Properti Menggeliat di Tahun 2015

Property-in.co – Pasar kondominium, ritel dan perkantoran—baik di area  Central Business District (CBD) dan non-CBD—memiliki kesempatan berkembang bagus pada 2015. Hal apa saja yang mendasarinya?

Pertumbuhan property selama tahun 2014
Berdasarkan hasil survei Jones Lang LaSalle (JLL) tahun 2014, subsektor perkantoran di Jakarta mengalami fluktuasi dengan tren yang terlihat menurun. Namun, masih ditopang dengan pertumbuhan tingkat hunian sebesar 94%, yang diperkirakan meningkat sepanjang 2014. Anton Sitorus, yang saat wawancara masih menjabat Head of Research JLL (kini pindah ke Savills PCI), menyatakan bahwa permintaan ruang kantor untuk area CBD dan non-CBD pada 2014 berpotensi melebihi 380.000 meter persegi. Hal ini didorong oleh fakta penyerapan bersih di ruang  kantor kawasan CBD.

“Di kawasan segitiga emas (CBD), penyerapan ruang kantor selama triwulan III naik 1,5% sehingga total penyerapan sejak Januari sampai September mencapai sekitar 51.000 meter persegi,” kata Anton. Walaupun terjadi penurunan permintaan, tingkat hunian perkantoran CBD masih berada di atas 90%. Harga sewa rata-rata pun tidak mengalami perubahan yang signifikan, hanya naik sekitar 1,7%.

Imbas dari terbatasnya perkantoran CBD berdampak pada pergeseran permintaan di masa depan ke wilayah non-CBD grade C. Lembaga tersebut menyatakan properti komersial di area non-CBD Jakarta Selatan mencapai 115.976 meter persegi dan Jakarta Barat 50.600 meter persegi.

Prediksi Anton, kawasan TB Simatupang bakal menguasai 73% pangsa pasar karena memiliki akses yang strategis.

Selain itu, ia memperkirakan ketatnya persaingan antarpusat ritel di wilayah DKI Jakarta pada 2015 karena rata-rata harga sewa di mal tidak mengalami perubahan selama triwulan IV-2014 dibanding triwulan sebelumnya. Tingginya hunian mal juga dipicu oleh pergeseran strata ekonomi dan kenaikan daya beli masyarakat.

Jumlah konsumen di Indonesia bisa mencapai 135 juta orang pada tahun 2030 dengan pendapatan per kapita US$ 6000 per tahun. Meski prospeknya cukup menjanjikan, namun sektor ritel akan menghadapi persaingan ketat yang menyebabkan pengelola mall berkewajiban untuk menambahkan tingkat hunian dan jumlah pengunjung tanpa harus menaikkan harga sewa.

Jakarta-landscape_fajarcoid
Image: fajar.co.id

Hal yang sama juga terjadi di kawasan luar CBD, dimana penyerapan pasar mencapai 78,000m2 dalam triwulan ini dan mendorong tingkat hunian menjadi sekitar 90%. Tarif sewa kantor di luar CBD juga meningkat, koridor TB Simatupang mencatat kenaikan tarif sewa paling tinggi, hampir sama dengan kenaikan di daerah CBD yaitu sebesar Rp. 165,000/sq/mth.

Hingga pada saat ini, tarif sewa rata-rata gedung perkantoran komersial di koridor TB Simatupang kurang-lebih sama dengan tarif sewa gedung kantor berkualitas yang ada di daerah CBD.

Sementara itu, tingkat suku bunga yang rendah dan menjamurnya proyek-proyek baru turut mendorong penjualan kondominium di Jakarta selama triwulan III ini. Penjualan kondominium di pasar primer meningkat secara fantastis.

Tercatat sebanyak 4,900 unit terjual dalam kuartal ketiga, atau meningkat 20% dibanding triwulan sebelumnya. Dengan demikian, penjualan kondominium selama 9 bulan pertama tahun 2014 ini sudah mencapai 12,000 unit.

Agresifitas pengembang juga terlihat dari makin maraknya peluncuran proyek baru belakangan ini. Dalam triwulan III 2014 ini, lebih dari 10 proyek baru diluncurkan di Jakarta, dimana total unitnya mencapai 42,500 unit. Secara kesuluruhan, saat ini ada sekitar 56,000 unit kondominium yg tengah dibangun, dimana sebanyak 78%-nya telah terjual.

Bagaimana nasib sektor properti di tahun 2015? Anton memprediksi bahwa sektor properti akan cerah di bawah pemerintahan Jokowi karena masyarakat dan investor memiliki kepercayaan yang besar kepada kabinet kerja dalam masa pemerintahannya dan karena adanya wacana reformasi di berbagai sektor serta regulasi baru yang diyakini dapat membuat sektor ini menjadi lebih bergairah.

“Pelaku bisnis properti optimistis tahun 2015 mendatang properti akan menjadi sektor strategis yang membawa banyak pengaruh positif terhadap pembangunan ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan presiden baru, Joko Widodo”, tutupnya. Tatit Kurniasih

About The Author

Related posts