Harga Properti Melejit, Investor Ngibrit

Property-In.co – Taiwan dengan semua pesonanya ternyata menyimpan beberapa alasan mengapa Anda sebagai investor asing sebaiknya tidak memasukinya. Selain lantaran tingkat suku bunga yang tidak kompetitif, juga karena pengenaan pajak 100% untuk barang mewah yang dimiliki warga negara asing.

Biaya hidup, tempat tinggal, pendidikan, makanan, tempat wisata dan hiburan yang mahal membuat iklim investasi kurang kondusif.

Arus modal yang spekulatif, ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan serta terlalu tingginya ekspektasi pasar menyebabkan harga hunian di Taiwan menjadi sangat tidak realistis.

Dengan pendapatan rata-rata per bulan sekitar TWD50.000, karyawan tidak memiliki kemungkinan untuk membeli hunian terkecil sekalipun karena hunian dengan luas 3×4 meter persegi saja sudah berharga di atas TWD10 juta. Dengan kata lain, andaikata seorang karyawan mau mengambil kredit kepemilikan rumah, rumah kecil mereka baru akan lunas dalam 27 tahun—dengan suku bunga fixed dan asumsi cicilan sebesar TWD 30.000 per bulannya.

Taipei memiliki harga rumah rata-rata TWD686.000 (sekitar US$22.650) per ping—unit pengukuran sesuai adat tradisional di Taiwan yang setara dengan 3,306 meter persegi. Hal ini menandakan bahwa untuk memiliki rumah tipe 36 di Taiwan, Anda harus merogoh kocek sebesar TWD122.467.464 atau sekitar 21 miliar rupiah!

Harga properti di pinggiran kota Taipei memang lebih murah, tapi tetap saja tidak masuk akal. Buktinya, harga hunian di Taoyuan dan Taichung mencapai TWD200.000 (US$6.666) per ping atau 114 juta rupiah per meter persegi.

Menurut Bank of America, harga rumah di Taipei telah meningkat 91,6% sejak kuartal keempat 2008 sampai kuartal pertama 2014. Harga hunian per meter persegi di Taiwan bahkan jauh melebihi harga hunian yang sama di Amerika Serikat.

Pemerintah tidak tinggal diam, mereka memberikan empat solusi untuk menurunkan harga perumahan sebesar 30% dalam dua tahun, yakni: memperluas ruang lingkup pelaksanaan pajak barang mewah, meningkatkan pajak real estate, memaksakan pajak yang lebih berat pada penyewa perumahan, dan mempercepat kemajuan aktivasi lahan publik.

Pemerintah juga membedakan jumlah loan-to-value bagi masyarakat yang membeli rumah pertama mereka (70%) dengan investor yang membeli rumah kedua sekadar untuk investasi (60%). Selain itu, jika rumah tidak ditempati dan dijual dalam jangka waktu satu tahun, pemilik rumah bakal dikenakan pajak penjualan sebanyak 15%. Namun jika dijual setelah dua tahun, pajak diturunkan menjadi 10%.

Melalui mekanisme ini, pemerintah berhasil menurunkan jumlah penjualan perumahan di Taipei sebesar 18,9% year-on-year hingga menjadi 3.220 unit. Penjualan properti di New Taipei City turun 22,8% dari tahun lalu menjadi 6.004 unit dan transaksi properti Kaohsiung turun 22,9%.

Transaksi perumahan Taichung turun 21,7% year-on-year ke 3.963 unit. Penjualan residensial Tainan turun 17,4% dari tahun lalu menjadi 1,914 unit. Walau demikian, harga hunian di Taiwan masih jauh berada di atas awan, sulit dijangkau dan membuat investor gerah untuk segera hengkang dari sana. Tatit Kurniasih/dari berbagai sumber  

About The Author

Related posts