Digital Marketing, Sudah Saatnya?

HANDI IRAWAN D Chairman Frontier Consulting Group Twitter: @handiirawanD
HANDI IRAWAN D
Chairman Frontier Consulting Group
Twitter: @handiirawanD

“Digital marketing tidak akan memainkan peranan yang penting di industri properti. Alasannya sederhana, karena pengembang tidak mungkin mengantar produk properti ke rumah pelanggan seperti produk elektronik atau fesyen.”

Pengembang tidak mungkin mengantar produk properti ke rumah pelanggan seperti produk elektronik atau fesyen.” Pernyataan ini sering dilontarkan oleh para pengembang saat ditanya apakah revolusi digital marketing akan mengubah cara mereka untuk memasarkan produk-produk properti.

Sepintas memang terlihat benarnya. Di era digital ini, kita melihat ledakan e-commerce. Semua ritel, sudah mulai waswas dengan lonjakan penjualan yang dialami oleh perusahaan-perusahaan e-commerce. Mereka melihat bagaimana Lazada

, Zalora, Tokopedia, Bukalapak, Blibli, Bhinneka, Elevenia dan sederet perusahaan e-commerce lainnya semakin digemari konsumen.

Produk yang paling banyak diminati oleh para pembeli e-commerce adalah produk-produk seperti fesyen, elektronik, kuliner, buku atau personal care. Di Indonesia, tidak ada situs properti yang masuk dalam dereten 100 top situs yang paling banyak diakses oleh pengguna internet menurut catatan Alexa.com.

Memang untuk produk properti, baik residensial maupun komersial, pembeli dan penjual harus bertemu secara fisik. Pembeli juga perlu melihat secara fisik, rumah, ruko atau kantor yang ingin mereka sewa dan terutama bila mereka ingin membeli. Transaksi dan penyelesaian pembayarannya pun membutuhkan proses yang kompleks dan melibatkan pihak ketiga. Walaupun demikian, tentunya sangat salah bila mengatakan bahwa digital marketing tidak akan mengubah strategi pemasaran dan pembentukan merek perusahaan properti.

Di Inggris, misalnya. Negara, yang industri propertinya sudah sangat maju dan juga digital marketing-nya termasuk paling canggih di dunia, ini telah menunjukkan peran besar digital marketing di industri properti. Pada 2015, diperkirakan, bujet pemasaran untuk digital marketing-nya mencapai 40%. Dengan demikian, alokasi bujet untuk media konvensional terutama media cetak, berkisar 60%. Di Indonesia, bujet untuk digital marketing di industri properti, saya perkirakan sekitar 3-4% saja tetapi angkanya akan naik cepat pada tahun-tahun mendatang.

Rumah.com dan Rumah123.com merupakan situs yang selama dua tahun terakhir ini terlihat mengalami kenaikan pesat jumlah pengunjung. Keduanya memuat banyak listing rumah atau produk properti lainnya yang dijual. Selain kedua situs ini, masih ada beberapa situs lain seperti Premhouse.com yang lebih fokus untuk menawarkan sewa-menyewa apartemen dan rumah untuk golongan menengah-atas.

Memang, situs-situs ini bisa dikatakan hanya menyediakan informasi dan presentasi, bagian awal dari proses pemasaran. Di masa mendatang, sangatlah mungkin sebagian proses negosiasi, pembuatan perjanjian, dan pembayaran bisa diambil perannya oleh internet. Enter-Cart

Digital marketing memiliki peran yang besar di industri properti sebagai media untuk komunikasi. Apa saja yang harus diperhatikan? Kalau untuk pengembang, yang pertama adalah website. Inilah media yang efektif untuk membangun merek dan sekaligus sebagai media penjualan.

Salah satu kuncinya adalah konten yang menarik sehingga menghasilkan trafik pengunjung yang baik. Demikian pula, website ini harus dikelola dan dimonitor serius. Memang, kenyataannya, banyak website properti di Indonesia yang masih sangat jauh kualitas konten, navigasi, kualitas video dan belum efektifnya upaya mereka mengintegrasikan dengan media dan aktivitas pemasaran lainnya.

Media sosial akan memainkan peran penting untuk menyebarkan informasi, meningkatkan popularitas, membantu meningkatkan trafik website dan juga untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan. Pengembang dan agen properti perlu lebih serius menangani media sosial. Industri properti di Indonesia relatif sangat tertinggal dalam menggunakan media sosial untuk mendukung pemasaran dan membangun kekuatan merek.

Teknologi GPS, augmented realty, dan teknologi yang berhubungan dengan location base service (LBS) akan menjadi teknologi yang penting dalam industri properti di masa mendatang. Bahkan, untuk agen properti, kedua teknologi ini akan menjadi teknologi dasar untuk memasarkan produk-produk properti mereka.

Lalu, apa yang membuat digital marketing di industri properti relatif lambat di Indonesia? Bahkan, juga lebih lambat perkembangannya dibandingkan dengan industri lainnya? Yang pertama tentunya karena dari sisi kesiapan pasar, terutama para pembeli.

Segmen terbesar untuk industri properti adalah mereka yang sudah dewasa atau bahkan sudah berusia di atas 50 tahun. Mereka merupakan segmen yang relatif lambat dalam mengadopsi teknologi digital. Penetrasi digital Indonesia, terutama media soasial, relatif berusia muda. Mereka belum memiliki daya beli yang cukup.

Tidak mengherankan, digital marketing akan berperan besar bila kelompok usia tua ini bisa diedukasi atau kelompok muda ini semakin memiliki daya beli. Semuanya ini, hanya masalah waktu saja. Digital marketing bakal memainkan peran yang semakin penting.

Yang kedua, tentunya para pemain properti sendiri belum menunjukkan komitmen kuat untuk mengembangkan digital marketing demi meningkatkan penjualan dan membangun merek. Diperlukan contoh-contoh yang semakin banyak, bagaimana perusahaan properti sukses berkat peran digital marketing.

Mayoritas perusahaan biasanya enggan menjadi trend setter, tetapi cenderung mengikuti kisah sukses dari satu atau dua pemain di industri. Pusat perbelanjaan, yang sudah relatif maju dalam penggunaan digital marketing, bisa menjadi studi kasus yang menginspirasi para pengembang properti Indonesia di tahun-tahun mendatang. Property-In.co

About The Author

Related posts