Menanti Sunrise di Kota Beruang Madu

Kekuatan sumber daya alam Balikpapan berimbas pada meningkatnya kebutuhan hunian berkelas untuk tenaga kerja asing. Siap-siap, pertanda sunrise semakin dekat! 

Sunrise-or-sunset-property
Edisi 03/I/Maret2015

Property-In.co – Setelah sekian lama terkonsentrasi pada perkembangan properti di Pulau Jawa saja, sejak dua tahun terakhir ini para pengembang properti besar mulai melirik pesona kota-kota lain di luar Jawa. Balikpapan, Makassar, Manado, dan Palembang menjadi incaran karena perdagangan dan bisnis di sana senantiasa berkembang.

Bahkan, sejumlah kalangan menilai Balikpapan dan Manado merupakan dua kota paling potensial dibanding lainnya.

Indikasinya mudah dilihat. Ambil contoh Manado. Pada 2013 Lippo Group menggelontorkan investasi hingga Rp1,8 triliun untuk pembangunan superblok mewah di sana.

Pengembang besar ini bersaing dengan investor asing yang juga berinvestasi sebesar Rp1,3 triliun. Pada tahun yang sama, harga properti di Manado meningkat pesat dan membawanya menjadi kota kedua dengan harga properti termahal setelah Jakarta.

Serupa dengan Manado, pertumbuhan properti di Balikpapan juga kian “seksi” dengan meningkatnya permintaan hunian dari kaum ekspatriat. Karan Khetan, Managing Director Lamudi Indonesia, melihat perkembangan properti Balikpapan menunjukkan tren positif. Ini terjadi  karena okupansi di sana kini didominasi oleh kalangan pekerja asing. Maklum, perusahaan-perusahaan tambang dan migas memang banyak  mempekerjakan profesional mancanegara.

Industri pertambangan yang berkembang pesat, terutama sektor gas dan batu bara, mendatangkan banyak investor asing di kota itu. Faktor tersebut mendorong beberapa pengembang besar memanfaatkan ceruk ini dengan menyediakan luxury living bagi para ekspatriat.

Sebut saja Agung Podomoro yang menghabiskan dana hingga Rp210 miliar untuk pembangunan Plaza Balikpapan pada 2012. Ada juga MGM Land yang mengeluarkan dana sebesar Rp500 miliar untuk mengakuisisi lahan demi pengembangan CBD (central business district) Balikpapan.Jardin 8

Nilai properti di Balikpapan diprediksi bakal terus meningkat seiring dengan pembangunan infrastruktur yang dijalankan pemerintah. Masyarakat Jakarta juga diprediksi akan mulai meliriknya sebagai kota untuk membenamkan investasi properti.

Saat ini Balikpapan tengah bertransformasi menuju kota metropolitan. Kota terbesar setelah Samarinda di Kalimantan Timur itu dianggap punya potensi besar menjadi metropolitan baru yang sangat berpengaruh.

Kota seluas 503,3 kilometer persegi ini memang sedang berada di titik awal perkembangan yang diyakini akan booming pada 2018. Tanda-tanda yang menunjukkan itu bisa terlihat dari hasil Survei Harga Properti Residensial yang belum lama ini dirilis oleh Bank Indonesia.

Dalam hasil survei itu, Balikpapan tercatat sebagai wilayah yang mengalami kenaikan harga tertinggi (4,49%) terutama untuk rumah tipe menengah. Tentunya hal tersebut diukur berdasarkan volume transaksi kaum ekspat yang memang mengincar rumah berstandar tinggi, baik dari kualitas maupun harganya.

Keistimewaan Balikpapan lainnya sebagai kota berkembang—dibandingkan dengan Samarinda, kota pertama di Kalimantan Timur—terletak pada model rancangan kotanya. Samarinda yang merupakan ibukota dirancang sebagai pusat pemerintahan, pusat administrasi, dan pusat konservasi dengan basis ekonomi pada industri pariwisata.

Sementara Balikpapan yang terkonsentrasi pada sumbangan industri pertambangannya diyakini bisa menjadi garapan pemerintah dengan cara mengakomodir kebutuhan hunian para pekerjanya, salah satunya melalui pembangunan properti.

Tidak bisa dimungkiri, kontribusi sektor pertambangan di Balikpapan selama ini cukup besar sehingga mampu membentuk basis ekonomi yang kuat dan ikut menyeret pertumbuhan demand terhadap hunian, shopping centre, entertainment serta properti ritel bagi karyawan perusahaan nasional atau multinasional maupun masyarakat di daerah itu sendiri. Di sana sejumlah properti baru terus bermunculan dengan ragam konsep yang menjanjikan.

Balikpapan-City-Center
Balikpapan-City Center

Rata-rata properti yang dikembangkan mengusung konsep superblok seperti Balikpapan Superblock (BSB), Borneo Bay, City Centre Residence, CBD Balikpapan, dan Jardin 8 yang digarap oleh AJP Group.

Lonjakan investasi yang terjadi di Balikpapan juga terbilang fantastis dan cepat. Saat ini harga satu meter persegi apartemen mencapai Rp18 juta.

Infrastruktur yang dibangun guna menunjang aktivitas masyarakat—antara lain pusat kegiatan ekonomi, Kawasan Industri Kariangau (KIK), pelabuhan laut, dan Bandara Internasional Sepinggan baru dengan kapasitas 10 juta penumpang per tahun—menjadi salah satu pemicu kenaikan itu.

Kota beruang madu ini sekarang kian semarak dan memikat bagi para investor. Predikat kawasan sunrise memang pantas disandangnya. Demography inflow besar, yang menjadi syarat untuk kawasan sunrise, terdapat di sana. Maka, wajar saja bila Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi mengatakan bahwa sektor properti berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Balikpapan yang mencapai 9,03% pada 2013. Jadi, bersiaplah menyambut matahari terbit. Aziz Fahmi Hidayat

About The Author

Related posts