Kota Masa Depan di Tengah Telaga

GRAND KAMALA LAGOON
Megaproyek seluas 25 hektar ini akan mewujudkan sebuah ‘kota baru’ yang canggih sehingga penghuninya benar-benar bisa merasakan ‘inilah masa depan’.  

Property-In.co – Hari-hari belakangan ini Tjakra D. Puteh, Project Manager Grand Kamala Lagoon, tampak selalu sibuk. Pagi itu, 20 Maret 2015 lalu, ia baru saja selesai rapat dengan timnya saat berjumpa dengan Property-In. Usai wawancara, selepat sholat Jumat, ia harus segera meluncur ke Menara 165 di kawasan TB Simatupang untuk mengawasi persiapan Grand Launching Tower Barclay—yang digelar esok harinya.

Sewaktu wawancara berlangsung pun smartphone Tjakra acap kali berdering. Namun, semua kesibukan itu tidak membuatnya tampak lelah. Wajahnya justru berseri-seri ketika menemui kami. “Properti di Indonesia sekarang seolah-olah sedang hujan lebat,” katanya sembari tersenyum. Emerald Tower yang mereka luncurkan pada 2014 sudah sold out dalam tempo empat bulan. Tapi awal tahun ini, saat meluncurkan Barclay Tower, di Bekasi ada enam proyek kompetitor yang turun serentak.

Sebenarnya di Emerald masih ada beberapa unit lagi, tipe suite dan penthouse, yang disimpan. Unit-unit itu, kata Tjakra, sengaja ditunda penjualannya untuk mengantipasi rencana pemerintah mengenakan pajak barang mewah terhadap properti yang harganya di atas 2 miliar rupiah. “Kami berjaga-jaga. Ada beberapa yang kami stop penjualannya, lalu kami resize harganya agar tidak lebih dari 2 miliar,” ujar pria kelahiran Banjarmasin, 18 Juni 1963 ini.

Namun, tampaknya Tjakra boleh tersenyum lebih lebar lagi karena Barclay ternyata laris terjual 700 unit dalam acara grand launching beberapa hari lalu. Dengan demikian PP Properti, developer proyek Kamala Lagoon, bisa beranjak ke tower berikutnya lebih cepat.

Proyek Iconic
Grand Kamala Lagoon (GKL) merupakan megaproyek yang berada di kawasan Kalimalang, Bekasi. Proyek superblok seluas 25 hektar ini akan  dibangun dalam delapan tahap dan diperkirakan selesai dalam 15 tahun . Setelah rampung, di area GKL akan ada apartemen, mal, sekolah internasional, universitas, rumah sakit super modern, area bisnis, dan lain-lain. Semua fasilitas ini amat pas dengan slogan mereka: “We Bring Everything Closer”.

Bukan itu saja, proyek ini pun sarat dengan beragam inovasi. Menurut Tjakra, pertama, mereka ingin menjadi apartemen pertama yang mendapat sertifikat green. Demi mewujudkan itu, GKL dirancang memiliki lingkungan hijau disertai danau yang indah dan bersih.

Selain itu, mereka juga menyediakan fasilitas water treatment dengan menggunakan air danau (sehingga airnya bisa diminum), pemakaian gas alam yang lebih hemat dan aman, pemakaian lampu LED hingga penggunaan genset elektromagnetik. “Sebenarnya persoalan utama di green building adalah penghematan energi,” ujar pria kerap menangani  proyek-proyek prestisius ini.

Inovasi kedua adalah konsep stress released. Ternyata, danau (lagoon) itu banyak berguna untuk menenangkan pikiran. Dalam buku berjudul Blue Mind dijelaskan bahwa orang akan menjadi rileks kalau berada dekat dengan tempat yang banyak airnya.

Inovasi ketiga, internet of things. Segala sesuatu di GKL akan terkoneksi dengan wifi, internet, dan gadget—konsep ini lebih tinggi dari home automation. Misalnya, penggunaan ‘kulkas pintar’ yang bisa memperingatkan kita bila telur mau habis, bisa memesan sendiri ke supermatket, bahkan nantinya kulkas itu bisa langsung membayar lewat transfer.“Ini rencana kami,” kata Tjakra.

Tjakra mengakui bahwa PP Properti belum punya nama sebesar developer ternama di Jakarta seperti [simple_tooltip style=’color:grey;’ content=’Rekor Spektakuler Summarecon Bekasi‘ ]Summarecon[/simple_tooltip], Ciputra, dan Agung Podomoro. Tapi, menurutnya, mereka punya hal besar yang bisa diandalkan, yaitu komitmen.

“Misi kami ada tiga: healthy mind, body, and soul. Sehat pikiran, jiwa dan raga,” imbuh Tjakra. Sehat pikiran dan jiwa sudah banyak dijelaskan, terkait konsep hijau dan manfaat air di atas. Nah, untuk sehat jasmani, mau tidak mau penghuni GKL harus berolahraga. “Makanya, kami nanti membuat suasana agar para penghuni mau berjalan kaki. Caranya di sana akan dibuat track untuk kaum wanita sedemikian rupa seolah mereka berjalan di dalam mal; sedang kaum prianya seolah berjalan di taman dan lapangan golf.”

Konsepnya memang luar biasa. Tapi jelas perlu dibuktikan setelah proyek ini rampung. “Kami punya komitmen untuk menjadikan Grand Kamala Lagoon sebagai proyek iconic PP Properti. Sebenarnya, ini adalah kota masa depan yang akan di-deliver sekarang,” ungkap Tjakra.

Lebih Baik Disewakan  
Kendati membangun 30 tower selama 15 tahun—total investasinya ditaksir mencapai 48 triliun—Tjakra menuturkan bahwa investasi dari PP Properti sebenarnya tidak begitu besar. Dana terbesar mereka tersedot ke pembangunan jembatan, infrastruktur, dan perizinan di awal. Tetapi setelah proyek yang berjalan terjual, cash flow yang diperoleh  sudah bisa membiayai diri sendiri. “Investasi kami sekitar 500 miliaran [per tower], tapi revenue total kami ditargetkan 103 triliun,” ujarnya.

Penjualan tiap tower diplot selesai tiap 6 bulan, lalu tower berikutnya bisa segera dimulai. Bila Emerald memiliki unit yang beragam, dari tipe studio hingga penthouse; semua unit di Barclay justru dibuat kecil agar terjangkau oleh konsumen lokal. Barclay yang akan selesai pada 2018 terdiri dari dua tipe: 1 bedroom dan 2 bedroom—ada unit yang view-nya 270 derajat. Harga perdananya dibuka Rp15 juta per meter persegi (m2).Grand-Kamala-Lagoon_land

Sejauh ini, komposisi pembeli GKL adalah 40% user : 60% investor. Yang jelas, peluang investasinya cukup menggiurkan. Dalam hal ini, Emerald Tower bisa dijadikan tolok ukur. “Kenaikan harga jualnya sudah 30%,” kata Tjakra. Dulu harga awalnya Rp10 juta per m2, sekarang sudah 13 juta per m2. Sementara harga sewanya, ketika nanti diserahkan pada 2017, untuk pasar lokal prediksi bisa mencapai 120.000 per m2. “Kalau untuk asing harga sewanya bisa dobel,” imbuhnya.

Tapi Tjakra dan timnya selalu menyarankan para investor agar tidak menjual unit mereka. Lebih baik disewakan karena potensi yield-nya luar biasa. “Dan, kalau kami berhasil mewujudkan konsep-konsep yang kami canangkan, orang-orang akan menyerbu ke mari. Mereka tentu akan beli apartemen yang sehat untuk keluarganya.” David S. Simatupang

Batal Diuruk Ikhwal proyek ini dinamakan Grand Kamala Lagoon menyimpan kisah tersendiri. Dulu (tahun 1990-an) areal ini ‘terabaikan’, tidak dilirik untuk proyek properti. Maklum, mayoritas lahannya berupa danau sedalam 4-6 meter sehingga diperlukan tanah 1 juta kubik untuk menguruknya. Biayanya mahal. Sekitar tahun 2000-an, mereka berniat menguruknya untuk dijadikan lahan properti. “Untunglah, ketika itu DCL—perusahaan konsultan dari Amerika—menasihati kami,” kata Indaryanto, Finance Director PP Properti mengenang. Menurut sang konsultan, danau yang sudah ada itu justru menjadi daya tarik bagi proyek yang akan dibangun. Setelah melihat banyak proyek besar di luar negeri yang malah menggali tanah untuk membuat lagoon, PP segera membatalkan niatnya. “Nah, kami sudah punya kolam. Maka jadilah proyek kami sebagai city on the lagoon,” ujar Tjakra. Kota di tengah telaga. Lahan yang dibangun pun cuma 37%. Ia melanjutkan, Kamala sebenarnya singkatan dari Kali Malang (lokasi proyek mereka). Tapi dalam bahasa Italia, kata Kamala artinya bunga teratai.”Logo kami pun berbentuk teratai. Sementara Lagoon itu perairan/telaga. Jadi, Kamala Lagoon berarti teratai dalam air.”

About The Author

Related posts