Ajang Pembuktian Si Bungsu

Dody Jr. Woerjardjo
Di balik pembawaannya yang kalem, ia menyimpan hasrat ingin “memagari” setiap kampus dan sekolah ternama di seluruh Indonesia dengan bisnis properti miliknya.

Lonely,
I’m Mr. Lonely,
I have nobody,
For my own…

Property-In.co – Penggalan lirik lagu Akon berjudul “Mr. Lonely” ini tampaknya bisa mewakili perasaan Dody Jr. Woerjardjo (37) ketika dia diusir dari rumah oleh sang ayah—hanya lantaran mobil kesayangan ayahnya terkena lemparan batu tawuran di Menteng 20 tahun silam.

Atau saat ia harus mencari uang sendiri dengan mengantarkan pesanan parsel teman ke sejumlah rumah pelanggan. Maklum, begitu diusir, berhenti pulalah uang jajannya. Pengalaman-pengalaman tersebut, ungkap Dody, membentuk karakter tangguh dan bertanggung jawab dalam dirinya.

Saat kejadian itu berlangsung, sebenarnya darah muda Dody bergejolak. Namun, apa daya ia sama sekali tidak berani membantah, apalagi melawan “titah” sang ayah. Sebagai anak terakhir dari empat bersaudara, Dody kadang merasa perlakuan yang ia terima berbeda dibanding ketiga kakaknya. Tidak seperti anak bungsu yang umumnya selalu dimanja, tumpahan kasih sayang orangtua justru jarang ia terima. Dody kecil sampai remaja adalah anak yang menurutnya bahkan tidak terlalu “kenal” siapa Ayah nya.

Akibat pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan itu, Dody terbiasa mandiri serta selalu berpikir positif bahwa pasti ada maksud dan tujuan yang hendak diajarkan orang tuanya—kendati dengan cara-cara tidak populer seperti itu. Yang dilakukan Dody kemudian adalah selalu menuntut dirinya sendiri mencari hikmah dari apa yang ia alami. “Saya baru sadar sekarang, apa yang ayah lakukan adalah cara beliau mengajarkan tentang tanggung jawab,” kenang pria kelahiran tahun 1977 ini.

Mulailah Dody mencari jalan untuk membuktikan dirinya mampu menjadi seseorang yang tangguh, mandiri, bertanggung jawab dan bisa diandalkan—meski ia paham betul jalan terjal pasti ditemuinya. Selepas menamatkan kuliahnya di Trisakti pada 2004, penggemar olahraga off road ini fokus menceburkan dirinya untuk bersinggungan dengan dunia bisnis yang sejatinya sudah ia geluti sejak masa SMA dulu.

Mengenal Bisnis
Bisnis pertama yang ia lakukan adalah menjadi pengantar parsel, ini usaha bersama dengan teman sekolahnya di SMA. Selepas itu, ketika duduk di bangku kuliah, Dody menajamkan insting bisnis yang ia jalankan bersama pacarnya, yakni sebagai pedagang donat. Usaha donat itu terbilang sukses. Dari hanya satu loyang yang mereka titipkan di warung meningkat hingga 50 loyang yang ia sebar di sejumlah sekolah, toko, dan kantin.

Sayang, bisnis yang menurutnya saat itu sudah besar harus kandas di tengah jalan gara-gara hubungan Dody dengan sang pacar berakhir. “Lucu sebenarnya kalau mengingat itu. Kami putus, putus juga bisnisnya… hahaha,” ujarnya sembari tertawa.

Namun, tak ingin larut dalam kegalauan, Dody— yang sempat diomeli sang ayah karena kuliah di Trisakti dan tidak mengikuti jejak ayahnya kuliah di ITB—menjajal bisnis lain yang kembali ia jalani bersama temannya. Sebelum terjun ke dunia properti, ada dua bisnis besar yang sempat ia lakoni: bisnis konveksi dan trader pertambangan di Banjarmasin. Tapi seperti bisnis-bisnis sebelumnya, kisah Dody di bisnis konveksi dan pertambangan tak berumur panjang.

Dody-Jr.-Woerjardjo_1Ketertarikan Dody akhirnya bergeser ke properti setelah ia diminta ayahnya turut berpartisipasi dalam investasi kondotel. Ayah Dody, pensiunan salah satu perusahaan BUMN, berinvestasi kondotel di Bali.

Ketika itu kondotel sang ayah baru satu unit, lalu bertambah sampai empat unit berkat tangan dingin Dody. Awalnya ia ikut menanamkan uang dari sisa-sisa bisnis pertambangan dengan membeli satu unit pada 2004. Karena nilai sewa orang asing di kondotel miliknya cukup tinggi, ia kemudian mampu menambah dua unit lagi.

Dari situlah Dody melihat prospek bisnis properti sangat menjanjikan dan memberikan keuntungan yang menggiurkan. Tertantang untuk mengecap manisnya bisnis properti, akhirnya Dody mulai berinvestasi ke rumah tapak.

Standar yang ia patok untuk rumah yang bakal diinvestasikan cukup tinggi. Rata-rata rumah yang ia miliki berukuran 300-600 meter persegi (m2). Hingga kini rumah yang ia investasikan total sejumlah 10 unit dan tersebar di kawasan-kawasan premium seperti di Jalan. Asia Afrika, Senayan; Jalan Mendawai, Blok M; Tanjung Barat; Kemang Pratama, Bekasi; Bandung dan Surabaya.

Selain rumah-rumah tersebut, aset properti Dody lainnya berupa tanah di kawasan Sawangan Depok seluas 500 m2. Rencananya tanah itu akan dibangun Town House dengan menggandeng developer yang tertarik bekerja sama. Investasi yang ia gelontorkan untuk rumah dan tanah tersebut ujarnya lumayan besar. Namun, ia memastikan modal yang dikeluarkan itu memberikannya keuntungan yang fantastis pula.

Keuntungan yang ia dapatkan dari aset tersebut adalah dengan menyewakan kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Namun Dody enggan merinci berapa nilai yang ia peroleh dari hasil penyewaan tersebut. “Yang jelas hasilnya lumayan untuk diputar kembali, seperti untuk mendesain propertinya atau investasi lagi di wilayah lain,” katanya. Disinggung apakah tertarik menjual propertinya tersebut, Dody mempersilakan selama harga yang ditawarkan masuk hitungan.

Mimpi Besar
Dody mengaku masih akan terus bermain di properti. Menurutnya, properti memberikan efek candu yang mampu mendatangkan keuntungan berlipat dan cenderung aman dari risiko berlebihan. “Sekalipun inflasi naik, properti justru ikut naik dan tidak tergerus labilnya perekonomian.”

Sebagai investor properti, Dody  masih punya mimpi yang ingin dikejarnya.  Ia ingin sekali membangun properti jenis kost-kostan berkonsep mewah, terdiri dari beberapa lantai dan memiliki fasilitas istimewa, di kawasan dekat kampus atau sekolah ternama di Indonesia. “Obsesi saya tidak tinggi-tinggi. Saya hanya inginpunya usaha kost-kostan mewah di dekat sekolah dan kampus ternama,” ujarnya.

Di seluruh Indonesia? “Kenapa tidak?,” jawabnya seraya tersenyum.

Dody kini merasa apa yang ia lakukan setidaknya membuktikan apa yang ia ucapkan dulu: “Apa pun profesi yang dijalani, selama berprinsip pada rasa tanggung jawab tinggi, akan memberikan dampak positif bagi pelakunya.”

Ia sangat berterima kasih kepada sang ayah yang telah mengajarkannya banyak hal, terutama bagaimana menjadi pribadi tangguh, bertanggung jawab, dan mandiri.  Ia juga mengagumi Presiden Soekarno, yang di matanya merupakan sosok hebat karena di zaman keterbatasan saat itu mampu menyatukan Indonesia. “Kedua orang itulah yang menginspirasi serta menjadi tokoh panutan saya,” tutur pengoleksi 18 mobil klasik ini. Aziz Fahmi Hidayat

About The Author

Related posts