Dengan atau Tanpa Broker?

Kita sering kali merasa kesulitan dalam menjual atau membeli properti. Bila itu terjadi, mungkin kita memerlukan sosok penghubung yang mumpuni dalam bidang itu

Property-In.co – Belum lama ini Sidik mentraktir teman-teman kantornya makan siang di restoran favorit dekat tempat kerja mereka. Padahal, kalau melirik kalender, sebenarnya hari itu belum gajian dan masih tanggal tua. Biasanya pada tanggal-tanggal kritis itu, Sidiklah yang justru kerap minta ditraktir.   Lantas, ada apa gerangan?

Usut punya usut, ternyata Sidik baru saja berhasil menjual rumahnya yang sudah hampir setahun sejak dipasang plang “dijual” belum laku-laku  juga. Tak heran bila ia kini tersenyum sumringah karena bisa segera membeli rumah incarannya dengan uang hasil penjualan rumah terdahulunya.

Proses yang lama dialami Sidik memasarkan rumahnya bukan lantaran ia kurang berusaha ataupun ninil calon pembeli yang tertarik. Tapi Sidiq mengakui bahwa ternyata menjual sendiri itu lebih sulit. ”Itu yang tidak bisa saya lakukan di tengah-tengah rutinitas pekerjaan,” kata profesional di sebuah perusahaan advertising terkenal ini.

Karena itulah, ia kemudian mengikuti saran sahabatnya yang menganjurkannya memakai jasa seorang broker properti. Sidik akhirnya meminta tolong sang broker untuk membantu menjual rumahnya yang sudah hampir setahun tak kunjung laku. Hasilnya? Hanya dalam kurun waktu kurang dari sebulan, rumahnya sudah berpindah tangan ke salah satu target sang broker. Sidik lega, broker senang, dan si pembeli pun bisa menikmati rumah barunya.

Menyimak cerita tadi Sidik, mungkin di benak kita timbul pertanyaan: mengapa bisa sampai selama itu proses yang dibutuhkan untuk menjual rumah jika ditangani sendiri? Mungkin kita bisa menuding Sidik tidak serius dalam memasarkan rumahnya.

Padahal saat ini sudah banyak fasilitas yang membantu konsumen dalam menjual propertinya.  Sebut saja media internet dengan beragam situs yang menawarkan bantuan penjualan rumah dengan me-listing di beranda web-nya atau kolom forum. Atau bisa pula menggunakan metode lawas seperti “word of mouth”, cara yang dinilai banyak orang masih cukup ampuh dan berdampak besar.

Nah, apa pun asumsi orang, jelas langkah Sidiq menggandeng seorang broker untuk memudahkan penjualan rumahnya itu cukup tepat dan akurat. Dalam keseharian, ada banyak sebutan untuk broker. Calo, makelar, pialang atau bahkan cengkau—istilah yang hanya dikenal di beberapa wilayah saja. Dari sekian nama tersebut, fungsi dan tugas pokok mereka pada prinsipnya sama, yaitu menjadi jembatan antara kebutuhan pedagang dan pembeli. Shirt-Broker

Namun, khusus untuk broker, mereka bukanlah sekaedar calo yang menjual barang dagangan yang dititipkan kepadanya. Lebih dari itu, seorang broker juga biasanya memiliki kompetensi ilmu, komitmen serta profesionalisme yang cukup tinggi dalam menawarkan dan menjual produk atau jasanya tersebut.

Keberadaan broker bisa dijumpai di beberapa lahan bisnis. Seperti percetakan, saham, dan properti. Secara garis besar mereka bekerja dalam satu fungsi, yaitu menjadi perantara. Broker memperoleh balas jasa dari layanan yang ia berikan kepada investor ataupun pembeli. Besaran balas jasa yang diterima pun sesungguhnya tergantung dari kualitas layanan yang ia berikan.

Properti bisa diterjemahkan sebagai kepemilikan hak atas tanah dan bangunan yang dipunyai oleh seseorang atau pengembang dengan bukti sebidang kavling tanah atau bangunan yang berada di atasnya beserta surat-surat kepemilikan legal yang menyertainya. Nah, seorang broker properti—dengan sistem dan cara kerja yang dipelajarinya dari pengalaman kerja di lapangan—lazimnya memiliki relasi cukup banyak dan taktik strategi pemasaran yang cukup jitu dalam menjualan properti dagangannya.

Jadi, broker properti adalah jasa di bidang properti dalam hal jual-beli, sewa-menyewa, dan lelang properti yang dimiliki dan dikuasai oleh pemilik (vendor) kepada marketing (broker) dengan kesepakatan harga jual dan sewa. Besarnya komisi (fee) dan waktu yang diberikan ditentukan bersama.

Terkait besaran fee bagi broker, aturan itu tertuang dalam peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 33/M-DAG/PER/8/2008 tentang Perusahaan Perantara Perdagangan Properti yang menetapkan besaran komisi untuk broker properti minimal 2% dari nilai transaksi.

Dalam proses deal transaksi jual-beli sewa rumah, tanah, dan properti lainnya, broker properti bersertifikat (bukan broker tradisional) biasanya menetapkan standar komisi yang pasti, yakni:

a.    Komisi 3% untuk harga jual lebih kecil atau sama dengan 1M
b.    Komisi 2,5% untuk harga jual lebih besar dari 1M hingga 3M
c.    Komisi 2% untuk harga jual lebih besar dari 3M
d.    Untuk komisi sewa dan kontrak: yakni 5%

Di bisnis properti, seorang broker memiliki peran untuk menegosiasikan penjualan properti antara penjual dan pembeli dengan imbalan komisi tertentu. Sebagai broker profesional, dia harus bertindak bagi kepentingan penjual dan pembeli—bukan untuk dirinya sendiri.

Selain itu, dia juga harus bisa menjadi problem solver, mencari solusi bila ada ketidaksesuaian antara penjual dan pembeli dengan pendekatan win-win solution. Makanya, jangan heran jika upaya Sidik tidak bisa berjalan mulus tanpa “sentuhan midas” seorang broker. Mau mencoba?. aziz fahmi hidayat