Ironi – The City of the Dead

Property-In.co – Pertumbuhan ekonomi  China menyisakan sebuah ironi, khususnya untuk sektor properti. Bagaimana tidak, tahun ini pemerintahan Li Keqiang telah mengumumkan penurunan target pertumbuhan ekonominya di angka 7%. Ini merupakan angka terendah sejak 1990 dan muncul setelah produk domestik bruto (PDB) China naik 7,4% pada  2014.

Kondisi ini direspons oleh para investor China yang terus mengucurkan dana miliaran dolar AS ke Negeri Paman Sam, Asia Tenggara, Inggris dan beberapa negara Eropa lainnya. Sementara itu, di negeri sendiri justru banyak proyek properti yang ditinggalkan sehingga menyisakan “the city of the dead” (kota-kota hantu) tak berpenghuni.

Dalam kurun enam tahun, kenaikan investasi asal China di luar negeri melonjak 24 kali lipat. Bila pada 2009 nilainya baru US$600 juta (Rp7,7 triliun), pada 2014 telah menjadi US$15 miliar (Rp192,5 triliun). Investasi properti ke luar negeri tersebut berfokus ke Australia, Inggris, dan Amerika Serikat. “Investasi yang masuk ke tiga negara itu berkembang lima kali lipat pada periode 2012-2013,” ujar Wang Jiaming, Direktur Senior di Knight Frank Australia—seperti dikutip dalam Securities Daily, 23 Februari 2015.

Menurut analisis Knight Frank, investasi properti China di luar negeri dipercaya bermula dari mengikuti investasi kenegaraan. Lantas, perbankan asal China yang ada di negara lain membeli properti tersebut. Perkembangan investasi selanjutnya terjadi karena pengembang besar melakukan diversifikasi. “Tingginya pertumbuhan investasi luar negeri enam tahun terakhir ini dipicu melemahnya pasar domestik, sementara pasar luar negeri lebih cepat memberikan hasil,” ujar Wang.

Situs www.worldpropertychannel.com menyebutkan, properti di Negeri Tirai Bambu sudah over supply, hal ini ditandai dengan prospek investasi yang semakin tak kondusif. Kondisi bertambah parah saat harga properti terus anjlok. Akibatnya, para investor dan orang-orang kaya di sana kabur membawa lari dananya ke mancanegara.

Konsultan properti lokal menyebutkan, penurunan akan terjadi di perumahan-perusahaan di seluruh wilayah China daratan. Masalah terbesar saat ini adalah banyaknya pasokan yang berasal dari pengembang besar. Hingga lima tahun ke depan, persediaan masih banyak. Padahal kontribusi sektor perumahan i sekitar 15% perekonomian negeri itu.

Contohnya, ada lebih dari 100 vila mewah yang kosong setelah dibangun enam tahun lalu untuk penduduk setempat di Kota Beihai, daerah otonomi Guangxi Zhuang. Vila-vila seharga lebih dari 3 juta yuan itu dibangun untuk memenuhi pertumbuhan orang-orang kaya baru yang diharapkan bakal berinvestasi di sektor real estate. Memang, saat itu masyarakat China tidak diperbolehkan berinvestasi ke luar negeri.

Dalam upaya melayani mereka yang ingin berinvestasi di properti, seluruh kota telah dibangun lengkap dengan gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, jalan raya, dan taman-taman hijau. Namun, kehadiran fasilitas tersebut sering kali tanpa penduduk. Bahkan, kawasan itu berubah menjadi “zona mati” lantaran jarak mereka dengan pusat-pusat ekonomi yang penting itu begitu jauh.

Beberapa pekerja yang bisa mendapatkan sedikitnya 2 dolar AS per hari menginvestasikan tabungannya hanya untuk membeli properti. Namun, mereka tidak bisa memanfaatkannya karena mereka terlalu jauh dari pusat kota. Alhasil, mereka membiarkan bangunan-bangunan dan fasilitas itu tanpa penghuni sama sekali.

Kebanyakan penduduk berharap, pertumbuhan nilai properti akan membuat investasi di sektor ini layak dipertimbangkan. Namun sebaliknya, para pengamat percaya bahwa China tengah mengalami kelebihan suplai yang dapat menyebabkan gelembung (bubble) properti perumahan.

Meskipun nantinya properti-properti tersebut terserap pasar, tapi harganya tak akan bisa lagi merangkak naik dalam waktu dekat. Alhasil, investor-investor China tetap akan berpaling ke luar negeri yang menawarkan tingkat investasi menggiurkan.

Pemangkasan Suku Bunga
Respons perbankan yang menurunkan suku bunga untuk kedua kalinya dalam beberapa bulan terakhir mengisyaratkan bahwa para pemimpin China khawatir perlambatan ekonomi negara itu berlangsung terlalu tajam. People’s Bank of China telah mengumumkan adanya pemangkasan 0,25% suku bunga pinjaman satu tahun oleh bank-bank komersial menjadi 5,35%. Suku bunga deposito satu tahun diturunkan 0.25 poin menjadi 2,5%. Pemotongan suku bunga sebelumnya ditetapkan pada 22 November 2014.

Pemangkasan suku bunga terbaru ini menyusul serangkaian penurunan pajak dan langkah-langkah lain yang dimaksudkan untuk mendorong peningkatan pertumbuhan. Pemerintah juga memangkas pajak usaha dan mengumumkan kenaikan gaji bagi pegawai negeri sipil. Tingkat suku bunga yang lebih rendah diperkirakan bakal mengurangi biaya finansial bagi perusahaan-perusahaan milik negara dan merupakan sinyal bagi bank-bank pemerintah untuk meningkatkan pemberian kredit.

Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi China merosot menjadi 7,4%, angka terendah sejak tahun 1990. Diperkirakan penurunan lebih jauh terjadi tahun ini, dan kemerosotan ekonomi yang tajam dapat meningkatkan risiko PHK yang berbahaya secara politis.

Pertumbuhan ekonomi raksasa  ekonomi dunia terus turun dalam dua tahun belakangan, akibat dari upaya pemerintah mengarahkan ekonomi ke pertumbuhan yang lebih mengandalkan konsumsi domestik serta mengurangi ketergantungan pada perdagangan dan investasi. Caca/dari berbagai sumber

About The Author

Related posts