Rekor Spektakuler Summarecon Bekasi

SUMMARECON BEKASI
Rahasia si Pencetak Rekor

Kenaikan gain yang signifikan tidak hanya datang dari lokasi semata. Konsep pengelolaan tata kota yang tepat dan nyaman juga amat menentukan.

Property-In.co – Lokasi di tengah kota dengan aksesibilitas mumpuni memang kerap dipilih developer agar produknya laris manis di pasaran. Jargon ‘lokasi, lokasi dan lokasi’ membuat banyak pengembang selalu berupaya mencari lokasi terbaik untuk membangun proyek-proyeknya.

Albert Luhur, Executive Director PT Summarecon Agung Tbk, pun  mengiyakan hal ini. “Lokasi memang selalu jadi nomor satu,” ujarnya. “Tapi lokasi yang baik itu tidak selalu harus di tengah kota,” kata Albert kepada Property-In di kantornya di kawasan Bekasi, pada suatu senja  pertengahan September lalu.

Lokasi yang baik sebetulnya bisa diciptakan. Menurut Albert, pengembang besar adalah mereka yang berani mengambil risiko untuk mengubah lahan unpotential menjadi sebuah lahan potensial. “Ibarat ilmu karate, pengembang yang berhasil melakukan ini adalah mereka yang sudah menyandang sabuk hitam,” tuturnya.

Tanpa bermaksud menyombongkan diri, Albert menceritakan pengembangan Summarecon di Kelapa Gading beberapa dasawarsa silam. Kelapa Gading yang dulu terkenal gersang berhasil mereka ubah menjadi lahan investasi yang paling diburu. Sekarang daerah itu dikenal dengan julukan ‘kepala naga’. Selain itu, pengembang kelas kakap ini juga telah berhasil mengembangkan kawasan Serpong, Tangerang, menjadi kawasan elit dengan potensi gain sangat menjanjikan.

Tidak berhenti di situ, Summarecon terus menebarkan magic-nya di kawasan-kawasan unpotential lain. Salah satu yang paling mencolok di Bekasi. Ejekan tentang Bekasi berhasil ditepis dengan kesuksesan mengembangkan Summarecon Bekasi menjadi sebuah kawasan bergengsi.

Fly Over 200 Miliar  summarecon-bekasi-jembatan
Menyulap kawasan tidak potensial menjadi potensial bukanlah pekerjaan gampang. Kemudahan akses menjadi sebuah tuntutan yang wajib dipenuhi. Perencanaan matang serta modal besar pun merupakan salah satu fundamental yang paling dibutuhkan.

Bagi Albert, mengembangkan sebuah kawasan itu benar-benar menguras otak dan tenaga. “Butuh effort besar untuk mengembangkannya.” Segunung tantangan harus dihadapi sebelum mereka berhasil mengubah Summarecon Bekasi menjadi seperti sekarang. Minimnya akses serta keterbatasan lahan adalah kompleksitas yang harus dipikirkan secara matang.

Karena itulah, sebelum mengembangkan proyeknya, mereka  menginvestasikan dana sebesar Rp200 miliar untuk membangun fly over (menuju pintu tol) yang melintasi jalur kereta api. “Tujuannya untuk mempermudah akses dan memperlancar pekerjaan proyek,” tuturnya.

Luas lahan yang hanya 240 hektar—jauh lebih kecil dari proyek di Kelapa Gading dan Serpong—membuat Summarecon juga harus memikirkan konsep paling tepat untuk pengembangan proyeknya. Otomatis, fasilitas yang dibangun di sana tidak bisa seperti di dua proyek sebelumnya. Mereka hanya membangun fasilitas yang benar-benar penting saja.

“Kalau rumah sakit tidak perlu lagi dibangun karena dekat sini sudah banyak rumah sakit besar,” kata Albert. Jadi, Summarecon fokus ke pembangunan fasilitas lain seperti pusat perbelanjaan, edukasi, food and baverage, dan financial center.

Meski begitu, lanjut Albert, “Konsep yang ditawarkan Summarecon Bekasi ini tidak kalah apik dengan dua proyek kami sebelumnya. Penataan gedung serta lahan terbuka hijau yang rapi membuatnya sangat nyaman dijadikan tempat tinggal.” Selain itu, ada pula tugu piramid terbalik yang berkilau di malam hari sehingga membuat orang yang melewatinya serasa sedang berada di Eropa.

Menurutnya, tata kota nan cantik inilah yang membuat penjualan Summarecon Bekasi selalu laris manis hingga kerap mencetak rekor-rekor fantastis. Tengok saja salah satu yang rekor spektakuler mereka. Tahun lalu mereka berhasil membukukan rekor pendapatan sebesar 1 triliun dari penjualan 2.247 unit apartemen The SpringLake (3 tower).

Gain-nya Naik Terus
Peristiwa ini terjadi pada 2012 di Summarecon Bekasi. Ketika itu, seorang pemilik rumah di Palm Residence sedang melihat-lihat rumahnya yang baru saja selesai dibangun. Tak lama kemudian datang seorang laki-laki menghampiri dan menawar rumah tersebut.

“Maaf, Pak. Rumahnya mau dijual berapa?
“Oh, tidak dijual,” jawab sang pemilik.
Calon pembeli itu pun beranjak pergi. Tapi beberapa langkah beralan, si pemilik rumah memanggilnya. “Kalau Bapak berani bayar 1,2 M, rumah ini akan saya jual,” katanya iseng-iseng memberi harga.
Di luar dugaan, calon pembeli menjawab dengan semangat, “Deal, Pak. Saya bayar sekarang juga.”

Sang pemilik rumah kaget dan senang bukan kepalang, maklum saat itu harga pasar rumah—yang dibelinya seharga Rp500 juta pada 2010—tersebut belum sebesar itu. Namun, jika tahu sekarang harganya telah mencapai 1,5M, mungkin dia bakal sedikit menyesal.

Gain Bukan Prioritas
Setiap developer pasti ingin properti besutannya laris manis. Iming-iming gain tinggi pun kerap dijadikan senjata pemikat. Namun, banyak developer justru lupa memperhatikan kepada siapa ia menjual propertinya. Jika investor berdana besar—yang membeli puluhan unit dalam satu proyek—jumlahnya kebanyakan, ini bisa berdampak buruk. Proyek itu bakal tampak sepi penghuni.

Kondisi di atas tentu tidak baik untuk prospek jangka panjang proyek tersebut. Bagaimanapun juga, tingkat populasi dalam suatu tempat adalah salah satu alasan mengapa harga properti bisa membubung tinggi. “Kami tidak ingin Summarecon Bekasi ini hanya menjadi kota mati,” tutur Albert.

Karena itu, Summarecon membuat peraturan bagi konsumen yang sudah membeli produk komersialnya—seperti ruko ataupun apartemen—untuk tidak menjualnya dulu sebelum pembangunannya benar-benar rampung. “Kalau untuk residential kami perbolehkan,” imbuhnya, “Namun mereka akan dikenakan biaya administrasi 11%.”

Misalnya, konsumen membeli rumah seharga 1 miliar. Jika kemudian dia ingin menjual kembali sebelum rumah itu rampung, dia harus membayar biaya administrasi sebesar 110 juta. Hal ini tentu membuat para ‘spekulan’ berpikir dua kali sebelum berinvestasi di kawasan ini.

Bukan hanya itu, Summarecon juga menjatah pembelian unitnya maksimal 2 unit untuk satu kepala keluarga. Tujuannya agar konsumen yang membeli properti di sana adalah mereka yang benar-benar ingin tinggal—bukan sekadar berinvetasi.

Meski begitu, Albert mengakui pihaknya tidak bisa 100% ‘mencegah’ para investor membeli proyek di sana. Pasalnya, brand Summarecon sudah memiliki image kuat bahwa produk-produknya pasti menuai untung. “Tapi setidaknya ini cukup berhasil untuk menghindari spekulan yang hanya ingin berinvestasi dalam jangka pendek,” tuturnya.

Mereka sengaja memberlakukan ini untuk menjaga keseimbangan antara populasi dan bangunan di wilayah ini. Selain itu, ada pula peraturan town management yang diterapkan demi menciptakan kehidupan bersosialisasi yang nyaman. Misalnya, penghuni klaster tidak boleh membuka praktik dokter atau hal-hal yang bisa mengganggu kenyamanan penghuni lainnya.

Meski kelihatan rumit, hal inilah yang akhirnya justru memberikan kenyamanan yang dibutuhkan penghuni Summarecon Bekasi. Menurut Albert, jika sebuah kawasan sudah nyaman dan ramai penghuni, permintaan akan tempat tinggal di kawasan itu pun bakal terus meningkat. “Dengan begitu, gain tinggal menunggu waktu saja,” imbuhnya.

Ini semua sudah terbukti. Contohnya, rumah berukuran 7 x 12 meter di Summarecon Bekasi pada 2010 dijual seharga Rp500 juta, kini harganya melambung hingga Rp1,5 miliar. Fajar Yusuf Rasdianto

Club-Maple-ResidenceREKOR-REKOR SPEKTAKULER

2010
Summarecon Bekasi melakukan penjualan perdana Palm dan Maple Residence pada 24 April sebanyak 475 unit serta Acacia Residence (261 unit) pada 30 Oktober. Semua unit tersebut sold out dalam waktu kurang dari 7 jam.

2011
Mereka menggelar penjualan perdana Sinpasa Commercial sejumlah 97 rukan pada 7 Mei. Lagi-lagi semua unit sold out hanya dalam tempo 2,5 jam.

emerald-commercialPada 22 Oktober, Summarecon Bekasi kembali melakukan penjualan perdana Magnolia Residence (252 unit) dan Lotus Lakeside Residence (202 unit) yang menghadirkan hunian prestise di tepi danau. Penjualan Lotus Lakeside ditutup karena habis terjual dalam waktu kurang dari 7 jam.

2012
Pada 31 Maret 2012, mereka menggelar penjualan Emerald Commercial sejumlah 174 rukan. Semua rukan kembali ludes terjual di hari yang sama.

the-spring-lake-apartemen2014
Summarecon Bekasi meluncurkan hunian high rise The SpringLake Apartement. Penjualan pertama dilakukan pada 26 April dan sold out sebanyak 2.247 unit dari 3 tower. Ini rekor paling spektakuler karena total penjualannya tercatat 1 triliun lebih.