Dari Broker Menjadi Investor

Seorang agen properti punya “senjata lain” yang sangat berguna ketika dia menjadi investor.

Property-In.co – Kaya dari properti bisa dilakukan lewat banyak cara. Bisa dengan menjadi developer ataupun investor. Tidak sedikit orang, yang bahkan belum pernah bermain di properti, terpikat berinvestasi karena tergiur mendengar keuntungannya.

Tipe seperti ini biasanya mengandalkan keberanian berspekulasi. Percaya atau tidak, hampir sebagian besar orang membeli properti dengan cara berspekulasi dan mereka umumnya pemula.

Model pembeli seperti ini umumnya tidak mengetahui secara khusus perbandingan harga properti (misalnya tanah, rumah, vila, apartemen, kantor, dan ruko) di sekitarnya. Mereka membeli properti tanpa mempertimbangkan harga pasar di daerah itu. Disebut spekulasi karena tipe macam ini hanya mengharapkan harga properti bakal naik seiring waktu berjalan.

Ada lagi yang kemudian kaya dari properti karena memang basic-nya adalah pedagang properti. “Para pedagang” ini tentunya berbeda dengan spekulan. Kalau berspekulasi hanya bermodal harapan atau angan-angan bahwa harga properti bakal cepat naik, maka pedagang selangkah lebih maju, yaitu dengan memperhitungkan harga properti di daerah itu terlebih dulu.

Bisa saja si pedagang membeli properti yang sudah jadi maupun belum jadi dan dipasarkan, namun sebelumnya dia sudah melakukan survei dan tahu persis bahwa harga jual properti tersebut di bawah harga pasar, atau karena lokasinya sunrise harga properti itu bakal cepat melejit . KPR

Nah, yang satu lagi ini terbilang unik. Mereka berasal dari seorang broker atau agen properti. Jangan salah, penghasilan agen properti (yang sukses) rata-rata di atas penghasilan kerja kantoran. Pasalnya, mereka mendapatkan komisi aduhai dari penjualan properti yang harganya bisa mencapai miliaran rupiah.

Biasanya orang menjadi agen demi belajar menjual dan mengenal properti. Ada yang keterusan karena memang senang menjadi agen properti dan komisinya besar. Tetapi ada pula, yang setelah sekian lama mengenal dunia properti dan sudah cukup punya banyak modal, akhirnya “pindah” menjadi investor properti.

Selain bermodalkan komisi yang dikumpulkan hingga cukup untuk membeli unit properti, seorang agen juga punya “senjata lain” yang sangat membantunya ketika dia menjadi investor. Seperti kita ketahui, agen properti adalah profesi yang memiliki banyak jaringan—mulai dari developer, pembeli, hingga perbankan.

Mereka acap berhubungan dengan pihak pengembang dan membantu proses penjualannya kepada calon pembeli. Setelah berhasil mendapatkan calon pembeli yang tertarik, agen juga membantu proses kredit dari pengajuan sampai final.

Si agen banyak berkomunikasi dengan pihak bank. Karena itu, seorang agen sejatinya telah membangun jaringan yang kuat berdasarkan asas kepercayaan dengan developer, pembeli, dan perbankan.

Dari sini bisa tergambar bahwa seorang agen sudah memiliki link yang amat berguna bagi dirinya jika suatu waktu ia ingin terjun menjadi investor properti. Salah satu  caranya begini, agen bisa mengajukan pinjaman (non-KPR) ke pihak bank yang biasa dia kunjungi. Kemudian dia membeli unit dari developer yang sudah dia kenal baik dengan harga yang telah mendapatkan diskon. Lalu, si agen menjual unit yang dibelinya dengan harga yang lebih tinggi kepada calon pembeli—dia punya database banyak.

Uang yang dihasilkan dari penjualan itu bisa digunakan untuk melunasi pinjaman ke bank sesuai kesepakatan waktu dan jumlahnya. Selama agen mengembalikan tepat waktu, pihak bank akan percaya sehingga jika di lain kesempatan mengajukan pinjaman lagi akan mudah. Sementara itu, keuntungan dari penjualan bisa dimaksimalkan untuk investasi properti yang lain lagi.

Modal utama yang dibutuhkan untuk gaya seperti ini adalah kepercayaan. Mutlak. Inilah yang dimaksud dengan berinvestasi tanpa modal.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana menjadi kaya dengan properti? Inspirasi lain yang mungkin bisa dijadikan rujukan adalah kisah yang sering didengar dari Ray Kroc, pemilik McDonald’s. Suatu hari, ketika berbicara di depan sejumlah mahasiswa, Ray bertanya kepada mereka: “Apa bisnis saya?”
Dengan serempak para mahasiswa menjawab: hamburger. Tapi jawaban Ray cukup mencengangkan. “Bukan, hamburger itu pekerjaan saya, tapi bisnis saya properti”.

Ya, Ray memang pemilik kerajaan bisnis McDonald’s—franchise hamburger terbesar di dunia—tapi dia juga  salah seorang pemilik bisnis properti terbesar di dunia. Maklum, hampir seluruh gerai McDonald’s di seantero bumi adalah miliknya. Sistem yang dipakai Ray sangat jenius. Begini ceritanya.

Ray-Kroc_Mc-Donald
Ray-Kroc – Mc-Donald

Ketika ada orang yang berniat membeli waralaba McDonald’s tapi tidak punya tempat untuk gerainya, staf ahli Ray akan mencarikannya di tempat yang paling strategis. Lalu Ray membeli tempat tersebut dengan uang muka dari pembelian franchise McDonald’s dan cicilan bulanan dibayar dari hasil bisnisnya tersebut. Jadi, bisa dikatakan Ray Kroc mendapatkan properti tersebut secara gratis.

Akhir-akhir ini banyak buku dan seminar yang membahas tentang properti dengan judul yang sangat bombastis, seperti Bagaimana Membeli Properti Tanpa Uang, Malah Dapat Uang. Inti dari teknik ini adalah mencari properti seperti tempat indekos, ruko atau apartemen yang memiliki hasil sewa (yield) dengan harga di bawah harga pasar.

Sebelum membeli, tanyakan terlebih dulu harga properti tersebut pada ahli apraisal atau penaksir harga standar properti. Bila diketahui harganya lebih tinggi dari harga yang ditawarkan si penjual, kita bisa segera mengajukan pinjaman ke beberapa bank.

Jika ada salah satu bank yang setuju, maka kita akan menerima kredit lebih besar dari harga rumah yang ditawarkan oleh pemiliknya. Bayarkan uang pinjaman tersebut ke pemilik properti dan sisanya merupakan komisi buat Anda. Lalu, cicilan per bulan ke bank bisa dibayar dari hasil sewa properti tersebut.

Nah, untuk menemukan “emas” tadi (properti yang dijual di bawah harga pasar), kita bisa mencari informasi dari para broker properti. Merekalah yang paling tahu kondisi lapangan. Tak heran bila di kemudian hari mereka memutuskan untuk “pindah profesi” menjadi investor properti. aziz fahmi hidayat/dari berbagai sumber

About The Author

Related posts