan fasilitas pendidikan yang memang menjadi fokus utama proyek milik Lyman Group ini.

Sejumlah sarana pendidikan sudah berdiri mapan di sana, sebut saja Akademi Bahasa Asing Internasional, Al-Irsyad Satya Islamic School, Bandung Alliance International School, dan akan dibangun juga kampus Universitas Maranatha. “Kami benar-benar mewujudkan tagline kami ‘Kota Mandiri Berwawasan Pendidikan’ dengan memberikan fasilitas pendidikan yang lengkap di sini,” pungkas Ryan. aziz fahmi hidayat